Sesuai janjinya; ia pun akhirnya bersedia menerima pinanganku. Seusai
pernikahan yang amat sangat sederhana di KUA setempat, keluarganya membawa Ana
pulang. Rombonganku juga memutuskan kembali dengan tangan hampa tanpa mempelai
putri, kecuali aku dengan segenggam akta nikah. Beberapa teman yang ikut
prosesi pernikahan memberikan selamat beserta belasungkawa nya. Congratulation
& Consolation adalah hal yang tidak lazim, kecuali dalam pernikahanku. Dimana sebuah anugerah diberikan beserta sebuah musibah.
Untung tidak banyak tamu yang aku undang, hanya keluargaku dan beberapa teman
terdekat, sehingga kejadian tersebut tidak terlalu menampar.
Sampai
lima hari setelah pernikahan itu kami tak kunjung bertemu. Setiap kali aku
datang ke rumahnya, hanya kakak pertamanya (sekarang menjadi kakak iparku) yang
menemui. “Ani sedang berobat keluar kota sama Ibu dan Bapak!” katanya
memberitah keadaan istriku. “Oh, Mas kok nggak bilang, kan aku bisa
mengantarnya!”
Aku
sebagai suami merasa bertanggun-jawab. Mula-mula aku percaya dengan kakanya.
Aku teringat suatu kami masih kuliah di Malang, Ani sering sakit dan aku sering
mengantarkannya ke klinik kampus. Apalagi kalau pikirannya sedang keras, ia
mudah terkena sakit Mag. Dan pernah, suatu ketika Ana terserang gejala liver,
dan oleh dokter diharuskan rawat inap. Pada saat itu pula aku yang
menungguinya. Keluarganya tidak dating, keluarganya sedang sibuk, lagian pula,
jauh juga dari Mojokerto ke Kota Malang.
Setelah
seminggu tanpa ada kabar aku mulai ragu. Apalagi ketika kakaknya bilang “Kau tak
perlu tahu apa sakitnya? Kami bisa mengurusnya sendiri!”. “Lho, aku berhak tahu
donk, Mas. Aku kan suaminya!” balasku. Lelaki berkumis itu tidak menghiraukan,
dan menyuruhku untuk pulang. Aku yang dari dulu tidak suka keributan memilih
untuk mengalah. Tapi dalam hati, sebagai seorang lelaki aku merasa dikebiri.
Tidak kah Ana sekarang adalah istriku? Dan aku berhak untuk bertemu dengannya.
Sepanjang
hari-hari itu pikiranku berkecamuk. Aku mencoba menghubungi Ana, tapi hp nya
tidak pernah aktif. Entah di mana dia sekarang? Jika benar seperti yang
dikatakan, tentunya aku sudah menemukan. Toh, rumah sakit di kota ini hanya
dua, dan setelah aku cek, kedua rumah sakit tersebut tidak mempunyai pasien
dengan nama istriku.
Dahulu
suwaktu masih pacaran, kami sering bermimpi setelah menikah dapat menikmati
bulamadu di kota Lombok. Ya. Dan mimpi itu harusnya terjadi pada bulan-bulan
ini: Full Moon Party in Honeymoon: bermandikan cahaya rembulan di atas altar
pasir putih. Dan sungguh betapa romantisnya? Tapi urung untuk semua itu.
Sekarang, bertemu saja belum. Aku semakin putus asa, dan aku kembali menjalani
hari-hariku seperti biasa; membaca koran di pagi hari, mencari lowongan kerja
dari kolom-kolom surat kabar. Menjalani tuntutan sebagai sarjana muda yang
membuatku aku sendiri tak ingin hidup sebagai pengangguran. Apalagi sekarang
aku seorang suami.
Sudah
berulang kali aku keluar masuk kantor, baik negeri maupun swasta, semuanya
nihil. Dan sudah beberapa puluh banyaknya semenjak lulus kuliah. Apa yang tidak
membuatku putus asa selama itu adalah keberedaan yang tercinta, ialah Ana, yang
sekarang menjadi istriku. Seringkali ia memberiku semangat lewat smsnya.
