Simfoni Hujan

Ada sisa sisa rintik hujan yang sesekali menabuh dinding genteng,
menghasilkan suara phentatonik.

Binatang melata malam bersaut sautan terdengar seperti suara seksofon,
sruling dan terompet yang sedang memainkan alego dengan nada tinggi.


Inilah simfoni malam pedesaan;

Kenangan mulai menyibak gelap.
Menari menelusup kabut dingin.
Mengggigil mencari kekasihnya minta dipeluk.
Tapi, kekasih tak pernah ditemukan.

Simphoni malam terus dimainkan.

Kenangan semakin menggigil kedinginan.
Tak ada kekasih yg menghangatkan.
Lalu diambil lah selimut kegelapan.
Bukan berarti berharap hangat.
Karena memang tak ada.

Mungkin sebagai ganti pasangan
menari selimut gelap bisa setipis slambu pengantin.
Hingga angan bisa menerawang jelas pada kenangan.

Mungkin sedikit lebih buram.
Seperti layar tancap memutar memoar gerilya malam.
Roll filem menipis pertanda habis.
Angan hilang, tak ada lagi yang ditayangkan.
Filem berhenti, segera layar digulung, lalu sepi..

No comments:

Post a Comment