manusia dapat bercinta
kapan saja, di mana saja
dan semau nafsunya
tak ada batasan-larangan
pamali dan nahi-munkar
katanya, cuma dogma agama
ketika manusia dapat bercinta
kapan saja, di mana saja
: di pelataran rumah mereka
di tempat tempat parkir
tempat rekreasi, pasar
mall dan swalayan
bahkan lebih gilanya
manusia bercinta di jalanan
ketika itu
manusia kembali ke asalmula
jika manusia boleh bercinta
kapan saja, di mana saja
dan semau nafsunya
aku tak bisa membayangkan
betapa manusia akan seenak udelnya
:membuka alat kelamin, serupa
kera mengelupas kulit-kacang
gedang dan buah-buahan lain
-di tepi jalanan, mereka menikmati daging buahnya
mengunyah, menelan, lalu membuang kulitnya -
aku teringat masa kecil dahulu
ayah sering bercerita; manusia anak-cucu Adam
akan tetapi, faktanya mengatakan lain
fakta lebih memihak teori Darwin
ketika manusia bercinta
kapan saja, di mana saja
dan semau nafsunya
diam diam, kera merasa malu
"kami bukan nenek moyang kalian!"
- katanya, menolak mentah mentah
semenjak saat itu
dengan diam diam pula
aku mencari bapa Adam berada
dan aku yakin, bapa Adam lah
satu satunya nenek moyang manusia
di setiap pertigaan, perempatan
dan di sepanjang jalan aku tanyakan
"adakah yang tahu di mana bapa Adam?"
diantara mereka tidak ada yang tahu
karena, setahu mereka
: nenek moyang manusia ialah kera
namun aku teruskan pencarian
sepanjang malam-siang senantiasa berjalan
berkelana menembus hutan pedut
pinggir pinggir laut, semak semak runggut
menelusuri pebukitan-pegunungan berkabut
demi mencari di mana bapa Adam berada
dan aduh, betapa kagetnya aku
ketika sudah kutemukan
tahu tidak, apa jawabnya?
bapa Adam pun enggan mengakui;
"Dahulu aku menikah. Tidak seperti kalian!"
Kudus, 3/6/2013
kapan saja, di mana saja
dan semau nafsunya
tak ada batasan-larangan
pamali dan nahi-munkar
katanya, cuma dogma agama
ketika manusia dapat bercinta
kapan saja, di mana saja
: di pelataran rumah mereka
di tempat tempat parkir
tempat rekreasi, pasar
mall dan swalayan
bahkan lebih gilanya
manusia bercinta di jalanan
ketika itu
manusia kembali ke asalmula
jika manusia boleh bercinta
kapan saja, di mana saja
dan semau nafsunya
aku tak bisa membayangkan
betapa manusia akan seenak udelnya
:membuka alat kelamin, serupa
kera mengelupas kulit-kacang
gedang dan buah-buahan lain
-di tepi jalanan, mereka menikmati daging buahnya
mengunyah, menelan, lalu membuang kulitnya -
aku teringat masa kecil dahulu
ayah sering bercerita; manusia anak-cucu Adam
akan tetapi, faktanya mengatakan lain
fakta lebih memihak teori Darwin
ketika manusia bercinta
kapan saja, di mana saja
dan semau nafsunya
diam diam, kera merasa malu
"kami bukan nenek moyang kalian!"
- katanya, menolak mentah mentah
semenjak saat itu
dengan diam diam pula
aku mencari bapa Adam berada
dan aku yakin, bapa Adam lah
satu satunya nenek moyang manusia
di setiap pertigaan, perempatan
dan di sepanjang jalan aku tanyakan
"adakah yang tahu di mana bapa Adam?"
diantara mereka tidak ada yang tahu
karena, setahu mereka
: nenek moyang manusia ialah kera
namun aku teruskan pencarian
sepanjang malam-siang senantiasa berjalan
berkelana menembus hutan pedut
pinggir pinggir laut, semak semak runggut
menelusuri pebukitan-pegunungan berkabut
demi mencari di mana bapa Adam berada
dan aduh, betapa kagetnya aku
ketika sudah kutemukan
tahu tidak, apa jawabnya?
bapa Adam pun enggan mengakui;
"Dahulu aku menikah. Tidak seperti kalian!"
Kudus, 3/6/2013
No comments:
Post a Comment