وَ الَّذينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَ الْإيمانَ مِنْ
قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ وَ لا يَجِدُونَ في
صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَ يُؤْثِرُونَ عَلى أَنْفُسِهِمْ وَ
لَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ وَ مَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
يَاأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّاوَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَاتَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا
نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءًفَأَلَّفَ بَيْنَ
قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا
حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ
اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
***
Sebuah moment…
Sebuah momentum seperti malam ini yang terjadi
Di negeriku salju berguguran dalam lamunan
Apakah karena dingin yang tak tertahankan?
“ Entahlah…….. entahlah……. “
Beberapa gelandangan dengan pakaian lusuh
Menggigil kedinginan di depan tok oserba ada
Mereka saling berdesakan, mencari hangat
Dari diri sendiri
Orang-orang tak peduli, begitu juga aku
Saraf empatiku membeku, dan tak acuh
Kepada betapa dingin yang mereka rasakan
Lalu……
Ketika sebuah ban bekas terbakar
Api menyalurkan panas pada alam sekitar
Tubuh merekapun menjadi hangat
Aku terdecak,
Tersadar oleh pelajaran yang berharga
Yang tiba-tiba diajarkan alam semesta
Ternyata, benda tak berharga itu
Lebih bermanfa’at ketimbang aku’
; ia lebih tahu makna “Persaudaraan”
Yang sedia terbakar untuk kehangatan orang lain
; ia lebih tahu makna “Persaudaraan”
Yang sedia muksa untuk kelangsungan hidup lainnya
Tak seperti kata “Persaudaraan”
Yang telah kehilangan energy, aku berusah membakarnya
Agar tidak lagi dingin dan beku
Tanpa berpikir panjang
Aku lepas sal dan mantel, dan
Aku lemparkan pada nyala api yang semakin meredup
Agar pengorbanan ban bekas tak sia-sia
Dan semoga saja :
“Api persaudaraan tetap berkobar menyala-nyala penuh semangat “
Tanpa peduli dingin
Aku pergi bertelanjang dada
Menuju tempat yang lebih mulia
“ Empati, Cinta, dan Persaudaraan “
***
Ibu kita Kartini
Putri yang suci
Putri yang merdeka
Cita-citanya
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
***
KEPADA KAWAN-KAWAN KAMI
Apakah gerangan yang menyebabkan manusia,
Sebelumnya tak saling mengenal, sejenak
Saling memandang, lalu berkehendak
Tak akan terpisah selama-lamanya?
Apakah gerangan yang menharukan hati,
Waktu mnedengar bunyi suara,
Tidak pernah didengar sebelumnya,
Lama bak rekuiem berdesing ditelinga kami?
Apakah gerangan yang membuat jiwa,
Dalam gembira ria melambung tinggi,
Membuat hati hebat berdetak?
Bila sepasang mata, manis
Menatap mata kami
Dan kami terima jabat tangan hangat
Tahukah kau, samudera biru
Yang mengombak dari pantai ke pantai ?
Tahukah kau berkata kepadaku
Apa dasar keajaiban itu, wahai ?
Katakan kepadaku, angin bersayap cepat,
Dari tempat-tempat jauh kau datang
Apakah gerangan yang tak dipanggil datang
Selama-lamanya mengikat hati kuat-kuat?
Wahai ! katakan, Surya emas bercahaya-cahya,
Sumber cahaya dan panas Alam semesta nan Kuasa
Apa gerangan keajaiban besar itu namanya,
Yang membuat hati dengan nikmatnya,
Melembutkan, melupakan duka
Yang menhampiri kita didunia?
Sinar matahari menembus dedaunan,
Jatuh pada pasang naik gelombang
Menjadi serba berkilauan disekitar, serba terang
Dibawah sinar cahya matahari keemasan
Permainan permai dari cahaya dan warna
Disaksikan mata nan gembira ria
Dan dari dada yang terharu dalam
Membumbung Puji Syukur yang Salam !
Bukan satu keajaiban, melainkan Tiga !
Berkilauan diatas indung mutiara yang cair
Dengan huruf berlian tertulis oleh cahya
“ Cinta, Persahabatan, Simpati “
Cinta, Persahabatan, Simpati
Riak ombak menggumam menirukan,
Bayu dipepohonan menirukan
Kepada anak manusia yang bertanya,
Manis, terbelai telinga yang mendengarkan
Oleh nyanyian gelombang dan angin nan ajaib
“ Diseluruh Nusantara, bahkan diseluruh Dunia…
Jiwa yang sama akan berjumpa !”
Jiwa yang sama tak memandang warna
Tak memandang pangkat dan tingkat
Tetapi tangan berjabat
Dalam apapun jua !
Dan bila jiwa telah berjumpa,
Tak dilepaskan lagi ikatan
Yang mengikatnya. Dan dalam hal apa jua
Meski waktu dan jarak, tetap setia
Suka duka ditanggung bersama
Demikian sepanjang hidup
Duahi ! bahagia nian bertemu dengan jiwa nan sama
Telah tersua harta terkudus
***
Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya
Karena cintanya
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
*Disadur dari Al-Qur'an, Puisi Mohammad Mujab, Puisi R.A.Kartini,
Lagu Ibu Kita Kartini WR.Supratman.
No comments:
Post a Comment