Dibalik Sepiring Makanan


Suatu ketika saya pernah pernah terbesit ketika melihat cara manusia bertahan hidup, "mengapa manusia begitu serakah?" 


Bukan hanya hewan- hewan yang disembelih untuk memenuhi kebutuhan mereka. Fenomena ini, tentunya bagi sebagian orang yang memiiki perasaan kecil hati dan sifat penyayang, mereka pasti merasa kasihan pada hewan-hewan itu dan menyembelihnya adalah hal yang mengerikan. Seorang seniman yang memuliki perasaan halus, Sujiwotejo, pernah berkata memalalui akun twitternya, "Mengerikan adalah melihat cewek-cewek cantik duduk di KFC/McDonald sambil makan burger." kalau tak salah seperti itu tulisnya.

Bagi orang yang memiliki kepakaan hati seperti Sujiwotejo, mereka akan melihat proses panjangnya sebelum makanan siapsaji itu siap dihidangkan di depan cewek-cewek cantik. Gigitan mulut mereka pada sepotong burger tampak seperti kibasan berang tukang jagal pada leher ayam dan sapi: Sama-sama mengerikan. Barjagli (sebuah sekte, pemuja Anoman dalam agama Hindu) melarang pengikutnya untuk mengkonsumsi makanan yang bernyawa. Nyireh. Menjadi vegetarian adalah keharusan.

Tapi hidup menjadi vegetarian tidak lantas menjadikan manusia terbebas dari serakah untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Justru, makanan pokok manusia berasal dari tanaman: gandum, beras, sagu, buah (kurma makanan pokok Hadrami), kentang, sayur mayur (bagi vegetarian). Dan untuk memenuhi kebutuhan itu, membutuhkan lahan yang begitu luas. Berdasarkan catatan sejarah, bangsa Sumeria adalah pembaharu dalam bidang. Mereka membabat hutan secara besar-besaran untuk kemudian mengolah dan menjadikannya lahan pertanian. Teori ini tentunya bukanlah hal yang asing bagi kita yang hidup di zaman modern. Di era kapitalis seperti sekarang ini, di mana budaya konsumtif dijadikan mesin penggerak bagi berputaranya roda perekonomian, kurang dari 200 tahun, kerusakan alam yang diakibatkan begitu dahsyat.

(maaf, terhenti di tengah jalan. Maklum, ayah muda, sibuk ngurus anak. Hehe. Tulisan saya lanjutin.)

Dalam tulisannya yang berjudul "Esai Sebelum Makan", M.Faizi menuturkan; Secara hiperbolis, Elizabeth Royte menulis dalam National Geographic, (Maret, 2016); “Jangan Buang Makananmu”, bahwa limbah makanan yang dibuang orang, jika dikumpulkan dan dijadikan sebuah negara, akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia , setelah Tingkok dan Amerika Serikat. Masih kurang mengerikan? Di seluruh dunia, tulisnya, produksi makanan yang terbuang dalam setahun dapat menghabiskan air sebanyak aliran Sungai Volga, sungai terbesar di Eropa, juga selama setahun.

Penduduk bumi hari ini kurang lebih ada 7 milliar, dengan gaya hidup konsumtif seperti sekarang ini, Sumber Daya Alamnya (SDA) semakin berat menanggung beban. Sebut saja minyak bumi, banyak informasi menyebutkan cadangannya tak sampai 2050 telah habis. Belum lagi soal makanan, sudah berapa ratua ribu hektar hutan di Sumatera, Kalimantan dan lainnya dibakar untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Itu pun belum mencukupi, melihat harga gula di pasaran melambung tinggi (secara nasional diakibatkan kebijakan tidak boleh impor dan berkurangnya pabrik gula swasta) karena pengaruh harga gula dunia disebabkan gagal panen yang terjadi di Brasil sebagai salah satu negara penghasil tebu terbesar satu tahun kemarin. Belum lagi yang lain. Pendeknya ketahanan pangan dunia mulai melemah.

Jujur saja, sebagai santri unyu-unyu yang gemar membaca kajian tasawuf, saya padamulanya bertanya-tanya, "Apakah ini tidak 'isrof' berlebihan?" ketika melihat kenyataan bahwa di acara-acara keagamaan oun, semisal haul, maulid, walimah yang diadakab oleh para kyai dan habaib seringkali tidak jauh beda dengan pesta-pesta abna al-dunya yang menghambur-hamburkan uang.