Kata-kata motivator yang penuh dengan cinta. Tapi, entah, malah semenjak
pernikahan itu barang satu kalipun ia belum pernah kirim, bahkan sekadar
menyapa atau menjawab sms pun tidak. “Maafkan aku Mbok, aku belum mendapatkan
kerja Aku juga belum bisa membawa menantumu pulang?” kataku kemarin malam pada
sembok.. “Tak apa, Nak, Sembok sudah memaklumi kok.” Timpal Sembok, “Yang
penting kamu jangan menyerah, jangan tergesa memutusnya.. Dulu aku sama bapakmu
juga begitu. Satu bulan kemudian sembok baru mau dibawa kerumah bapakmu. Bahkan
zaman dahulu itu, ada yang sampai satu tahun baru mau ketemu lho!. Kamu baru
berapa minggu aja sudah murung. Jangan gitu! Jadi lelaki harus tabah..” pesan
beliau.
***
Pada
tengah hari yang agak murung. Langit berawan pekat. Cuaca gerah, namun tidak
cerah. Aku memutuskan tidak keluar mencari kerja. Hanya membantu bapak menumbuk
jahe kering untuk dijadikan serbuk. Bagi beberapa penikmat kopi seperti Pak
Lurah, biasanya lebih suka kopi Jahe. Maka serbuk itu sengaja disediakan oleh
bapak, apabila kurang pedas, mereka bisa menambahkan serbuk jahe sendiri,
sesuai selera mereka. Bunyi hp berdering-dering, aku agak malas mengambilnya.
Betapa itu hanya sebuah sms suprot dari teman padaku seperti biasanya. “Awal
yang berat menunjukan kemudahan dan kebahagiaan di kemudian hari.” Kalau pun
kata-kata semacam itu dengan maksud yang baik, tapi aku selalu menerimanya
dengan perasaan sedih. Tapi, terimakasih kawan, kalian telah membesarkan
hatiku. Aku segera masuk ke rumah, mengambilnya dari dalam kamar. Sebuah
sms dari nomor tanpa nama:
Assalamualaikum..
Maaf, Mas aku baru bisa menghubungimu. Aku benar-benar minta maaf. Bisakah
siang ini kita bertemu di Coban Cangu? - istrimu, Ana-.
“sms
dari ana?” seruku tercengang kaget, tak percaya. Jari-jari gemetaran untuk
mengetik balasan. Benarkah ini kamu, Ana? Bukan kah kamu sedang sakit? Kamu
di mana?.
Benar
Mas, ini Aku Anamu. Tidak, Mas. Aku baik-baik saja. Aku tidak bisa menjelaskan
sekarang. Nanti saja di sana!
Balasnya kemudian.
Aku
sms kembali, namun Ana tidak membalas. Aku segera ganti baju. Hatiku tidak
tenang, dipermainkan pertanyaan. Mengapa harus jauh-jauh di Caruban Cangu?
Di rumah kan bisa? Dan pertanyaan lain, Ada apa dengan Ana? Dan
lainnya lagi. Namun ketika aku coba mengonfirmasinya, hp Ana sudah tidak aktif.
Sudah lah, aku hanya bisa menunggu jika ingin bertemu.
Aku
lihat banyak Anak-anak kecil dan bepasang-pasang sejoli nampak bahagia
bermain-main, melempar keceriaan di bawah air terjun. Sedang bepasang muda-mudi
lainnya sedang duduk bermesraan di atas bongkahan batu, agak jauh dari
keramaian airterjun. Aku tengok kanan-kiri belum juga kujumpai Ana. Hanya
beberapa pedagang asong yang sejak tadi riwa-riwi menjajakan makanan. Beberapa
saat kemudian hp ku berdering. Aku buka, ternyata sms dari Ana. Mas, aku
sudah di sini, di warung dengan benner kuning. Tidak jauh dari tempatmu!
Aku
menengok ke belakang, mencari warung yang dimaksud Ana dalam sms-nya. Ada dua
deret warung kanan dan kiri yang berdiri di sepanjang jalan menuju airterjun.
O, itu apa yang dimaksud Ana, warung kecil di deretan kanan, ke tiga dari atas.
Tidak begitu jauh tempatku duduk.
Aku
segera turun ke sana. Ana berdiri di balik tiyang menunggu. Ia menyambutku
dengan mimik muram. Ada kecemasan dan gelisah dalam dirinya, serupa orang
ketakutan. Ia mencium tanganku, dan aku tarik tubuhnya kedalam pelukanku.
“Mari duduk dulu.. jangan cemas.
Sebenarnya ada apa, Ana?” kataku seraya mengajaknya duduk. Ia masih nampak
cemas seperti tak tahu harus berkata apa? Aku genggam erat telapak tangannya
untuk memastikan.
