Blog Mohammad Mujab

  • Teras
  • Sanggar
  • Geguritan
    • Puisi
    • Novel
    • Cerpen
  • Sastrawan
  • Galeri
    • Foto
    • Portofolio
    • Lukisan
  • Perpustakaan

Dibalik Sepiring Makanan

Tuesday, 7 February 2017

Suatu ketika saya pernah pernah terbesit ketika melihat cara manusia bertahan hidup, "mengapa manusia begitu serakah?" 


Bukan hanya hewan- hewan yang disembelih untuk memenuhi kebutuhan mereka. Fenomena ini, tentunya bagi sebagian orang yang memiiki perasaan kecil hati dan sifat penyayang, mereka pasti merasa kasihan pada hewan-hewan itu dan menyembelihnya adalah hal yang mengerikan. Seorang seniman yang memuliki perasaan halus, Sujiwotejo, pernah berkata memalalui akun twitternya, "Mengerikan adalah melihat cewek-cewek cantik duduk di KFC/McDonald sambil makan burger." kalau tak salah seperti itu tulisnya.

Bagi orang yang memiliki kepakaan hati seperti Sujiwotejo, mereka akan melihat proses panjangnya sebelum makanan siapsaji itu siap dihidangkan di depan cewek-cewek cantik. Gigitan mulut mereka pada sepotong burger tampak seperti kibasan berang tukang jagal pada leher ayam dan sapi: Sama-sama mengerikan. Barjagli (sebuah sekte, pemuja Anoman dalam agama Hindu) melarang pengikutnya untuk mengkonsumsi makanan yang bernyawa. Nyireh. Menjadi vegetarian adalah keharusan.

Tapi hidup menjadi vegetarian tidak lantas menjadikan manusia terbebas dari serakah untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Justru, makanan pokok manusia berasal dari tanaman: gandum, beras, sagu, buah (kurma makanan pokok Hadrami), kentang, sayur mayur (bagi vegetarian). Dan untuk memenuhi kebutuhan itu, membutuhkan lahan yang begitu luas. Berdasarkan catatan sejarah, bangsa Sumeria adalah pembaharu dalam bidang. Mereka membabat hutan secara besar-besaran untuk kemudian mengolah dan menjadikannya lahan pertanian. Teori ini tentunya bukanlah hal yang asing bagi kita yang hidup di zaman modern. Di era kapitalis seperti sekarang ini, di mana budaya konsumtif dijadikan mesin penggerak bagi berputaranya roda perekonomian, kurang dari 200 tahun, kerusakan alam yang diakibatkan begitu dahsyat.

(maaf, terhenti di tengah jalan. Maklum, ayah muda, sibuk ngurus anak. Hehe. Tulisan saya lanjutin.)

Dalam tulisannya yang berjudul "Esai Sebelum Makan", M.Faizi menuturkan; Secara hiperbolis, Elizabeth Royte menulis dalam National Geographic, (Maret, 2016); “Jangan Buang Makananmu”, bahwa limbah makanan yang dibuang orang, jika dikumpulkan dan dijadikan sebuah negara, akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia , setelah Tingkok dan Amerika Serikat. Masih kurang mengerikan? Di seluruh dunia, tulisnya, produksi makanan yang terbuang dalam setahun dapat menghabiskan air sebanyak aliran Sungai Volga, sungai terbesar di Eropa, juga selama setahun.

Penduduk bumi hari ini kurang lebih ada 7 milliar, dengan gaya hidup konsumtif seperti sekarang ini, Sumber Daya Alamnya (SDA) semakin berat menanggung beban. Sebut saja minyak bumi, banyak informasi menyebutkan cadangannya tak sampai 2050 telah habis. Belum lagi soal makanan, sudah berapa ratua ribu hektar hutan di Sumatera, Kalimantan dan lainnya dibakar untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Itu pun belum mencukupi, melihat harga gula di pasaran melambung tinggi (secara nasional diakibatkan kebijakan tidak boleh impor dan berkurangnya pabrik gula swasta) karena pengaruh harga gula dunia disebabkan gagal panen yang terjadi di Brasil sebagai salah satu negara penghasil tebu terbesar satu tahun kemarin. Belum lagi yang lain. Pendeknya ketahanan pangan dunia mulai melemah.

