Kopyah Merah Mbah Kandar


Fez, kopyah atau peci merah, adalah simbol Turkey Utsmani. Sebuah penutup kepala yang dipakai oleh orang-orang utsmany sebagai identitas. Biasanya terbuat dari karpet merah, berbentuk bundar menjulang tinggi. Seperti mahkota keraton Suryakarta Hadiningrat.

Biasanya kopyah merah utsmany dikenakan lengkap dengkap dengan sorban yang melilitnya, kerap digunakan oleh tokoh Islam sebagai identitas dalam perlawanan terhadap barat baik dalam membendung kolonialism dan westerenisasi.

Di Turkey sendiri, ada tokoh seperti badi'uz zaman Said Nursy. Demi mempertahankan identitas ini, beliau berkata kepada militer Attarturk, "Jika kalian ingin melepaskan imamah ini, kalian harus melepaskan juga kepalanya." Betapa, dalam mempertahankan identitas tsb, Said Nursy rela mengorbankan kepalanya sebagai jaminan. Karena kopyah "imamah" adalah "simbol" Islam. jika bukan karena sikap tegas Nursy yang menolak mengganti dengan topi "laken" mungkin tak akan kita temukan lagi Islam di Turkey.

Itulah imejinasi saya, ketika mendapat cerita tentang kyai. Yasin. Saya membayangkan "kopyah merah" yang dikenakannya sama seperti kopyah merah Said Nursy.

Suatu ketika mbah Yasin memarahi putranya. Kyai.Muhammad yang pada waktu itu masih kecil bersembunyi di bawah bangunan pondok ketika melihat tentara belanda datang ke pesantren. Maklum, ketika itu suasana politik sedang gemting-gentingnya. Belanda mencurigai kalau pesantren merupakan basis pemberontakan, termasuk pondok mBareng ini. Melihat kejadian itu mbah Yasin memanggil putranya dan memarahinya, "Jangan takut sama belanda, tak usah bersembunyi..!" Kurang lebih seperti itu kata mbah Yasin.

Setiap kali rakyat akan ikut bergerilya, baik mereka yang bergabung dengan tentara keamanan rakyat (TKR) atau Hizbullah, kebanyakan dari mereka terlebih dahulu meminta "suwuk" kepada mbah Yasin supaya diberi kekebalan dan keselamatan. Seperti yang diceritakan ayah teman saya, dari Selalang, Tanjungrejo. Ketika pasukan rakyat kalah, ayah teman saya itu termasuk orang yang selamat dan kemudian melarikan diri dengan berjalan kaki sampai di daeran parahiyangan Bandung. Karena merasa bersyukur telah selamat dari peperangan berkah doa mbah Yasin, dia memberikan nama "Yasin" kepada anaknya yang lahir dikemudian hari.

Karena keterlibatan mbah Yasin dalam mendukung "pemberontakan", pasukan belanda kemudian mendatangi pesantren dengan bersenjata lengkap. Saat itu. Kyai yasin sedang mengajar santri-santrinya, beliau tidak menghiraukan kedatangan pasukan Belanda, beliau menyuruh para santri untuk meneruskan mengaji. Sikap itu membuat tentara belanda semakin geram dan kemudian memberondongkan peluru kedalam aula tempat mengaji. Menurut narasumber cerita ini (seorang kyai dari undaan murid mbah yasin), beliau termasuk salah santri yang ikut mengaji dan berada dalam pesantren pada saat kejadian. Ketika itu dia tengkurap bersama santri lainnya, dia melihat berondongan peluru-peluru itu menembus gedek dan lalulalang di atas kepala, sedangkan mbah Yasin tetap duduk melanjutkan membaca kitaab di bawah temaram lampu damar tanpa sedikitpun gentar. Kejadian itu terjadi pada malam hari di (sekarang) aula komplek A, depan ndalem kyai Yasin.

Tatkala gaung perlawanan melawan penjajah semakin besar, lebih-lebih ketika belanda membocemg sekutu dapat menguasai negeri ini. Hadrotussyeikh Hasyim asy'ari ulama pertama yang lantang meneriakan "jihad" melawan penjajah ke seantero negeri, sebagian rakyat dan santri dari jawa tengah berbondong-bondong menuju Surabaya untuk ikut bertempur. Namun kebanyakan masih stan bay di daerah masing-masing. Salah satunya kyai Yasin, beliau memilih tetap di Jekulo daripada berangkat ke Surabaya. Bukan karena takut perang, melainkan karena informasi akan adanya suplay pasukan belanda dan sekutu melalui jalur darat. Maka, mbah Yasin memilih menunggu di Jekulo --yang kebetulan terlewati jalur pantura-- untuk berjaga-jaga.

Benar saja informasi tsb. Belanda dan sekutu mengirim tentara mereka melalui jalur darat untuk membantu pasukan laut mereka dari Batavia ke Surabaya.
Bedil- bedil manual tentara TKR dan Hizbullah harus berhadapan dengan senapan mesin dan tank-tank canggih milik Belanda dan sekutu. Pemandangan yang tak seimbang. Karuan saja, mendengar derum mesin dan roda tank yang menggerus aspal saja sudah merinding apalagi ketika iring-iringan pasukan belanda mulai tampak. Melihat itu, pasukan Hizbullah yang semula pemberani menjadi ciut nyalinya. Mereka tiarap dan merangkak bersembunyi di balik apa saja.

Maka datanglah kyai yasin, dengan mengenakan pakaian kebesarannya: kopyah merah lengkap dengan jubah merahnya. Berjalan di Pantura sambil mengomando dan memberikan semangat kepada pasukan Hizbullah yang sedang ketakutan dan semakin mundur dari garis pertahanannya. "Tentara hizbullah tidak boleh takut sama makhluk. Ayo maju!" kata kyai dengan gagah perwira menghadang laju musuh.
Pertempuran pun pecah antara pasukan Hizbullah yang berada di sebelah timur perempatan kerawang dan tentara belanda dari arah baratnya. Karena perlawanan yang begitu gigih dari kyai. Yasin dan hizbullah, suplay pasukan belanda dari batavia tak jadi melewati desa Jekulo. Mereka memilih jalur lain.
_____________
* kisah ini saya susun dari imajinasi saya berdasarkan cerita dari KH.Afif Hanafi dari murid mbah yasin, kyai Yasin muhammad dari ayahnya, ust.yasin selalang dari ayahnya, dan beberapa cerita voklor yang berkembang di masyarakat pada saat saya masih kecil.

*Pada cerita yang terakhir, "kyai yasin menghadang belanda" si perawi tidam menyebutkan tahun peristiwa terjadinya, sehingga saya kebingungan; apakah i perisriwa itu terjadi pada 1945 bertepatan dwngan peristiwa 10 Npvember, atau, bertepatan dengan peristiwa pertempuran Muria (Halte Mbareng Saksi Bisu Pertempuran Muria, penulis Danar Abdullah) pada agresi I dan II tahun 1947 - 48. Namun dalam catatan ini saya menggunakan yang pertama: peristiwa 10 november. Yaitu, ketika suplay pasukan belanda dan inggris untuk membantu pertempuran di Surabaya melalui jalur darat.

*catatan ini sekadar merekam cerita- cerita yang pernah saya dengar, daripada hilang samasekali. Untuk memenuhi standar penulisan sejarah, maka catatan saya ini masih banyak membutuhkan penelitian serius.
Mohammad Mujab, Jekulo 14 Agustus 2016

No comments:

Post a Comment