“Baiklah,” aku coba menenangkannya. Segelas air putir dan
segenap kepercayaan yang aku berikan kepadanya; kalau apapun sebenarnya yang
terjadi aku tidak akan memarah. Ana melihat sekitar untuk memastikan. Ia sudah
tak seperti semula, dan mulai bercerita yang sebenarnya. Pandangannya terjatuh
ke bawah, untuk mengalirkan endapan kesedihan dalam matanya. Aku peluk, aku
erat dan aku tak peduli di luar sana. Seakan saat itu hanya kami berdua yang
tertimpa musibah. Musibah yang kami rasa lebih berat dari jutaan kubik
airterjun yang ditimpakan oleh ketinggian. Aku coba menguasai diri, dan aku
kemudian kondisikan keadaan. Tidak baik mengumbar kesedihan di tempat umum,
setak baiknya mengumbar kebahagian yang berlebihan.
“Baiklah, Na. Bagaimana dengan Bapak?”
“Bapak tidak bisa apa-apa. Ia ikut Mas Danu.”
“Dulu yang ngrestuin kamu nikah sapa?”
“Ya, Bapak sama Ibu. Itu pun karena takut kalau kita nekat,
Mas! Mas Danu hanya ngijinin Aku nikah saja, dan tidak membolehkan aku bertemu
Mas dahulu, sebelum Mas bisa memenuhi saratnya!”
“Iya, Na, Aku juga memaklumi, Mas
Danu berhak melarang itu, karena ia yang membiaya kuliahmu, dan adik-adikmu
sekolah. Jadi sudah selayaknya bila dia berharap kamu bahagia. Tapi bukan kah
kebahagiaan itu tidak harus kaya, tidak harus kerjaan mapan? Kalau harus punya
rumah sendiri, dan hasil bulanan segitu, orang di Desa kita tidak akan ada yang
mampu menikah!””Sudahlah, Mas. Mas Danu emang gitu orangnya!”
Sebuah
sarat yang cukup berat. Namun apa bisa dibuat, kebijakan keluarga Ana ada pada
kakaknya. Patuh, atau keluar dan tidak diakui sebagai keluarga? Sudah lah
sudah. Aku mencoba membesarkan hati dengan nasehat si prof, “Awal yang berat
menunjukan kemudahan dan kebahagiaan di kemudian hari.” Dan aku harap seperti
itu.
Kami
pulang. Ana tidak mau saya antarkan, ia takut diketahui oleh Mas Danu. Dan itu
sebuah masalah yang akan menimbulkan amarah besar. Kami berpisah kembali
seperti bukan suami istri, kecuali hanya status dalam akta nikah. Kakaknya
benar-benar melarang bertemu aku. Dan nampaknya ia sengaja mempermainkan
kesabaranku. Tapi ia lupa, bahwa orang dalam bui saja dengan penjagaan seketat
itu bisa lepas, apalagi ia yang tak bisa setiap waktu menjaga adiknya.
Ada
hal besar lainnya yang dianggap kecil dan diabaikan oleh banyak orang, termasuk
kakaknya: mereka lupa bahwa pasangan muda seperti kami adalah kekuatan yang dahsyat.
Tidak ada kekuasaan manapun yang bisa menghalangi pasangan muda yang penuh
hasrat, apalagi setalah satu-satunya pamali sudah tidak ada. Sepasang kekasih
yang sedang rindu akan mencari akal untuk dapat bertemu. Mencuri-curi
kesempatan dan waktu yang sebenarnya milik kami sendiri. Kadang kami tertawa
geli dalam pelukan: kami bukanlah sepasang remaja yang mengelabui orang tua.
Tapi kami benar-benar suami-istri yang sah secara hukum Agama dan Negara.
Akhirnya
apa yang disebut menikah benar-benar kami alami. Dan itu terjadi pada waktu di rumah
teman kami. Pada suatu pagi yang segar ketika prof berangkat ke kampus, dan
istrinya juga mengajar di sekolah dasar, rumah itu seperti milik kami berdua. Eleven
minutes of fun and fulfilling. Dan kami terebah lemas dengan sisa nafas yang
masih ter-engah. “Sebenarnya kau milikku, Sayang.. orang tuamu tidak
lagi berhak, apalagi kakakmu!” istriku hanya tergolek manja mendengarkan.