Jujur saja, sebagai santri unyu-unyu yang gemar membaca kajian tasawuf, saya padamulanya bertanya-tanya, "Apakah ini tidak 'isrof' berlebihan?" ketika melihat kenyataan bahwa di acara-acara keagamaan oun, semisal haul, maulid, walimah yang diadakab oleh para kyai dan habaib seringkali tidak jauh beda dengan pesta-pesta abna al-dunya yang menghambur-hamburkan uang.

Sampai suatu ketika terjawab sudah kemusykilan saya itu. Entah di kitab apa, saya lupa, seingat saya imam Ghazali pernah menuturkan bahwa hewan-hewan dan tumbuhan utu diciptakan Allah untuk memenuhi "kebutuhan manusia". Jadi, tidak masalah hewan-hewan dibunuh (baca: sembelih) untuk memenuhi kebutuhan manusia, sesama makhluk yang lebih dimuliakan Allah. Wa laqad karramna Bani Adam. Dengan catatan out-putnya adalah untuk membantu manusia beribadah kepada Allah.

Kebetulan beberapa tahun terakhir ini saya tidak makan daging. Bukan sedang lakon nyireh. Hanya karena faktor kesehatan saja. Semenjak mendengar penjelasan imam Ghazali, kurang lebih maksudnya seperti yang saya tulis di atas, dan membaca sebuah hadis berikut ini: "barangsiapa tidak (mau) menikah dan tidak (mau) makan daging bukanlah dari golonganku." saya jadi berusaha agar suka makan lebih-lebih daging. Fa rubba makhmashatin syarrun min al-tukhami, bukankah begitu kata al-bushiri; terkadang keadaan lapar itu lebih buruk dari pada kenyang.

Yang membedakan dengan budaya konsumtif adalah cara mensyukurinya. Sesuai kaedah, syukur adalah upaya seorang hamba dalam menggunakan "kenikmatan" itu sesuai tujuan diciptakannya. Sedangkan dalam budaya konsumtif hanya sekadar menuruti hasrat dan sebatas life style.

Toh pada dasarnya dunia ini fana. Sementara. Tidak ada ketahanan pangan yang abadi. Yang ada hanya cara mengelola yang baik. Mengolah lahan bahkan dianjurkan oleh nabi. Tentu nabi juga menganjurkan membayarkan 10 % dari hasil tanah yang diolah tanpa pengairan atau 5 % dengan pengairan. Nabi juga mengajari kita cara mengkonsumsinya. Sekadar beberapa suap untuk tegaknya tulang punggung. Atau kalau memang terpaksa menambah, sebaiknya sepertiga lambung untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk udara. Namun jika alam sedang tidak bersahabat, Allah juga telah mengajarkan pada surat Yusuf bagaimana cara mengatasi ketahanan pangan dan menekan inflasi.

Saya jadi berprasangkabaik, bagi kyai dan orang shalih yang menggantungkan hidupnya kepada Allah apa yang mereka lakukan dalam menghidangkan jamuan begitu rupa bukanlah dalam kategori "israf", berlebihan, pun memubazirkan barang, tidak sama sekali.

Mereka yang menggantungkan segala urusan kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai tujuan segala hajatnya tidak akan khawatir dengan isu ketahanan pangan dan isu lingkungan alam. Yang tidak boleh adalah mubazir (konsumtif), dan merusak alam dan lingkungan, bukan konsumsi dan kerusakan alam karena keduanya merupakan kebutuhan dan keniscayaan.

