Aku duduk di samping Tuhan
berbisik bercengkerama, setiap
kata yang kami gunakan adalah
bahasa cinta dan aphorisma
Mesra nian kala itu;
bulan sedang purna-purnanya
iklim tropis menjatuhkan embun
pada dedaunan, lalu angin berdesir
oleh malam yang dingin, kulit kami
mulai basah ditiupnya
Oh, tak kuasa kami
didera dingin tubuh pun menggigil
sebagai seorang abdi, aku mencoba
menahan diri
Tapi Tuhan merajuk; "kesinikan
tubuhmu, mari kita berpeluk!"
sontak saja aku ragu dengan titah itu
Tidakkah Tuhan memerintah hamba Nya
untuk menjauhi kebatilan (?)
Ah, mungkin Tuhan sedang kedingininan
aku taat, dan segera mendekat
kala kami sedang berpelukan
kala itu mataku terpejam malu
aku tidak tahu apa yang terjadi
"Buummm.." tiba-tiba ada suara ledakan
ketika aku membuka mata;
kutemukan tubuh wanita terlentang
di sampingku, dan sebuah benda meteorik
yang menimpa hampir seluruh tubuhnya
No comments:
Post a Comment