“Tapi, mengapa hak itu direbut dari yang punya? Bahkan saat ini kita seperti
seorang maling.”. “Sudah lah, Mas, toh kita bisa melakukannya sekarang!” ucap
Ana kemudian menindihku dari atas. “Tujuan menikah adalah membangun keluarga,
Na, bukan hanya mencari kesenangan seperti ini.”. Sepertinya kami sedang
semangat-semangatnya, belum lama berhenti, kami sudah memulainya kembali.
Semenjak itu kami sering bertemu. Apalagi ketika aku
sudah mendapat pekerjaan, hampir setiap minggu. Pertemuan yang intens, dan
hubungan yang semakin intim dengan percakapan akrab sesudahnya. Dari rutunitas
itu aku mulai memahami ada sedikit yang berubah dari istriku. Di mana
kesederhanaannya dahulu? Bicaranya sering menyinggung nominal dan status
sosial. “Mas, aku juga tak mau tergesa-gesa menikah kalau Mas tak kunjung
mendapat pekerjaan yang layak.” Ucapnya di suatu pertemuan. “Tapi mengapa kamu
mau menikah?” tanyaku. “Karena aku menepati janji.”. Aku menyadari kalau aku
cuman guru bantu dengan gaji yang kecil, tapi itu tidak memastikan rezekiku
lebih kecil darinya. Aku juga berusaha memenuhi sarat yang diajukan kakaknya, tapi
itu butuh waktu. Jangan-Jangan ia telah terpengaruh oleh kakaknya? Bukan
jangan-jangan, tapi itu benar-benar dibuktikan olehnya di kemudian hari. Dengan
perkataan yang tidak patut diucapkan seorang ibu kepada anaknya, aku yakin ia
sudah terpengaruh.
Masalah benar-benar meletus ketika Ana positif Hamil dan
kandungannya semakin membesar. Kakaknya begitu marah padanya, dan ia meneruskan
kemarahan itu padaku. Ancaman akan digugurkannya sebuah janin, aku kira itulah
yang paling tak masuk akal dari semua ini. Tak mungkin Ana berpikirian seperti
itu, kecuali ia dalam keadaan stress akut karena tekanan-tekanan keluarga. Ia
amat sangat kacau pada saat itu, aku pula dalam kebingungan menghadapinya.
Namun sebetapapun buruk kami berdua, Janin itu tak boleh digugurkan.
Menggugurkannya sama dengan merebut kehidupan seseorang. Aku menghadap keluarga
Ana untuk mendapat kepastian. Kakaknya, tuan bijak itu. Dengan kebijakannya
yang sama sekali tidak bijak, ia membebaskan asal aku membayar perawatan selama
hamil dan kelahiran, dan menjadi orang tua asuh tunggal setelah kelahirannya.
Oke, aku terima kesepakatan itu.
Tidak mungkin jika alasan tuan Danu menyuruh Ana menjauh
dariku hanya untuk kebahagiaannya. Tentu, jikalau
iya, pastilah tuan Danu juga memikirkan kebahagian bakal darahdaging adiknya.
(?)
***
Satu
tahun lebih sebulan, atau sekitar delapan bulan usia kehamilan istriku aku baru
mendapat kabar resmi yang disampaikan oleh keluarganya. Pesan yang sangat
singkat; Ana sedang di RSUD untuk proses kelahiran. Malam itu juga aku
ke sana untuk menemaninya. Menyambut kehadiran buah hati kami. Satu-satunya
harapan yang selama ini tersisa untuk memperbaiki hubunganku dengan Ana dan
keluarganya. “Awal yang berat menunjukan kemudahan dan kebahagiaan di kemudian
hari.”. Aku harap apa yang seringa dikatakan prof melalui pesan sms itu sudah
dekat.
Sesampai
di RSUD ternyata anak kami sudah lahir. Aku agak kecewa karena tidak bisa
memberikan tarhib yang baik; cita-cita semua ayah untuk dapat
mengumandangkan adzan di awal kelahiran seorang anak. Dan aku lebih keberatan
lagi, jika kondisinya normal, mengapa harus dilahirkan secara sesar? Tapi
sukurlah, ketika aku ketahui bahwa Ibu dan si bayi dalam keadaan yang baik
saja.
Sesuai
keterangan dokter, bayi dilahirkan secara sesar dengan selamat, pada jam 09:
25, (sekitar 10 menit sebelum kedatanganku) jenis laki-laki dengan berat badan
3,2 kg. “anak yang tampan,” puji si dokter.