Mereka yang memiliki keyakinan, bahwa Allah al-Qayyum, Allah yang menghidupkan Allah pula mencukupi kebutuhan hidup tidak akan takut lapar. Onta, kambing -kambing ternak perah padang sahara jauh lebih bergizi dibandingkan kambing ternak di padang savana. Jika bukan karena kemurahan Allah yang meruah, melimpahkan mikroba pada lumut-lumut yang menempel pada krikil dan bebatuan padang pasir, lantas siapa lagi. Keajaiban padang pasir yang mengundang keingintahuan peneliti-peneliti eropa. Mikroba lumut jadi makanan. Subhanallah. Jika tiga butir korma setara dengan sepiring nasi penuh laukpauk, jika sebutir kapsul mikroba lumut sahara cukup untuk memenuhi kebetuhan asupan gizi sehari, tentu bukanlah mustahil bagi Allah untuk menciptakan dari seucap tasbih: "Subhana Allah wa alhamdu lillah wa laa ilaaha illa Allah wa Allahu akbar."-- sebuah energi yang cukup untuk 80 hari.

Sayidina Ali pernah ditanya, " Wahai Ali, bagaimana kamu bisa kuat dalam bertarung, padahal kamu sedikit makan dan minum?"

"Sebagaimana yang engkau ketahui," jawab sayyidina Ali, "pohon yang tumbuh di padang pasir terkadang lebih kokoh ketimbang pohon yang tumbuh di rawa-rawa.
Read more ...
Posted by Unknown at 20:21 No comments:
Labels: Esai

Sejarah Madrasah Tarbiatush Shibyan Jekulo

Tuesday, 7 February 2017

Konon, madrasah. Pertamakali di desa Jekulo adalah madrasah yang didirikan oleh mbah kyai.Tayyib (kakak mbah Sanusi). Namun, sejarahnya kabur dan sangat sulit untuk dilacak. Baru pada era cucu beliau, KH.Dahlan bin Yasir, Jekulo secara resmi memiliki madrasah. Sistem pendidikan agama model klasifikasi ini merupakan oleh-oleh yang diadopsi dari madrasah al-Shaulatiyyah oleh kyai.Dahlan sepulangnya dari tanah suci, Makah.

Di Makah sendiri, pada masa sebelum berdirinya al-Shaulatiyyah, anak- anak di sana tidak memiliki sistem pendidikan spesifik. Lazimnya, pendidikan anak-anak di arab pada waktu itu, dilakakukan secara tradisional di toko-toko. Seperti toko kain, toko minyak wangi, toko kurma dlsb. Setiap toko di sana kurang lebib memiliki anak didik sekitar 10 anak.

Entah, model pendidikan tradisional di toko-toko semacam itu sudah berlangsung sejak Makah masih dibawah kekuasaan Ottoman, atau baru ada sejak keluarga al- Saud menguasai Hijaz. Namun, menurut perkiraan saya, model pendidikan seperti itu baru terjadi ketika faham Wahabismd mulai berkuasa. Mengingat peradaban Ottoman yang begitu maju, dan sejarah panjangnya yang hampir brsentuhan langsung dengan masa keemasan pengetahuan Islam, Dinasti Abbasiyyah.

Pada kejayaan Dinasti Abbasiyyah inilah, menurut catatan sejarah, baru pertamakalinya dicetuskan sistem pendidikan agama dengan model klasikal, yaitu dengan didirikannya madrasah Nizhamiyyah, di Baghdad.
Sistem pendidikan model klasifikasi Nizhamiyah pada masa al-Ghazali dan al-Shaulatiyyah pada era al-Fadani seperti itulah yang kemudian diadopsi oleh Kyai Dahlan untuk madrasah yang baru didirikannya dengan nama 'Tarbiyyatu al-Shibyan'.

Madrasah Tarbiyyatu al-Shibyan yang pada mula tujuan didirikanya diperuntukan bagi masyarakat Jekulo dan sekitarnya untuk pendidikan anak-anak mereka, seiring berkembangnya waktu ada juga anak-anak santri dari pondok Mbareng yang belum bisa bacatulis arab ikut belajar. Biasanya, mbah Kyai.Yasin sendiri yang mengantar santri-santri pemula untuk mendaftarkan dan menyerahkan kepada ipar beliau, Kyai Dahlan agar dididik dengan sebaik-sebaiknya.

Madrasah Tarbiyyatu al-shibyan semakin ramai dan berkembang. Banyak anak-anak penduduk setempat dan anak-anak dari desa sekitar yang ikut bersekolah. Sehingga lambat laun dari generasi inilah masyarakat Jekulo tumbuh menjadi masyarakat religi. (setelah sebelumnya berubah menjadi masyarakat kejawen, mulai dari sepeninggalnya mbah Sewonegoro berakhir sampai masa mbah Sanusi).

Namun sayangnya, pada masa penjajahan, madrasah Tarbiyyatu al-Shibyan ditutup secara paksa. (saya belum informasi akurat. Secara tentatifnya, terjadi antara tahun 1943 - 1948. Dai Nipon - Agresi Militer NICA dan sekutu). Oase tempat anak-anak bermain dan belajar hilang sudah. Semenjak saat itulah madrasah Tarbiyyatu al-Shibyan vakum, dan kegiatan belsjar mengajar kyai Dahlan beliau teruskan cuma di Langgar Dawur (musolla, sekarang menjadi pondok Darussalam, pengasub KH.Mujahid Dahlan). Praktis, aktivitas pendidikan Agama hanya di pesantren Mbareng dan Langgar Duwur, dan hanya orang-orang tertentu terbatas saja yang bisa mengikuti.

Tahun berganti tahun kondisi anak-anak Jekulo yang dulunya mendapatkan pendidikan agama semakin memprihatinkan, apalagi ketika berganti generasi seterusnya semakin jauh dan praktis tak tersentuh pendidikan agama. Para kyai muda merasa sedih, di tempat yang merupakan kawasan pesantren tapi masyarakat sekitarnya timpang.

Kyai-Kyai muda itu --diantaranya kyai Mahun Ali, KH Halimi dll-- menemukan solusi, dan akhirnya Timbul semangat, berinsiatif untuk mendirikan madrasah. Untuk itu mereka sowan ke Kyai Muhammad (selaku sesepuh pada waktu itu) guna meminta restu. Namun, oleh kyai Muhammad mereka diperintahkan agar tidak usah mendirikan madrasah baru --mereka dianjurkan menghidupkan kembali madrasah yang dahulu pernah didirikan kyai Dahlan.

Pada akhir 80-an para kyai muda itu membangun kembali madrasah dari sisa -sisa puing rerobohan peninggalan kyai Dahlan dengan nama yang sama: Tarbiyyatu al-Shibyan. Namun, lokasi madrasah dipindah ke Jekulo Kauman bagian utara, di samping Musola peninggalan Kyai Khalil. Tujuannya, supaya lebih dekat dengan masyarakat.

Begitulah kisah singkat madrasah 'Tarbiyyatu al-Shibyan' yang sempat "roboh" dalam rentang waktu cukup lama sebelum akhirnya para kyai dengan susahpayah mendirikannya kembali. Begitu juga masyarakat sekitar yang berkeluhkeringat dalam bekerjabakti bersama, baik tenaga maupun materi.
Sungguh sayang, sungguh malang jika harus terpaksa "roboh" untuk yang keduakalinya karena kebijakan yang samasekali tak bajik dan tak bijak: program Full Day School.

Sebelum mengakhir tulisan ini, saya ingin menulis rekuim. Puisi ratapan untuk madrasahku di masa bocah:

O, Tarbiyyatu al-Shibyan!
Dahulu, kau ditutup paksa oleh penjajah
Kini, nasibmu lebih tragis lagi
Bangsamu sendiri yang merobohkanmu
Haruskah kamu hilang kembali?

Mohmmad Mujab, Jekulo 13 Agustus 2016

Read more ...
Posted by Unknown at 19:48 No comments:
Labels: Esai

Kopyah Merah Mbah Kandar

Tuesday, 7 February 2017

Fez, kopyah atau peci merah, adalah simbol Turkey Utsmani. Sebuah penutup kepala yang dipakai oleh orang-orang utsmany sebagai identitas. Biasanya terbuat dari karpet merah, berbentuk bundar menjulang tinggi. Seperti mahkota keraton Suryakarta Hadiningrat.