Sampai suatu ketika terjawab sudah kemusykilan saya itu. Entah di kitab apa, saya lupa, seingat saya imam Ghazali pernah menuturkan bahwa hewan-hewan dan tumbuhan utu diciptakan Allah untuk memenuhi "kebutuhan manusia". Jadi, tidak masalah hewan-hewan dibunuh (baca: sembelih) untuk memenuhi kebutuhan manusia, sesama makhluk yang lebih dimuliakan Allah. Wa laqad karramna Bani Adam. Dengan catatan out-putnya adalah untuk membantu manusia beribadah kepada Allah.

Kebetulan beberapa tahun terakhir ini saya tidak makan daging. Bukan sedang lakon nyireh. Hanya karena faktor kesehatan saja. Semenjak mendengar penjelasan imam Ghazali, kurang lebih maksudnya seperti yang saya tulis di atas, dan membaca sebuah hadis berikut ini: "barangsiapa tidak (mau) menikah dan tidak (mau) makan daging bukanlah dari golonganku." saya jadi berusaha agar suka makan lebih-lebih daging. Fa rubba makhmashatin syarrun min al-tukhami, bukankah begitu kata al-bushiri; terkadang keadaan lapar itu lebih buruk dari pada kenyang.

Yang membedakan dengan budaya konsumtif adalah cara mensyukurinya. Sesuai kaedah, syukur adalah upaya seorang hamba dalam menggunakan "kenikmatan" itu sesuai tujuan diciptakannya. Sedangkan dalam budaya konsumtif hanya sekadar menuruti hasrat dan sebatas life style.

Toh pada dasarnya dunia ini fana. Sementara. Tidak ada ketahanan pangan yang abadi. Yang ada hanya cara mengelola yang baik. Mengolah lahan bahkan dianjurkan oleh nabi. Tentu nabi juga menganjurkan membayarkan 10 % dari hasil tanah yang diolah tanpa pengairan atau 5 % dengan pengairan. Nabi juga mengajari kita cara mengkonsumsinya. Sekadar beberapa suap untuk tegaknya tulang punggung. Atau kalau memang terpaksa menambah, sebaiknya sepertiga lambung untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk udara. Namun jika alam sedang tidak bersahabat, Allah juga telah mengajarkan pada surat Yusuf bagaimana cara mengatasi ketahanan pangan dan menekan inflasi.

Saya jadi berprasangkabaik, bagi kyai dan orang shalih yang menggantungkan hidupnya kepada Allah apa yang mereka lakukan dalam menghidangkan jamuan begitu rupa bukanlah dalam kategori "israf", berlebihan, pun memubazirkan barang, tidak sama sekali.

Mereka yang menggantungkan segala urusan kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai tujuan segala hajatnya tidak akan khawatir dengan isu ketahanan pangan dan isu lingkungan alam. Yang tidak boleh adalah mubazir (konsumtif), dan merusak alam dan lingkungan, bukan konsumsi dan kerusakan alam karena keduanya merupakan kebutuhan dan keniscayaan.

Mereka yang memiliki keyakinan, bahwa Allah al-Qayyum, Allah yang menghidupkan Allah pula mencukupi kebutuhan hidup tidak akan takut lapar. Onta, kambing -kambing ternak perah padang sahara jauh lebih bergizi dibandingkan kambing ternak di padang savana. Jika bukan karena kemurahan Allah yang meruah, melimpahkan mikroba pada lumut-lumut yang menempel pada krikil dan bebatuan padang pasir, lantas siapa lagi. Keajaiban padang pasir yang mengundang keingintahuan peneliti-peneliti eropa. Mikroba lumut jadi makanan. Subhanallah. Jika tiga butir korma setara dengan sepiring nasi penuh laukpauk, jika sebutir kapsul mikroba lumut sahara cukup untuk memenuhi kebetuhan asupan gizi sehari, tentu bukanlah mustahil bagi Allah untuk menciptakan dari seucap tasbih: "Subhana Allah wa alhamdu lillah wa laa ilaaha illa Allah wa Allahu akbar."-- sebuah energi yang cukup untuk 80 hari.

Sayidina Ali pernah ditanya, " Wahai Ali, bagaimana kamu bisa kuat dalam bertarung, padahal kamu sedikit makan dan minum?"

"Sebagaimana yang engkau ketahui," jawab sayyidina Ali, "pohon yang tumbuh di padang pasir terkadang lebih kokoh ketimbang pohon yang tumbuh di rawa-rawa.

No comments:

Post a Comment