Aku
mengahampiri istriku yang baru tersadar. “Apa kau baik-baik saja, Na?” sapaku
disampingnya. “cukup baik untuk seorang Ibu yang baru saja melahirkan. Tidak
seperti yang kubayangkam sebelumnya. Bagaimana Anak kita, Mas?”. “Baik, Na,
lebih baik dari kondisinya Ibunya sekarang,”. Ana tersenyum mengalihkan
mukanya. Si perawat dating membawakan anak kami, dan meletakkan di pelukan
Ibunya, di depanku. Bayi yang tertidur mungil diantara kami, aku harap bisa
menjadikan hubungan ayah dan ibunya membaik. “Sekarang kau menjadi Ayah Mas.”
“Iya, Na. kau juga sekarang menjadi seorang Ibu,” timpalku.
Setelah
aku selesai dengan istri dan anakku, gantian Ibu dan adiknya yang menyapa. Aku
tak melihat keluarganya lagi selain mereka. Dimana Tuan Danu? Dina Mbakyunya?
Dan dimana yang lain? Orang-orang yang tak menginginkan kelahirannya tak
mungkin ada di sini, besitku. Dari kejauhan aku tak menemukan ada
kebahagiaan atas lahirnya seorang bayi pada mereka berdua. Ibu dan Adiknya
hanya sebentar saja melihat anakku, kemudian lebih perhatian pada anaknya
sendiri. Benar-benar mengherankan, bukan kah ia juga cucunya. Tak lama kemudian
keluargaku juga dating.
Pada
hari yang ketiga si tuan Danu dating menjemput Ana untuk dibawanya pulang. Aku
mencoba berbicara kepada istriku. “sebenarnya aku ingin, Mas, tapi aku tidak
bisa.” Jawabnya, “Aku tak berdaya menggoyah keluargaku. Ini kan juga sesuai
kesepakatanmu dulu dengan Mas Danu, menanggung semuanya dan sedia menjadi orang
tua tunggal. Maafkan aku, Mas.. Tolong jaga anakku, Mas..”. “Baiklah, Na..”.
Tidak banyak yang bisa kulakukan kecuali mengalah dan mengalah dan mengantarnya
keluar. Mobil tuan Danu membawanya pulang.
Keluargaku
membesarkan hatiku. Di hari kelima aku membawanya pulang ke rumah. Dengan
upacara yang ala kadarnya anak laki-lakiku kuberi nama Alauddin, atau
dipanggilanya O’din.
Ketakhadiran
Ibunya dalam awal masa tumbuhnya membuat perhatian keluargaku kepada O’din
berlebih. Neneknya, Kakeknya, kakakku dan semua memberikan perhatian dan kasih
sayangnya. Ada juga yang dating dari tetangga, bahkan dari istri Pak Lurah. Ia
sekarang sering ikut menemani suaminya ngopi di warung bapak, alasannya agar
dapat menjenguk “O’din, Jadi anak yang baik ya.. kalau pun kau tak mendapat
kasih saying Ibumu, kau masih memiliki kami,” timangku setiap malam menjelang
tidur. Malahan aku lebih tenang jika O’din tumbuh dalam keluarga kami yang pas-pasan
namun penuh perhatian, dari pada ia berada di tengah-tengah keluarga yang
kecukupan namun tanpa kasih saying.
Bila sedang sendirian tidak ada teman, aku sering
merenung. Terlepas dari semua ini adalah takdir, aku mencoba mencari jalan
keluar. Bila memang masalahnya aku belum memenuhi sarat, setidaknya aku sudah
berusaha. “Adakah jalan lain, Tuhan?” Aku masih tak habis pikir, mengapa tuan
danu begitu getolnya dengan pendiriannya? Mungkin ia kira kebijakannya
menjauhkan aku dari adiknya dapat mendorongku untuk lebih giat, kalau untuk itu
aku sudah. Tapi kalau kebijakannya itu menuntutku untuk standar ekonomi,
bagaimana bisa. Bukankah setelah berusaha semua itu tergantung rezeki
seseorang. Mengapa juga ayah dan ibunya menerimaku jika mereka tidak memberikan
dengan sepenuhnya? Buktinya ia menyerahkan nasib Ana kepada Danu, padahal aku
sekarang suaminya yang lebih berhak Atau malah ini karena Ana sendiri. Ia
menikah denga alasan komitmen? Pertanyaan-pertanyaan seperti suka mengusikku
setiap hari.Apalagi ketika keluarganya menyuruhku untuk menceraikan Ana.