Biasanya kopyah merah utsmany dikenakan lengkap dengkap dengan sorban yang melilitnya, kerap digunakan oleh tokoh Islam sebagai identitas dalam perlawanan terhadap barat baik dalam membendung kolonialism dan westerenisasi.

Di Turkey sendiri, ada tokoh seperti badi'uz zaman Said Nursy. Demi mempertahankan identitas ini, beliau berkata kepada militer Attarturk, "Jika kalian ingin melepaskan imamah ini, kalian harus melepaskan juga kepalanya." Betapa, dalam mempertahankan identitas tsb, Said Nursy rela mengorbankan kepalanya sebagai jaminan. Karena kopyah "imamah" adalah "simbol" Islam. jika bukan karena sikap tegas Nursy yang menolak mengganti dengan topi "laken" mungkin tak akan kita temukan lagi Islam di Turkey.

Itulah imejinasi saya, ketika mendapat cerita tentang kyai. Yasin. Saya membayangkan "kopyah merah" yang dikenakannya sama seperti kopyah merah Said Nursy.

Suatu ketika mbah Yasin memarahi putranya. Kyai.Muhammad yang pada waktu itu masih kecil bersembunyi di bawah bangunan pondok ketika melihat tentara belanda datang ke pesantren. Maklum, ketika itu suasana politik sedang gemting-gentingnya. Belanda mencurigai kalau pesantren merupakan basis pemberontakan, termasuk pondok mBareng ini. Melihat kejadian itu mbah Yasin memanggil putranya dan memarahinya, "Jangan takut sama belanda, tak usah bersembunyi..!" Kurang lebih seperti itu kata mbah Yasin.

Setiap kali rakyat akan ikut bergerilya, baik mereka yang bergabung dengan tentara keamanan rakyat (TKR) atau Hizbullah, kebanyakan dari mereka terlebih dahulu meminta "suwuk" kepada mbah Yasin supaya diberi kekebalan dan keselamatan. Seperti yang diceritakan ayah teman saya, dari Selalang, Tanjungrejo. Ketika pasukan rakyat kalah, ayah teman saya itu termasuk orang yang selamat dan kemudian melarikan diri dengan berjalan kaki sampai di daeran parahiyangan Bandung. Karena merasa bersyukur telah selamat dari peperangan berkah doa mbah Yasin, dia memberikan nama "Yasin" kepada anaknya yang lahir dikemudian hari.

Karena keterlibatan mbah Yasin dalam mendukung "pemberontakan", pasukan belanda kemudian mendatangi pesantren dengan bersenjata lengkap. Saat itu. Kyai yasin sedang mengajar santri-santrinya, beliau tidak menghiraukan kedatangan pasukan Belanda, beliau menyuruh para santri untuk meneruskan mengaji. Sikap itu membuat tentara belanda semakin geram dan kemudian memberondongkan peluru kedalam aula tempat mengaji. Menurut narasumber cerita ini (seorang kyai dari undaan murid mbah yasin), beliau termasuk salah santri yang ikut mengaji dan berada dalam pesantren pada saat kejadian. Ketika itu dia tengkurap bersama santri lainnya, dia melihat berondongan peluru-peluru itu menembus gedek dan lalulalang di atas kepala, sedangkan mbah Yasin tetap duduk melanjutkan membaca kitaab di bawah temaram lampu damar tanpa sedikitpun gentar. Kejadian itu terjadi pada malam hari di (sekarang) aula komplek A, depan ndalem kyai Yasin.

Tatkala gaung perlawanan melawan penjajah semakin besar, lebih-lebih ketika belanda membocemg sekutu dapat menguasai negeri ini. Hadrotussyeikh Hasyim asy'ari ulama pertama yang lantang meneriakan "jihad" melawan penjajah ke seantero negeri, sebagian rakyat dan santri dari jawa tengah berbondong-bondong menuju Surabaya untuk ikut bertempur. Namun kebanyakan masih stan bay di daerah masing-masing. Salah satunya kyai Yasin, beliau memilih tetap di Jekulo daripada berangkat ke Surabaya. Bukan karena takut perang, melainkan karena informasi akan adanya suplay pasukan belanda dan sekutu melalui jalur darat. Maka, mbah Yasin memilih menunggu di Jekulo --yang kebetulan terlewati jalur pantura-- untuk berjaga-jaga.

Benar saja informasi tsb. Belanda dan sekutu mengirim tentara mereka melalui jalur darat untuk membantu pasukan laut mereka dari Batavia ke Surabaya.
Bedil- bedil manual tentara TKR dan Hizbullah harus berhadapan dengan senapan mesin dan tank-tank canggih milik Belanda dan sekutu. Pemandangan yang tak seimbang. Karuan saja, mendengar derum mesin dan roda tank yang menggerus aspal saja sudah merinding apalagi ketika iring-iringan pasukan belanda mulai tampak. Melihat itu, pasukan Hizbullah yang semula pemberani menjadi ciut nyalinya. Mereka tiarap dan merangkak bersembunyi di balik apa saja.

Maka datanglah kyai yasin, dengan mengenakan pakaian kebesarannya: kopyah merah lengkap dengan jubah merahnya. Berjalan di Pantura sambil mengomando dan memberikan semangat kepada pasukan Hizbullah yang sedang ketakutan dan semakin mundur dari garis pertahanannya. "Tentara hizbullah tidak boleh takut sama makhluk. Ayo maju!" kata kyai dengan gagah perwira menghadang laju musuh.
Pertempuran pun pecah antara pasukan Hizbullah yang berada di sebelah timur perempatan kerawang dan tentara belanda dari arah baratnya. Karena perlawanan yang begitu gigih dari kyai. Yasin dan hizbullah, suplay pasukan belanda dari batavia tak jadi melewati desa Jekulo. Mereka memilih jalur lain.
_____________
* kisah ini saya susun dari imajinasi saya berdasarkan cerita dari KH.Afif Hanafi dari murid mbah yasin, kyai Yasin muhammad dari ayahnya, ust.yasin selalang dari ayahnya, dan beberapa cerita voklor yang berkembang di masyarakat pada saat saya masih kecil.

*Pada cerita yang terakhir, "kyai yasin menghadang belanda" si perawi tidam menyebutkan tahun peristiwa terjadinya, sehingga saya kebingungan; apakah i perisriwa itu terjadi pada 1945 bertepatan dwngan peristiwa 10 Npvember, atau, bertepatan dengan peristiwa pertempuran Muria (Halte Mbareng Saksi Bisu Pertempuran Muria, penulis Danar Abdullah) pada agresi I dan II tahun 1947 - 48. Namun dalam catatan ini saya menggunakan yang pertama: peristiwa 10 november. Yaitu, ketika suplay pasukan belanda dan inggris untuk membantu pertempuran di Surabaya melalui jalur darat.

*catatan ini sekadar merekam cerita- cerita yang pernah saya dengar, daripada hilang samasekali. Untuk memenuhi standar penulisan sejarah, maka catatan saya ini masih banyak membutuhkan penelitian serius.
Mohammad Mujab, Jekulo 14 Agustus 2016
Read more ...
Posted by Unknown at 19:42 No comments:
Labels: Esai, Mbah Yasin

Bedah Buku Novel "Taman Iram" - Dia Yang Membawa Cintanya Ke Batavia [1]

Wednesday, 22 April 2015
https://www.youtube.com/enhance?v=wQQB6HPiTU4
Read more ...
Posted by Unknown at 10:07 No comments:

Keografi Puisi Kartini: Empati, Simpati, Cinta, Persaudaraan dan Persahabatan

Monday, 20 April 2015
وَ الَّذينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَ الْإيمانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ وَ لا يَجِدُونَ في‏ صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَ يُؤْثِرُونَ عَلى‏ أَنْفُسِهِمْ وَ لَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ وَ مَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

يَاأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّاوَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَاتَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءًفَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ



Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

***

Sebuah moment…
Sebuah momentum seperti malam ini yang terjadi
Di negeriku salju berguguran dalam lamunan
Apakah karena dingin yang tak tertahankan?
“ Entahlah…….. entahlah……. “

                Beberapa gelandangan dengan pakaian lusuh
                Menggigil kedinginan di depan tok oserba ada
                Mereka saling berdesakan, mencari hangat
                Dari diri sendiri

Orang-orang tak peduli, begitu juga aku
Saraf empatiku membeku, dan tak acuh
Kepada betapa dingin yang mereka rasakan

                Lalu……
                Ketika sebuah ban bekas terbakar
                Api menyalurkan panas pada alam sekitar
                Tubuh merekapun menjadi hangat

Aku terdecak,
Tersadar oleh pelajaran yang berharga
Yang tiba-tiba diajarkan alam semesta
Ternyata, benda tak berharga itu
Lebih bermanfa’at ketimbang aku’
; ia lebih tahu makna “Persaudaraan”
Yang sedia terbakar untuk kehangatan orang lain
; ia lebih tahu makna “Persaudaraan”
Yang sedia muksa untuk kelangsungan hidup lainnya

                Tak seperti kata “Persaudaraan”
                Yang telah kehilangan energy, aku berusah membakarnya
                Agar tidak lagi dingin dan beku

Tanpa berpikir panjang
Aku lepas sal dan mantel, dan
Aku lemparkan pada nyala api yang semakin meredup
Agar pengorbanan ban bekas tak sia-sia

Dan semoga saja :
 “Api persaudaraan tetap berkobar menyala-nyala penuh semangat “

Tanpa peduli dingin
Aku pergi bertelanjang dada
Menuju tempat yang lebih mulia
“ Empati, Cinta, dan Persaudaraan “

  ***                                                                                                             

Ibu kita Kartini
Putri yang suci
Putri yang merdeka
Cita-citanya


Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia


***

KEPADA KAWAN-KAWAN KAMI

Apakah gerangan yang menyebabkan manusia,
Sebelumnya tak saling mengenal, sejenak
Saling memandang, lalu berkehendak
Tak akan terpisah selama-lamanya?

                Apakah gerangan yang menharukan hati,
                Waktu mnedengar bunyi suara,
                Tidak pernah didengar sebelumnya,
                Lama bak rekuiem berdesing ditelinga kami?

Apakah gerangan yang membuat jiwa,
Dalam gembira ria melambung tinggi,
Membuat hati hebat berdetak?
Bila sepasang mata, manis
Menatap mata kami
Dan kami terima jabat tangan hangat

                Tahukah kau, samudera biru
                Yang mengombak dari pantai ke pantai ?
                Tahukah kau berkata kepadaku
                Apa dasar keajaiban itu, wahai ?

Katakan kepadaku, angin bersayap cepat,
Dari tempat-tempat jauh kau datang
Apakah gerangan yang tak dipanggil datang
Selama-lamanya mengikat hati kuat-kuat?

                Wahai ! katakan, Surya emas bercahaya-cahya,
                Sumber cahaya dan panas Alam semesta nan Kuasa
                Apa gerangan keajaiban besar itu namanya,
                Yang membuat hati dengan nikmatnya,
                Melembutkan, melupakan duka
                Yang menhampiri kita didunia?

Sinar matahari menembus dedaunan,
Jatuh pada pasang naik gelombang
Menjadi serba berkilauan disekitar, serba terang
Dibawah sinar cahya matahari keemasan
Permainan permai dari cahaya dan warna
Disaksikan mata nan gembira ria
Dan dari dada yang terharu dalam
Membumbung Puji Syukur yang Salam !

