Manusia Tanpa Silsilah (18+)

manusia dapat bercinta
kapan saja, di mana saja
dan semau nafsunya
tak ada batasan-larangan
pamali dan nahi-munkar
katanya, cuma dogma agama


ketika manusia dapat bercinta
kapan saja, di mana saja
: di pelataran rumah mereka
 di tempat tempat parkir
 tempat rekreasi, pasar
 mall dan swalayan
 bahkan lebih gilanya
 manusia bercinta di jalanan
ketika itu
manusia kembali ke asalmula

jika manusia boleh bercinta
kapan saja, di mana saja
dan semau nafsunya
aku tak bisa membayangkan
betapa manusia akan seenak udelnya
 :membuka alat kelamin, serupa
  kera mengelupas kulit-kacang
  gedang dan buah-buahan lain

-di tepi jalanan, mereka menikmati daging buahnya
 mengunyah, menelan, lalu membuang kulitnya -

aku teringat masa kecil dahulu
ayah sering bercerita; manusia anak-cucu Adam
akan tetapi, faktanya mengatakan lain
fakta lebih memihak teori Darwin

ketika manusia bercinta
kapan saja, di mana saja
dan semau nafsunya
diam diam, kera merasa malu
"kami bukan nenek moyang kalian!"
- katanya, menolak mentah mentah

semenjak saat itu
dengan diam diam pula
aku mencari bapa Adam berada
dan aku yakin, bapa Adam lah
satu satunya nenek moyang manusia

di setiap pertigaan, perempatan
dan di sepanjang jalan aku tanyakan
"adakah yang tahu di mana bapa Adam?"
diantara mereka tidak ada yang tahu
karena, setahu mereka
: nenek moyang manusia ialah kera

namun aku teruskan pencarian
sepanjang malam-siang senantiasa berjalan
berkelana menembus hutan pedut
pinggir pinggir laut, semak semak runggut
menelusuri pebukitan-pegunungan berkabut
demi mencari di mana bapa Adam berada

dan aduh, betapa kagetnya aku
ketika sudah kutemukan
tahu tidak, apa jawabnya?
bapa Adam pun enggan mengakui;
 "Dahulu aku menikah. Tidak seperti kalian!"


Kudus, 3/6/2013

No comments:

Post a Comment