Pertunbuhan O’din kurang baik. Perhatian dan kasih
sayang, juga formula asi pengganti asi pun tak dapat menunjangnya. Aku sadar
kehadiran seorang ibu bagi seorang anak tidak bisa digantikan dengan yang lain,
walaupun yang lain itu memiliki kedudukan yang hampir sama. Sejak itu aku mulai
merayu Ibunya, untuk sudi kiranya menjenguk si O’din. Barangkali satu dua tetes
air asi dari si Ibu dapat membantu pertumbuhan anaknya. Ya, kalau pun ia tak
mau bertemu dengan aku, setidaknya itu tidak berlaku pada si anaknya. O’din
merindukan kasih sayang seorang Ibu, Odin merindukan tetesan asi darinya. Di
usianya yang keempat bulan kondisi O’din memburuk. Susu Formula khusus yang
dianjurkan ibu bidan tak jua mencukupi asupannya. Aku membawanya ke dokter, dan
oleh dokter ditanyakan apakah O’din pernah mendapatkan asi dari Ibunya? “Tidak
pernah, Dok. Asi ibunya tidak keluar!” jawabku berusaha menyembunyikan
keberadaan ibunya. “Setetes pun?” ulangnya. Aku tegaskan belum pernah,
setetespun. “Baiklah. Anak anda kurang asupan gizi. Saya sarankan untuk segera
memberinya susu kolostrum. Mumpung belum telat.”.
Sehabis pulang dari kerja, aku langsung ke kota untuk
membeli susu yang dianjurkan kemarin hari. Aku sadar, kata-kata pak dokter
‘mumpung belum telat’ adalah peringatan dengan cara halus dalam dunia medis.
Dan itu membuatku tak bisa menundanya. Namun betapa kagetnya aku? Ternyata Susu
Kolostrum cukup mahal. Gajiku 1 bulan hanya cukup untuk mengkonsumsinya
15-20 hari saja.
Satu bulan mengkonsumsi Kolostrum tak menunjukan
perkembangan. Bahkan di bulan kedua kondisi fisiknya semakin memburuk. Tubuhnya
semakin kurus. Antar kulit dan tulangnya tanpak tak jarak. Dan aku semakin
khawatir ketika kepala O’din semakin membesar. Aku harap itu bukan penyakit
tumor. Aku tak mau menundanya, dan malam itu juga aku meminta tolong Pak Lurah
untuk mengantarkan ke RSUD. Kebetulan beliau ada di warung bapak. O’din segera
mendapatkan pemerikasaan dari dokter. Kami disuruh menunggunya di luar.
Malam itu rumah sakit cukup lengang, karena waktu jenguk
sudah habis, tidak banyak orang-orang yang menjenguk saudaranya yang sedang
sakit. Aku Pak Lurah dan Ibuku yang menemani malam itu, duduk di bangku tunggu.
Sayup-sayup orang bebincang sesekali melenggang dari bangunan sebelah. Kami
menunggu hasil diagnosa. Antara kemudian pintu ruangan dibuka, suaranya
membentur dinding ke dinding di sepanjang lorong. “Siapa Ayahnya?”tanya seorang
dokter kemudian dari pintu. Aku berdiri dan mengikuti dokter masuk kedalam
ruangan. Betapa paniknya aku menunggu hasil diagnosa dari dokter. Ruangan itu
seolah tempat sidak pidana, dimana seseorang dihadapkan pada keadaan yang
menegangkan.
Dokter mulai bicara, dan aku segera tahu, kata-kata
menganjurkan ketabahan adalah kabar yang kurang atau tidak baik. Dan aku
benar-benar lemas ketika dokter menyebutkan penyakit O’din. Dari hasil
Diagnosa, dalam kepala ODin ditemukan cairan yang berlebihan, cairan yang
melimpah akan menekan jaringan otak di
sekitarnya, dan itulah yang sedang terjadi dalam tempurung kepalanya. “Anak
anda menderita Hidrosefalus.” terang dokter mengenai penyakit O’din.
“Apa itu tumor, dok?”. “Ya, sejenis tumor kepala.” jelasnya.
Aku
menghembus nafas mendengarnya. Sok sekaligus kebingungan ketika dokter
mengatakan bahwa O’din harus segera dioperasi dengan biaya yang tidak murah, 30
juta. Jumlah yang terlalu banyak bagi pegawai kecil seperti aku. Apalagi uang
yang sengaja aku sisihkan sebelumnya telah habis untuk membayar biaya sesar
kelahiranya. “Saya minta waktu untuk mempertimbangkannya, Dok?”
Aku
keluar dengan kepala tertunduk. Ibu dan Pak Lurah berdiri menyambutku, “Ada
apa, To?” Tanyanya.
“Anu,
Pak, O’din menderita tumor otak.”.
“innnalillahi..
terus bagaimana, apa bisa diselamatkan?”.
“Insya
Allah, bisa Pak? Kata Dokter, kalau masih stadium dua kemungkinan berhasil
sangat banyak.”
Pak
lurah mengajakku duduk dan membicarakan mengenai biaya operasi. Beliau
menawarkan bantuan, dengan senang hati aku menyambutnya. Namun aku lebih senang
jika beliau membuatkan aku kartu Jamkesmas. Dan itu sangat membantu meringankan
biaya. “Terimakasih, Pak.. lebih baik aku berusaha sendiri dahulu, baru bila
nanti tidak mendapatkan aku akan minta pertolongan, Bapak..” tampikku dengan
halus. “Baiklah jika itu maumu. Tapi nanti kalau memang butuh, kamu jangan
sumkan-sumkan bilang aku!” kata beliau. Aku kemudian menghadap Dokter kembali
untuk mempersetujui operasi O’din.
Dua
hari setelah mendapatkan perawatan gizi, dan dinyatakan baik, O’din dinaikan ke
meja operasi, pada jam 9 pagi. Ayah dan Mbakyu yang dating pagi sangat
membesarkan hatiku, sebab aku sangat membutuhkan pangestu dari beliau.
Ibuku yang sedianya menemaniku sedari kemarin tak henti-henti berdoa sepanjang
malam, ngudi kasembadan agar operasi berjalan lancar dan akhirnya O’din
bisa disembuhkan.
Operasi
baru berjalan satu jam, seorang dokter keluar dari ruangan menemui kami. Aku
sudah pasrahkan pada Tuhan apapun hasilnya. Para dokter yang menangani
memutuskan untuk menghentikan operasi. Karena kondisi O’din yang tiba-tiba ngedrop,
mereka tidak berani mengambil resiko. Mereka menundanya sampai kondisi O’din
membaik dan kuat untuk dilanjutkan. Aku lemas duduk di kantor mendengarkan
keterangan dari dokter tersebut. Seorang dokter wanita setengah baya kemudian
juga ikut duduk bersamaku. Ia adalah dokter ahli yang menangani masalah gizi
balita., yang kemudian menerangkan banyak hal mengenai kondisi fisik O’din. Aku
tak begitu faham rincinya. Ia menanyakan, apakah O’din pernah mendapatkan asi
dari ibunya? Jawabku seperti yang sudah-sudah, berusaha menyembunyikan yang
sebenarnya, bahwa Ibunya sedang sakit. Bu Dokter setengah baya itu tetap
menyuruhku mengdatangkan Ibunya, aku bilang percuma, sebab asi ibunya tidak
keluar. “Sudah, bawa saja Ibunya kesini. Kami akan membantu mengeluarkan!
Anaknya saat ini amat sangat membutuhkan asinya!” paksanya kemudian
menjelaskan; bahwa O’din tidak memiliki daya kekebalan tubuh. Hal itu
disebabkan dua kemungkinan. Pertama, O’din tidak memiliki darah putih, atau
kedua, O’din tidak pernah mendapatkan asi dari Ibunya. Dan itu membuat system
imunnya tidak tumbuh dengan baik.
Untuk
kali ini aku dengan berat hati dating ke rumah Ana. Berat nian jika mengingat
harga diriku yang diinjak-injak, namun demi O’din, aku dengan segenap hati
memelas kepada mertuaku, dan membujuk Ana agar mau dating. “Aku mohon, demi
darah dagingmu sendiri!” kataku. Maka akhirnya Ana bersedia, dan kedua orang
tuanya nampak sangat pelit menberikan ijin. Setelah lepas dari rumah tersebut,
aku tunggang langgang membawa Ana ke rumah sakit.
Seorang
perawat membawa Ana ke ruang pasien untuk mengeluarkan asinya. “Sakit, Mbak!”
seru Ana ketika perawat menekan payudaranya. “Ditahanlah baik.. ini demi nyawa
anakmu sendiri..”. Ana tampak meringis kesakitan menahan rintih. Menahan sakit
sebentar demi menyembuhkan sakit orang lain adalah sebuah perjuangan mulia,
apalagi anak dan darah dagingnya. Setelah selesai hasil perah dibawa si perawat
ke ruang laborat untuk diseterilkan. Aku dan Ana diperbolehkan meninggalkan
ruangan. Aku sengaja mengajak Ana ke ruang operasi untuk melihat kondisi O’din
untuk mengetuk jiwanya, dan menumbuhkan kasih saying terhadap anaknya sendiri.
Aku memaklumi, jika selama ini tak ada kasih sayang, sebab ia belum pernah
tinggal lebih lama dengan buah hatinya, sehingga hal itu sama sekali tidak
dapat menumbuhkan sifat keibuan. Ana seperti ibu yang disapih, otaknya telah
dicuci, dan sengaja dijauhkan dari cinta.
Ana
langsung layu begitu masuk ruang operasi. Melihat anaknya tergeletak tak
berdaya di atas meja. Dengan panel-panel yang masih menancap di kepalanya,
tubuh kurus dan slang infuse yang memenuhi tubuh, tentunya adalah keadaan miris
yang menggedor setiap hati orang yang melihatnya. Apabila tidak, tentu orang
tersebut bukanlah manusia. “O’din…” panggilnya dengan penuh nada kesesalan.
“Sudah tahu kan, Na.. begitu memprihatinkan kondisinya. O’din merindukan kasih
saying mamanya!” tambahku.
Tapi
tak lama keakraban anak dan ibu itu, si tuan Danu dating memaksa Ana pulang.
Aku tak bisa apa-apa dan hanya diam. Di luar kamar ibuku mencoba mendekati
keluarganya, bermaksud rukun. Tapi apa jawabnya? “Tak urus. Asal anakku (Ana)
baik-baik saja!”. Oh, aku kira mereka hendak menengok cucunya, tapi
kedatangannya malah menambah penderitaan cucunya. Memisahkan seorang anak dari
ibunya adalah kejahatan. Orang yang melihat, geleng-geleng kepala. “Sungguh tak
punya peri-kemanusiaan..” kata seorang dokter. “Singa yang buas saja penuh
kasih terhadap koloninya.” Sambung yang lainnya.
Aku
disuruh keluar dari ruangan karena O’din akan mendapat perawatan. Seorang
perawat muda tampak berjalan di belakang dokter membawa segelas asi Ana, mereka
masuk kedalam ruang, dan menutup pintunya. Sejak itu kami, baik aku atau orang
lain tidak boleh masuk, kecuali dokter yang bertugas. Pada jam 9 kondisi O’din
semakin turun dan semakin drastic, semua Dokter menyerah, dan akhirnya nyawa
O’din anakku tidak tertolong. Aku pasrah. Mungkin Tuhan lebih menyayanginya?
Aku
sms Ana. Dan ia dating malam itu. Ia menangis sedu sedang di samping jenazah
anaknya. Luruh airmatanya tak terbendung menyesali sesuatu yang telah hilang
sudah. Buah hatinya telah tiada. Mungkin O’din tak mau hidup dengan melihat
kedua orang tuanya bertengkar. “Maafkan Ibumu, O’din.. Maafkan, Ibumu khilaf,
O’din.. doakan Ibumu taubat..” ucapku dari belakang. “Ayo, Na.. kamu harus
minta maaf anakmu, O’din. Maafkan Ibumu ya, Din, maafkan.”. Namun Ana hanya
sesunggukan tak bisa dan tak mampu berkata apa-apa. Aku yakin, dalam hati Ana
masih terdapat cinta pada buah hatinya. Aku yakin sejahat apapun hati seseorang
pasti ada satu titik untuk cinta. Ia menangis dan menciumi buah hatinya yang
hilang sudah.
Selesai
pemakaman, Tuan danu menemuiku dan berkata “Baiklah kalau kau melanjutkan lagi
dengan Ana..”
“Apa?
Melanjutkan dengan Ana!” seruku. “tidak mas. aku dulu berharap Ana mau kembali
demi Anaknya.
Tapi kini ia telah tiada. Dan percuma jika kembali, aku takut kau
merampasnya untuk yang kedua kali. Sudah cukup kebijakanmu itu.. kebijakan yang
sama sekali tidak bijaksana. Apakah itu yang kau sebut ‘kebijakan?!’”
***
No comments:
Post a Comment