                Bukan satu keajaiban, melainkan Tiga !
                Berkilauan diatas indung mutiara yang cair
                Dengan huruf berlian tertulis oleh cahya
                “ Cinta, Persahabatan, Simpati “

Cinta, Persahabatan, Simpati
Riak ombak menggumam menirukan,
Bayu dipepohonan menirukan
Kepada anak manusia yang bertanya,

                Manis, terbelai telinga yang mendengarkan
                Oleh nyanyian gelombang dan angin nan ajaib
                “ Diseluruh Nusantara, bahkan diseluruh Dunia…
                Jiwa yang sama akan berjumpa !”

Jiwa yang sama tak memandang warna
Tak memandang pangkat dan tingkat
Tetapi tangan berjabat
Dalam apapun jua !

                Dan bila jiwa telah berjumpa,
                Tak dilepaskan lagi ikatan
                Yang mengikatnya. Dan dalam hal apa jua
                Meski waktu dan jarak, tetap setia

Suka duka ditanggung bersama
Demikian sepanjang hidup
Duahi ! bahagia nian bertemu dengan jiwa nan sama
Telah tersua harta terkudus

***

 
Ibu kita Kartini
Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya
Karena cintanya


Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia



*Disadur dari Al-Qur'an, Puisi Mohammad Mujab, Puisi R.A.Kartini,
Lagu Ibu Kita Kartini WR.Supratman.
Read more ...
Posted by Unknown at 20:50 No comments:
Labels: (puisi), Puisi
Older Posts Home
View mobile version
Subscribe to: Comments (Atom)

Total Pageviews

Sparkline

Popular Posts

  • Hidrosefalus
    Sesuai janjinya ;  ia pun akhirnya bersedia menerima pinanganku. Seusai pernikahan yang amat sangat sederhana di KUA setempat, keluarga...
  • Sotya Murca Ing Embanan
    www.tate.org.uk  Konon katanya; di negeri mataram kuno terdapat suatu daerah yang dihuni kawanan burung. Daerah tersebut Semacam h...
  • GELIAT ANAK MUDA
    Suatu malam tiba, Seorang bocah berlari tanpa kaki, Berteriak-kan kata, "Aku hidup tanpa Ayah!!" "Aku terlahir tanpa Ib...
  • Cerita Anak Adam
    engkaulah anak manusia bagiku, memahamimu bagai tengah malam  mencari anak semut hitam, menghindar darimu  sesulit menghindar dari s...
  • Petrus Augustus de Génestet
     ( www.dot.dbnl.dot.org) Petrus Augustus de Génestet (PA de Génestet) (Amsterdam, 21 November 1829 - Rozendaal, 2 Juli 1861) ada...
  • Sejarah Madrasah Tarbiatush Shibyan Jekulo
    Konon, madrasah. Pertamakali di desa Jekulo adalah madrasah yang didirikan oleh mbah kyai.Tayyib (kakak mbah Sanusi). Namun, sejarahny...
  • Simfoni Hujan
    Ada sisa sisa rintik hujan yang sesekali menabuh dinding genteng, menghasilkan suara phentatonik. Binatang melata malam bersaut ...
  • Buruh Linting
    Kala tanggung jawab dilimpahkan pada perseroan, seutas tali seperti terlepas dari pengikatnya. Tak ada yang nyata, hanya jeneng jeneng se...
  • Kopyah Merah Mbah Kandar
    Fez, kopyah atau peci merah, adalah simbol Turkey Utsmani. Sebuah penutup kepala yang dipakai oleh orang-orang utsmany sebagai identitas...
  • The Great Day
    Tanggal 6 bulan Juli tentunya bukan tanggal dan bulan populer. Mungkin tidak ada sejarah besar yang terjadi pada tanggal dan bulan t...

Translate

Labels

  • (cerpen)
  • (lirik lagu)
  • (puisi)
  • (tokoh sastra)
  • Artikel
  • Catatan Pendek
  • Cerpen
  • Esai
  • Fabel
  • Foto
  • Kolom
  • Kritik Sastra
  • Lukisan
  • Mbah Yasin
  • Opini
  • Portofolio
  • Puisi
  • Riwayat

Buku Tamu

Powered by Blogger.
Ported to Blogger by Prayag Verma