di saat;
Kepadaku bunga-bunga itu turun dari tempat-tempat tinggi
Yang dengannya aku menjadi luhur nan mulia
Yang dengannya aku tertutup dari hinanya pandangan seseorang
Dialah seorang wanita yang berjalan tanpa cadar
Yang datang kepadaku di saata ku payah
Hingga Aku resah jika harus berpisah dengannya
Dialah seorang wanita yang bersedih hati nan gelisah
Yang baik hati, yang tak akan suka jika aku tak berdiam di sampingnya
Jika Aku tampakkan keramahan pasti dia balas dengan kasih-sayang
Kini ia dirikan tenda,
menjadi tetangga bagi reruntuhan di tempat sunyi nan gersang
Ketika aku bertahayul tentangnya,
Aku jadi lupa akan janji-janji di ranah sana
akan jabatan dan tempat tinggal Abadi
Kini kurasa tiada ketenangan sebab berpisah dengannya
Sampai nanti keelokan dan kecantikannya turun kembali menyapaku
Sebagai-mana geah dan resah menanti hujan di musim kemarau
Karena dirinya rantai yang begitu berat membelenggu leherku
Kemudian aku terbangun berada di antara dunia hayalan
Kudapati diriku telah lanjut usia dan tubuh yang membungkuk
Akupun menangis teringat akan janji-janji di ranah yang dulu
Dengan linangan air-mata yang keringnya membuat hatiku pilu
Jika ia berpaling tali persahatan ini akan terasa berat
Jika ia menghalangi maka akan menjadi sangkar yang mengurug
Yang menghalangi untuk mencapai kemulia`an di tempat luas nan lapang
Dialah seorang wanita yang bernama seperti sekuntum mawar
Apabila ia berjalan niscaya waktu dan masa kan berhenti memperhatikannya
Sampai ia benar-benar menghilang dengan tanpa pandangan
Selaksa kilat yang menyambar kemudian cahayanya menghilang
seakan-akan kilau kecantikannya tak pernah ada dan tak pernah terlihat pandangan mata
*puisi yang kutulis 2008 silam untuk seorang wanita
Kepadaku bunga-bunga itu turun dari tempat-tempat tinggi
Yang dengannya aku menjadi luhur nan mulia
Yang dengannya aku tertutup dari hinanya pandangan seseorang
Dialah seorang wanita yang berjalan tanpa cadar
Yang datang kepadaku di saata ku payah
Hingga Aku resah jika harus berpisah dengannya
Dialah seorang wanita yang bersedih hati nan gelisah
Yang baik hati, yang tak akan suka jika aku tak berdiam di sampingnya
Jika Aku tampakkan keramahan pasti dia balas dengan kasih-sayang
Kini ia dirikan tenda,
menjadi tetangga bagi reruntuhan di tempat sunyi nan gersang
Ketika aku bertahayul tentangnya,
Aku jadi lupa akan janji-janji di ranah sana
akan jabatan dan tempat tinggal Abadi
Kini kurasa tiada ketenangan sebab berpisah dengannya
Sampai nanti keelokan dan kecantikannya turun kembali menyapaku
Sebagai-mana geah dan resah menanti hujan di musim kemarau
Karena dirinya rantai yang begitu berat membelenggu leherku
Kemudian aku terbangun berada di antara dunia hayalan
Kudapati diriku telah lanjut usia dan tubuh yang membungkuk
Akupun menangis teringat akan janji-janji di ranah yang dulu
Dengan linangan air-mata yang keringnya membuat hatiku pilu
Jika ia berpaling tali persahatan ini akan terasa berat
Jika ia menghalangi maka akan menjadi sangkar yang mengurug
Yang menghalangi untuk mencapai kemulia`an di tempat luas nan lapang
Dialah seorang wanita yang bernama seperti sekuntum mawar
Apabila ia berjalan niscaya waktu dan masa kan berhenti memperhatikannya
Sampai ia benar-benar menghilang dengan tanpa pandangan
Selaksa kilat yang menyambar kemudian cahayanya menghilang
seakan-akan kilau kecantikannya tak pernah ada dan tak pernah terlihat pandangan mata
*puisi yang kutulis 2008 silam untuk seorang wanita
No comments:
Post a Comment