Blog Mohammad Mujab

  • Teras
  • Sanggar
  • Geguritan
    • Puisi
    • Novel
    • Cerpen
  • Sastrawan
  • Galeri
    • Foto
    • Portofolio
    • Lukisan
  • Perpustakaan

Sejarah Madrasah Tarbiatush Shibyan Jekulo


Konon, madrasah. Pertamakali di desa Jekulo adalah madrasah yang didirikan oleh mbah kyai.Tayyib (kakak mbah Sanusi). Namun, sejarahnya kabur dan sangat sulit untuk dilacak. Baru pada era cucu beliau, KH.Dahlan bin Yasir, Jekulo secara resmi memiliki madrasah. Sistem pendidikan agama model klasifikasi ini merupakan oleh-oleh yang diadopsi dari madrasah al-Shaulatiyyah oleh kyai.Dahlan sepulangnya dari tanah suci, Makah.

Di Makah sendiri, pada masa sebelum berdirinya al-Shaulatiyyah, anak- anak di sana tidak memiliki sistem pendidikan spesifik. Lazimnya, pendidikan anak-anak di arab pada waktu itu, dilakakukan secara tradisional di toko-toko. Seperti toko kain, toko minyak wangi, toko kurma dlsb. Setiap toko di sana kurang lebib memiliki anak didik sekitar 10 anak.

Entah, model pendidikan tradisional di toko-toko semacam itu sudah berlangsung sejak Makah masih dibawah kekuasaan Ottoman, atau baru ada sejak keluarga al- Saud menguasai Hijaz. Namun, menurut perkiraan saya, model pendidikan seperti itu baru terjadi ketika faham Wahabismd mulai berkuasa. Mengingat peradaban Ottoman yang begitu maju, dan sejarah panjangnya yang hampir brsentuhan langsung dengan masa keemasan pengetahuan Islam, Dinasti Abbasiyyah.

Pada kejayaan Dinasti Abbasiyyah inilah, menurut catatan sejarah, baru pertamakalinya dicetuskan sistem pendidikan agama dengan model klasikal, yaitu dengan didirikannya madrasah Nizhamiyyah, di Baghdad.
Sistem pendidikan model klasifikasi Nizhamiyah pada masa al-Ghazali dan al-Shaulatiyyah pada era al-Fadani seperti itulah yang kemudian diadopsi oleh Kyai Dahlan untuk madrasah yang baru didirikannya dengan nama 'Tarbiyyatu al-Shibyan'.

Madrasah Tarbiyyatu al-Shibyan yang pada mula tujuan didirikanya diperuntukan bagi masyarakat Jekulo dan sekitarnya untuk pendidikan anak-anak mereka, seiring berkembangnya waktu ada juga anak-anak santri dari pondok Mbareng yang belum bisa bacatulis arab ikut belajar. Biasanya, mbah Kyai.Yasin sendiri yang mengantar santri-santri pemula untuk mendaftarkan dan menyerahkan kepada ipar beliau, Kyai Dahlan agar dididik dengan sebaik-sebaiknya.

Madrasah Tarbiyyatu al-shibyan semakin ramai dan berkembang. Banyak anak-anak penduduk setempat dan anak-anak dari desa sekitar yang ikut bersekolah. Sehingga lambat laun dari generasi inilah masyarakat Jekulo tumbuh menjadi masyarakat religi. (setelah sebelumnya berubah menjadi masyarakat kejawen, mulai dari sepeninggalnya mbah Sewonegoro berakhir sampai masa mbah Sanusi).

Namun sayangnya, pada masa penjajahan, madrasah Tarbiyyatu al-Shibyan ditutup secara paksa. (saya belum informasi akurat. Secara tentatifnya, terjadi antara tahun 1943 - 1948. Dai Nipon - Agresi Militer NICA dan sekutu). Oase tempat anak-anak bermain dan belajar hilang sudah. Semenjak saat itulah madrasah Tarbiyyatu al-Shibyan vakum, dan kegiatan belsjar mengajar kyai Dahlan beliau teruskan cuma di Langgar Dawur (musolla, sekarang menjadi pondok Darussalam, pengasub KH.Mujahid Dahlan). Praktis, aktivitas pendidikan Agama hanya di pesantren Mbareng dan Langgar Duwur, dan hanya orang-orang tertentu terbatas saja yang bisa mengikuti.

Tahun berganti tahun kondisi anak-anak Jekulo yang dulunya mendapatkan pendidikan agama semakin memprihatinkan, apalagi ketika berganti generasi seterusnya semakin jauh dan praktis tak tersentuh pendidikan agama. Para kyai muda merasa sedih, di tempat yang merupakan kawasan pesantren tapi masyarakat sekitarnya timpang.

Kyai-Kyai muda itu --diantaranya kyai Mahun Ali, KH Halimi dll-- menemukan solusi, dan akhirnya Timbul semangat, berinsiatif untuk mendirikan madrasah. Untuk itu mereka sowan ke Kyai Muhammad (selaku sesepuh pada waktu itu) guna meminta restu. Namun, oleh kyai Muhammad mereka diperintahkan agar tidak usah mendirikan madrasah baru --mereka dianjurkan menghidupkan kembali madrasah yang dahulu pernah didirikan kyai Dahlan.

Pada akhir 80-an para kyai muda itu membangun kembali madrasah dari sisa -sisa puing rerobohan peninggalan kyai Dahlan dengan nama yang sama: Tarbiyyatu al-Shibyan. Namun, lokasi madrasah dipindah ke Jekulo Kauman bagian utara, di samping Musola peninggalan Kyai Khalil. Tujuannya, supaya lebih dekat dengan masyarakat.

Begitulah kisah singkat madrasah 'Tarbiyyatu al-Shibyan' yang sempat "roboh" dalam rentang waktu cukup lama sebelum akhirnya para kyai dengan susahpayah mendirikannya kembali. Begitu juga masyarakat sekitar yang berkeluhkeringat dalam bekerjabakti bersama, baik tenaga maupun materi.
Sungguh sayang, sungguh malang jika harus terpaksa "roboh" untuk yang keduakalinya karena kebijakan yang samasekali tak bajik dan tak bijak: program Full Day School.

Sebelum mengakhir tulisan ini, saya ingin menulis rekuim. Puisi ratapan untuk madrasahku di masa bocah:

O, Tarbiyyatu al-Shibyan!
Dahulu, kau ditutup paksa oleh penjajah
Kini, nasibmu lebih tragis lagi
Bangsamu sendiri yang merobohkanmu
Haruskah kamu hilang kembali?

Mohmmad Mujab, Jekulo 13 Agustus 2016

Unknown at 19:48

No comments:

Post a Comment

‹
›
Home
View web version
Powered by Blogger.
Ported to Blogger by Prayag Verma