Terima Kasih, Kekasih.

Saturday, 8 June 2013
Terima kasih untukmu kekasih - kuucap dengan lisan yang meresap dari sanubari - atas waktu dan kesempatan yang kau luangkan untukku. Masih ingatkah kau, saat seratan pertamaku datang dengan segala kebimbangan dan keputus-asaan,  engkau balas dengan tegas penuh semangat, engkau lerai derai dan engkau padamkan kobaran api dalam hati, engkau bisikan tulisan lembut padaku “aku berharap setelah datangnya surat ini engkau bisa lebih tenang.  Ya… itu harapanku!” kira kira seperti itu yang kau tulis dalam surat singkatmu.

Terimakasih
. Engkau telah menemaniku melewati badai, walupun kedatanganmu sendiri sempat mengguncang jiwaku. Aku sadar, terkadang music melo membawa perasaan menjadi sedih, dan music banjo akan mudah membuat sesorang melompat menari kegirangan. Aku sadar,  jika kebahagiaan dan kesedihan acapkali senantiasa beriringan berkunjung dalam kehidupan kita. Namun sayangnya, kita tidak mampu menahan ekspresi saat keduanya datang; mengeluh saat musibah dan berlebihan saat bahagia.


Aku tak hendak mengganggumu, dan aku juga tak hendak merampas masa depanmu, namun aku tak akan membiarkan kenari yang kudambakan membisu berhenti menari. Kulepaskan engkau untuk terbang, namun tak kubiarkan engkau terlelap hilang bersama malam. Aku suka, jika engkau lebih memilih keluarga dari pada cinta, sebab keluarga jauh lebih berharga dari pada semuanya. Terbanglah untuk mencapai puncak tertinggi yang engkau yakini keberadaannya.
Aku ikhlas. Sebab aku tau, engkau pergi tak hendak lari. Bawalah sedikit rasa sayangmu, dan tolong dengannya engkau do`akan aku.

Jika badai dan bencana ini telah berlalu, dan pohon yang kutanam telah berdiri kembali, jika musim semi telah datang membawa riz
ki dengan meretaskan buah manis pada pohon ini, aku persilakan engkau datang; sekedar berkunjung atau untuk menetap selamanya.

No comments: