Blog Mohammad Mujab

  • Teras
  • Sanggar
  • Geguritan
    • Puisi
    • Novel
    • Cerpen
  • Sastrawan
  • Galeri
    • Foto
    • Portofolio
    • Lukisan
  • Perpustakaan

Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Dibalik Sepiring Makanan

Tuesday, 7 February 2017

Suatu ketika saya pernah pernah terbesit ketika melihat cara manusia bertahan hidup, "mengapa manusia begitu serakah?" 


Bukan hanya hewan- hewan yang disembelih untuk memenuhi kebutuhan mereka. Fenomena ini, tentunya bagi sebagian orang yang memiiki perasaan kecil hati dan sifat penyayang, mereka pasti merasa kasihan pada hewan-hewan itu dan menyembelihnya adalah hal yang mengerikan. Seorang seniman yang memuliki perasaan halus, Sujiwotejo, pernah berkata memalalui akun twitternya, "Mengerikan adalah melihat cewek-cewek cantik duduk di KFC/McDonald sambil makan burger." kalau tak salah seperti itu tulisnya.

Bagi orang yang memiliki kepakaan hati seperti Sujiwotejo, mereka akan melihat proses panjangnya sebelum makanan siapsaji itu siap dihidangkan di depan cewek-cewek cantik. Gigitan mulut mereka pada sepotong burger tampak seperti kibasan berang tukang jagal pada leher ayam dan sapi: Sama-sama mengerikan. Barjagli (sebuah sekte, pemuja Anoman dalam agama Hindu) melarang pengikutnya untuk mengkonsumsi makanan yang bernyawa. Nyireh. Menjadi vegetarian adalah keharusan.

Tapi hidup menjadi vegetarian tidak lantas menjadikan manusia terbebas dari serakah untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Justru, makanan pokok manusia berasal dari tanaman: gandum, beras, sagu, buah (kurma makanan pokok Hadrami), kentang, sayur mayur (bagi vegetarian). Dan untuk memenuhi kebutuhan itu, membutuhkan lahan yang begitu luas. Berdasarkan catatan sejarah, bangsa Sumeria adalah pembaharu dalam bidang. Mereka membabat hutan secara besar-besaran untuk kemudian mengolah dan menjadikannya lahan pertanian. Teori ini tentunya bukanlah hal yang asing bagi kita yang hidup di zaman modern. Di era kapitalis seperti sekarang ini, di mana budaya konsumtif dijadikan mesin penggerak bagi berputaranya roda perekonomian, kurang dari 200 tahun, kerusakan alam yang diakibatkan begitu dahsyat.

(maaf, terhenti di tengah jalan. Maklum, ayah muda, sibuk ngurus anak. Hehe. Tulisan saya lanjutin.)

Dalam tulisannya yang berjudul "Esai Sebelum Makan", M.Faizi menuturkan; Secara hiperbolis, Elizabeth Royte menulis dalam National Geographic, (Maret, 2016); “Jangan Buang Makananmu”, bahwa limbah makanan yang dibuang orang, jika dikumpulkan dan dijadikan sebuah negara, akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia , setelah Tingkok dan Amerika Serikat. Masih kurang mengerikan? Di seluruh dunia, tulisnya, produksi makanan yang terbuang dalam setahun dapat menghabiskan air sebanyak aliran Sungai Volga, sungai terbesar di Eropa, juga selama setahun.

Penduduk bumi hari ini kurang lebih ada 7 milliar, dengan gaya hidup konsumtif seperti sekarang ini, Sumber Daya Alamnya (SDA) semakin berat menanggung beban. Sebut saja minyak bumi, banyak informasi menyebutkan cadangannya tak sampai 2050 telah habis. Belum lagi soal makanan, sudah berapa ratua ribu hektar hutan di Sumatera, Kalimantan dan lainnya dibakar untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Itu pun belum mencukupi, melihat harga gula di pasaran melambung tinggi (secara nasional diakibatkan kebijakan tidak boleh impor dan berkurangnya pabrik gula swasta) karena pengaruh harga gula dunia disebabkan gagal panen yang terjadi di Brasil sebagai salah satu negara penghasil tebu terbesar satu tahun kemarin. Belum lagi yang lain. Pendeknya ketahanan pangan dunia mulai melemah.

Jujur saja, sebagai santri unyu-unyu yang gemar membaca kajian tasawuf, saya padamulanya bertanya-tanya, "Apakah ini tidak 'isrof' berlebihan?" ketika melihat kenyataan bahwa di acara-acara keagamaan oun, semisal haul, maulid, walimah yang diadakab oleh para kyai dan habaib seringkali tidak jauh beda dengan pesta-pesta abna al-dunya yang menghambur-hamburkan uang.

Sampai suatu ketika terjawab sudah kemusykilan saya itu. Entah di kitab apa, saya lupa, seingat saya imam Ghazali pernah menuturkan bahwa hewan-hewan dan tumbuhan utu diciptakan Allah untuk memenuhi "kebutuhan manusia". Jadi, tidak masalah hewan-hewan dibunuh (baca: sembelih) untuk memenuhi kebutuhan manusia, sesama makhluk yang lebih dimuliakan Allah. Wa laqad karramna Bani Adam. Dengan catatan out-putnya adalah untuk membantu manusia beribadah kepada Allah.

Kebetulan beberapa tahun terakhir ini saya tidak makan daging. Bukan sedang lakon nyireh. Hanya karena faktor kesehatan saja. Semenjak mendengar penjelasan imam Ghazali, kurang lebih maksudnya seperti yang saya tulis di atas, dan membaca sebuah hadis berikut ini: "barangsiapa tidak (mau) menikah dan tidak (mau) makan daging bukanlah dari golonganku." saya jadi berusaha agar suka makan lebih-lebih daging. Fa rubba makhmashatin syarrun min al-tukhami, bukankah begitu kata al-bushiri; terkadang keadaan lapar itu lebih buruk dari pada kenyang.

Yang membedakan dengan budaya konsumtif adalah cara mensyukurinya. Sesuai kaedah, syukur adalah upaya seorang hamba dalam menggunakan "kenikmatan" itu sesuai tujuan diciptakannya. Sedangkan dalam budaya konsumtif hanya sekadar menuruti hasrat dan sebatas life style.

Toh pada dasarnya dunia ini fana. Sementara. Tidak ada ketahanan pangan yang abadi. Yang ada hanya cara mengelola yang baik. Mengolah lahan bahkan dianjurkan oleh nabi. Tentu nabi juga menganjurkan membayarkan 10 % dari hasil tanah yang diolah tanpa pengairan atau 5 % dengan pengairan. Nabi juga mengajari kita cara mengkonsumsinya. Sekadar beberapa suap untuk tegaknya tulang punggung. Atau kalau memang terpaksa menambah, sebaiknya sepertiga lambung untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk udara. Namun jika alam sedang tidak bersahabat, Allah juga telah mengajarkan pada surat Yusuf bagaimana cara mengatasi ketahanan pangan dan menekan inflasi.

Saya jadi berprasangkabaik, bagi kyai dan orang shalih yang menggantungkan hidupnya kepada Allah apa yang mereka lakukan dalam menghidangkan jamuan begitu rupa bukanlah dalam kategori "israf", berlebihan, pun memubazirkan barang, tidak sama sekali.

Mereka yang menggantungkan segala urusan kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai tujuan segala hajatnya tidak akan khawatir dengan isu ketahanan pangan dan isu lingkungan alam. Yang tidak boleh adalah mubazir (konsumtif), dan merusak alam dan lingkungan, bukan konsumsi dan kerusakan alam karena keduanya merupakan kebutuhan dan keniscayaan.

Mereka yang memiliki keyakinan, bahwa Allah al-Qayyum, Allah yang menghidupkan Allah pula mencukupi kebutuhan hidup tidak akan takut lapar. Onta, kambing -kambing ternak perah padang sahara jauh lebih bergizi dibandingkan kambing ternak di padang savana. Jika bukan karena kemurahan Allah yang meruah, melimpahkan mikroba pada lumut-lumut yang menempel pada krikil dan bebatuan padang pasir, lantas siapa lagi. Keajaiban padang pasir yang mengundang keingintahuan peneliti-peneliti eropa. Mikroba lumut jadi makanan. Subhanallah. Jika tiga butir korma setara dengan sepiring nasi penuh laukpauk, jika sebutir kapsul mikroba lumut sahara cukup untuk memenuhi kebetuhan asupan gizi sehari, tentu bukanlah mustahil bagi Allah untuk menciptakan dari seucap tasbih: "Subhana Allah wa alhamdu lillah wa laa ilaaha illa Allah wa Allahu akbar."-- sebuah energi yang cukup untuk 80 hari.

Sayidina Ali pernah ditanya, " Wahai Ali, bagaimana kamu bisa kuat dalam bertarung, padahal kamu sedikit makan dan minum?"

"Sebagaimana yang engkau ketahui," jawab sayyidina Ali, "pohon yang tumbuh di padang pasir terkadang lebih kokoh ketimbang pohon yang tumbuh di rawa-rawa.
Read more ...
Posted by Unknown at 20:21 No comments:
Labels: Esai

Sejarah Madrasah Tarbiatush Shibyan Jekulo

Tuesday, 7 February 2017

Konon, madrasah. Pertamakali di desa Jekulo adalah madrasah yang didirikan oleh mbah kyai.Tayyib (kakak mbah Sanusi). Namun, sejarahnya kabur dan sangat sulit untuk dilacak. Baru pada era cucu beliau, KH.Dahlan bin Yasir, Jekulo secara resmi memiliki madrasah. Sistem pendidikan agama model klasifikasi ini merupakan oleh-oleh yang diadopsi dari madrasah al-Shaulatiyyah oleh kyai.Dahlan sepulangnya dari tanah suci, Makah.

Di Makah sendiri, pada masa sebelum berdirinya al-Shaulatiyyah, anak- anak di sana tidak memiliki sistem pendidikan spesifik. Lazimnya, pendidikan anak-anak di arab pada waktu itu, dilakakukan secara tradisional di toko-toko. Seperti toko kain, toko minyak wangi, toko kurma dlsb. Setiap toko di sana kurang lebib memiliki anak didik sekitar 10 anak.

Entah, model pendidikan tradisional di toko-toko semacam itu sudah berlangsung sejak Makah masih dibawah kekuasaan Ottoman, atau baru ada sejak keluarga al- Saud menguasai Hijaz. Namun, menurut perkiraan saya, model pendidikan seperti itu baru terjadi ketika faham Wahabismd mulai berkuasa. Mengingat peradaban Ottoman yang begitu maju, dan sejarah panjangnya yang hampir brsentuhan langsung dengan masa keemasan pengetahuan Islam, Dinasti Abbasiyyah.

Pada kejayaan Dinasti Abbasiyyah inilah, menurut catatan sejarah, baru pertamakalinya dicetuskan sistem pendidikan agama dengan model klasikal, yaitu dengan didirikannya madrasah Nizhamiyyah, di Baghdad.
Sistem pendidikan model klasifikasi Nizhamiyah pada masa al-Ghazali dan al-Shaulatiyyah pada era al-Fadani seperti itulah yang kemudian diadopsi oleh Kyai Dahlan untuk madrasah yang baru didirikannya dengan nama 'Tarbiyyatu al-Shibyan'.

Madrasah Tarbiyyatu al-Shibyan yang pada mula tujuan didirikanya diperuntukan bagi masyarakat Jekulo dan sekitarnya untuk pendidikan anak-anak mereka, seiring berkembangnya waktu ada juga anak-anak santri dari pondok Mbareng yang belum bisa bacatulis arab ikut belajar. Biasanya, mbah Kyai.Yasin sendiri yang mengantar santri-santri pemula untuk mendaftarkan dan menyerahkan kepada ipar beliau, Kyai Dahlan agar dididik dengan sebaik-sebaiknya.

Madrasah Tarbiyyatu al-shibyan semakin ramai dan berkembang. Banyak anak-anak penduduk setempat dan anak-anak dari desa sekitar yang ikut bersekolah. Sehingga lambat laun dari generasi inilah masyarakat Jekulo tumbuh menjadi masyarakat religi. (setelah sebelumnya berubah menjadi masyarakat kejawen, mulai dari sepeninggalnya mbah Sewonegoro berakhir sampai masa mbah Sanusi).

Namun sayangnya, pada masa penjajahan, madrasah Tarbiyyatu al-Shibyan ditutup secara paksa. (saya belum informasi akurat. Secara tentatifnya, terjadi antara tahun 1943 - 1948. Dai Nipon - Agresi Militer NICA dan sekutu). Oase tempat anak-anak bermain dan belajar hilang sudah. Semenjak saat itulah madrasah Tarbiyyatu al-Shibyan vakum, dan kegiatan belsjar mengajar kyai Dahlan beliau teruskan cuma di Langgar Dawur (musolla, sekarang menjadi pondok Darussalam, pengasub KH.Mujahid Dahlan). Praktis, aktivitas pendidikan Agama hanya di pesantren Mbareng dan Langgar Duwur, dan hanya orang-orang tertentu terbatas saja yang bisa mengikuti.

Tahun berganti tahun kondisi anak-anak Jekulo yang dulunya mendapatkan pendidikan agama semakin memprihatinkan, apalagi ketika berganti generasi seterusnya semakin jauh dan praktis tak tersentuh pendidikan agama. Para kyai muda merasa sedih, di tempat yang merupakan kawasan pesantren tapi masyarakat sekitarnya timpang.

Kyai-Kyai muda itu --diantaranya kyai Mahun Ali, KH Halimi dll-- menemukan solusi, dan akhirnya Timbul semangat, berinsiatif untuk mendirikan madrasah. Untuk itu mereka sowan ke Kyai Muhammad (selaku sesepuh pada waktu itu) guna meminta restu. Namun, oleh kyai Muhammad mereka diperintahkan agar tidak usah mendirikan madrasah baru --mereka dianjurkan menghidupkan kembali madrasah yang dahulu pernah didirikan kyai Dahlan.

Pada akhir 80-an para kyai muda itu membangun kembali madrasah dari sisa -sisa puing rerobohan peninggalan kyai Dahlan dengan nama yang sama: Tarbiyyatu al-Shibyan. Namun, lokasi madrasah dipindah ke Jekulo Kauman bagian utara, di samping Musola peninggalan Kyai Khalil. Tujuannya, supaya lebih dekat dengan masyarakat.

Begitulah kisah singkat madrasah 'Tarbiyyatu al-Shibyan' yang sempat "roboh" dalam rentang waktu cukup lama sebelum akhirnya para kyai dengan susahpayah mendirikannya kembali. Begitu juga masyarakat sekitar yang berkeluhkeringat dalam bekerjabakti bersama, baik tenaga maupun materi.
Sungguh sayang, sungguh malang jika harus terpaksa "roboh" untuk yang keduakalinya karena kebijakan yang samasekali tak bajik dan tak bijak: program Full Day School.

Sebelum mengakhir tulisan ini, saya ingin menulis rekuim. Puisi ratapan untuk madrasahku di masa bocah:

O, Tarbiyyatu al-Shibyan!
Dahulu, kau ditutup paksa oleh penjajah
Kini, nasibmu lebih tragis lagi
Bangsamu sendiri yang merobohkanmu
Haruskah kamu hilang kembali?

Mohmmad Mujab, Jekulo 13 Agustus 2016

Read more ...
Posted by Unknown at 19:48 No comments:
Labels: Esai

Kopyah Merah Mbah Kandar

Tuesday, 7 February 2017

Fez, kopyah atau peci merah, adalah simbol Turkey Utsmani. Sebuah penutup kepala yang dipakai oleh orang-orang utsmany sebagai identitas. Biasanya terbuat dari karpet merah, berbentuk bundar menjulang tinggi. Seperti mahkota keraton Suryakarta Hadiningrat.

Biasanya kopyah merah utsmany dikenakan lengkap dengkap dengan sorban yang melilitnya, kerap digunakan oleh tokoh Islam sebagai identitas dalam perlawanan terhadap barat baik dalam membendung kolonialism dan westerenisasi.

Di Turkey sendiri, ada tokoh seperti badi'uz zaman Said Nursy. Demi mempertahankan identitas ini, beliau berkata kepada militer Attarturk, "Jika kalian ingin melepaskan imamah ini, kalian harus melepaskan juga kepalanya." Betapa, dalam mempertahankan identitas tsb, Said Nursy rela mengorbankan kepalanya sebagai jaminan. Karena kopyah "imamah" adalah "simbol" Islam. jika bukan karena sikap tegas Nursy yang menolak mengganti dengan topi "laken" mungkin tak akan kita temukan lagi Islam di Turkey.

Itulah imejinasi saya, ketika mendapat cerita tentang kyai. Yasin. Saya membayangkan "kopyah merah" yang dikenakannya sama seperti kopyah merah Said Nursy.

Suatu ketika mbah Yasin memarahi putranya. Kyai.Muhammad yang pada waktu itu masih kecil bersembunyi di bawah bangunan pondok ketika melihat tentara belanda datang ke pesantren. Maklum, ketika itu suasana politik sedang gemting-gentingnya. Belanda mencurigai kalau pesantren merupakan basis pemberontakan, termasuk pondok mBareng ini. Melihat kejadian itu mbah Yasin memanggil putranya dan memarahinya, "Jangan takut sama belanda, tak usah bersembunyi..!" Kurang lebih seperti itu kata mbah Yasin.

Setiap kali rakyat akan ikut bergerilya, baik mereka yang bergabung dengan tentara keamanan rakyat (TKR) atau Hizbullah, kebanyakan dari mereka terlebih dahulu meminta "suwuk" kepada mbah Yasin supaya diberi kekebalan dan keselamatan. Seperti yang diceritakan ayah teman saya, dari Selalang, Tanjungrejo. Ketika pasukan rakyat kalah, ayah teman saya itu termasuk orang yang selamat dan kemudian melarikan diri dengan berjalan kaki sampai di daeran parahiyangan Bandung. Karena merasa bersyukur telah selamat dari peperangan berkah doa mbah Yasin, dia memberikan nama "Yasin" kepada anaknya yang lahir dikemudian hari.

Karena keterlibatan mbah Yasin dalam mendukung "pemberontakan", pasukan belanda kemudian mendatangi pesantren dengan bersenjata lengkap. Saat itu. Kyai yasin sedang mengajar santri-santrinya, beliau tidak menghiraukan kedatangan pasukan Belanda, beliau menyuruh para santri untuk meneruskan mengaji. Sikap itu membuat tentara belanda semakin geram dan kemudian memberondongkan peluru kedalam aula tempat mengaji. Menurut narasumber cerita ini (seorang kyai dari undaan murid mbah yasin), beliau termasuk salah santri yang ikut mengaji dan berada dalam pesantren pada saat kejadian. Ketika itu dia tengkurap bersama santri lainnya, dia melihat berondongan peluru-peluru itu menembus gedek dan lalulalang di atas kepala, sedangkan mbah Yasin tetap duduk melanjutkan membaca kitaab di bawah temaram lampu damar tanpa sedikitpun gentar. Kejadian itu terjadi pada malam hari di (sekarang) aula komplek A, depan ndalem kyai Yasin.

Tatkala gaung perlawanan melawan penjajah semakin besar, lebih-lebih ketika belanda membocemg sekutu dapat menguasai negeri ini. Hadrotussyeikh Hasyim asy'ari ulama pertama yang lantang meneriakan "jihad" melawan penjajah ke seantero negeri, sebagian rakyat dan santri dari jawa tengah berbondong-bondong menuju Surabaya untuk ikut bertempur. Namun kebanyakan masih stan bay di daerah masing-masing. Salah satunya kyai Yasin, beliau memilih tetap di Jekulo daripada berangkat ke Surabaya. Bukan karena takut perang, melainkan karena informasi akan adanya suplay pasukan belanda dan sekutu melalui jalur darat. Maka, mbah Yasin memilih menunggu di Jekulo --yang kebetulan terlewati jalur pantura-- untuk berjaga-jaga.

Benar saja informasi tsb. Belanda dan sekutu mengirim tentara mereka melalui jalur darat untuk membantu pasukan laut mereka dari Batavia ke Surabaya.
Bedil- bedil manual tentara TKR dan Hizbullah harus berhadapan dengan senapan mesin dan tank-tank canggih milik Belanda dan sekutu. Pemandangan yang tak seimbang. Karuan saja, mendengar derum mesin dan roda tank yang menggerus aspal saja sudah merinding apalagi ketika iring-iringan pasukan belanda mulai tampak. Melihat itu, pasukan Hizbullah yang semula pemberani menjadi ciut nyalinya. Mereka tiarap dan merangkak bersembunyi di balik apa saja.

Maka datanglah kyai yasin, dengan mengenakan pakaian kebesarannya: kopyah merah lengkap dengan jubah merahnya. Berjalan di Pantura sambil mengomando dan memberikan semangat kepada pasukan Hizbullah yang sedang ketakutan dan semakin mundur dari garis pertahanannya. "Tentara hizbullah tidak boleh takut sama makhluk. Ayo maju!" kata kyai dengan gagah perwira menghadang laju musuh.
Pertempuran pun pecah antara pasukan Hizbullah yang berada di sebelah timur perempatan kerawang dan tentara belanda dari arah baratnya. Karena perlawanan yang begitu gigih dari kyai. Yasin dan hizbullah, suplay pasukan belanda dari batavia tak jadi melewati desa Jekulo. Mereka memilih jalur lain.
_____________
* kisah ini saya susun dari imajinasi saya berdasarkan cerita dari KH.Afif Hanafi dari murid mbah yasin, kyai Yasin muhammad dari ayahnya, ust.yasin selalang dari ayahnya, dan beberapa cerita voklor yang berkembang di masyarakat pada saat saya masih kecil.

*Pada cerita yang terakhir, "kyai yasin menghadang belanda" si perawi tidam menyebutkan tahun peristiwa terjadinya, sehingga saya kebingungan; apakah i perisriwa itu terjadi pada 1945 bertepatan dwngan peristiwa 10 Npvember, atau, bertepatan dengan peristiwa pertempuran Muria (Halte Mbareng Saksi Bisu Pertempuran Muria, penulis Danar Abdullah) pada agresi I dan II tahun 1947 - 48. Namun dalam catatan ini saya menggunakan yang pertama: peristiwa 10 november. Yaitu, ketika suplay pasukan belanda dan inggris untuk membantu pertempuran di Surabaya melalui jalur darat.

*catatan ini sekadar merekam cerita- cerita yang pernah saya dengar, daripada hilang samasekali. Untuk memenuhi standar penulisan sejarah, maka catatan saya ini masih banyak membutuhkan penelitian serius.
Mohammad Mujab, Jekulo 14 Agustus 2016
Read more ...
Posted by Unknown at 19:42 No comments:
Labels: Esai, Mbah Yasin

Alex Komang dan Pernikahan Quraisyi

Monday, 16 February 2015
"Al-jinsu anis" Sejenis itu terasa nyaman. Begitulah adagium Arab menggambarkan, betapa manusia itu tidak bisa nyaman tanpa sejenisnya. 

Suatu ketika Adam a.s. merasa gelisah hidup di surga. Kanan-kiri hanya melihat malaikat dan bidadari. Padahal semua telah tercukupi. Dia meminta kepada Tuhan agar diciptakan teman yang sejenis. Maka diciptakanlah Hawa. Sejak saat itu ia merasa bahagia. Ia tak peduli, jika pada akhirnya harus diusir dari surga.

Pada perkembangan sejarah umat manusia, Para ulama fikih, utamanya madzhab Syafi'i menekankan perlunya kufu (sederajat) antara pria dan wanita yang akan melangsungkan pernikahan. Bukan soal kasta, yang mengklasifikasi masyarakat, dan pembelaan ulama terhadap kaum bangsawan dan feodalisme. Melainkan kepedulian mereka terhadap keberlangsungan hubungan umat dalam pernikahan dan kehormanisan di tengah-tengah rumah tangganya. Maka para ulama fikih mengkodefikasi hukum "kufuah" dalam bab Nikah yang menunjang terciptanya tujuan itu.

Syariat Islam sendiri dalam al-Qur'an cukup jelas membahas tentang pernikahan. Bahkan semua bentuk pernikahan disinggung di dalamnya; pernikahan inter-regional, inter-nasional, inter-religio, dlsb tidak ada yang kelewatan, hampir semuanya dibahas --baik secara eksplisit (kinayah) melalui cerita-cerita para nabi dan umat terdahulu, dan implisit (sharih) dalam bentuk teks-teks "khitab".

Namun meski demikian, al-Qur'an menekankan, adanya "keharmonisan" dalam sebuah hubungan pernikahan. Salah satunya dengan cara memilih pasangan yang tepat; "dan tidaklah seorang hamba sahaya yang mukmin itu lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun mempesona." Dalam ayat lain juga diperintahkan agar menikah dengan perempuan yang baik, "fankihuu ma thaaba lakum,". Inilah beberapa alasan yang menurut saya menjadi landasan soal kufuah.

Suatu ketika saya berbincang-bincang dengan Alex Komang tentang masalah keluarga. Pada waktu itu kami hampir mengalami nasib yang sama. Hanya saja kami berbeda posisi. Dia sebagai suami dan seorang, dan saya sebagai seorang anak.

Dalam perbincangan itu diia mencoba memandang arif bijaksana dalam menyikapi problem rumah-tangga. Tidak semuanya "problem" terjadi karena adanya kesalahan yang dilakukan dari pihak istri maupun lelaki. Baginya "pernikahan itu kenyamanan", dimana sakinah mawadah warahmah adalah syarat rukunnya. Jika satu saja tidak tercipta dalam rumah tangga, ini bisa menjadi suatu problem.

Seperti telah saya singgung di atas, al-jinsu anis, kufuah, adalah penunjung utama. Syarat inilah yang tidak ada dalam pernikahan beliau. Hingga akhirnya menjadi hilang-nya salahsatu rukun yang menyangga rumah tangga Alex Komang. Masalahnya cuma sepele, pernikahan inter-nasional, perbedaan kewarganegaraan dengan budaya hidup yang berbeda. "Karena saya sudah tidak mampu membahagiakannya" kata sanepo Alex Komang mengindikasikan alasan di atas.

Bukan soal fisik, ekonomi, pekerjaan dan faktor-faktor lainnya, melainkan hanya si istri tidak betah tinggal di Indonesia dan Alex Komang dengan idealisnya tidak bisa meninggalkan tanah-air yang dicintai. "Maka kami memutuskan berpisah. Sedih memang. Tapi itu sebuah resiko yang harus kita terima untuk kebaikan masing-masing." Ujarnya dengan menepis perasaan.

Saya hanya bisa diam. Merasakan kesedihan yang sama. Melihat kenangan pilu pada dinding kamar tempat anaknya yang dipenuhi poster-poster tanpa penghuni. Di mana sekarang keceriaan itu? "Anak saya memilih hidup bersama ibunya di Malaysia" jawab beliau.

Mungkin Alex Komang meyakini, bahwa Pernikahan Quraisyi (campuran); inter-cultural, inter-national, penyilangan gen, akan melahirkan tokoh-tokoh besar. Itulah salah satu harta yang paling berharga yang bisa diwariskan Alex Komang kepada anak-anaknya.

*disarikan dari sisa memori, 6 Ramadlan 2010
Read more ...
Posted by Unknown at 10:34 No comments:
Labels: (tokoh sastra), Esai

Evaluasi "Teori Without Money Politic" Paska Pemilu (2014)

Saturday, 19 April 2014
herman-salim.blogspot


: Mohammad Mujab

Tulisan saya "haram hukum money politic karena melanggar uu negara" dan "money politic bukan suap" (lihat di: samansamin.wordpress.com) paling banyak dibaca dalam seminggu ini, namun dampaknya masih nihil. 

Ketika teori "without money politik" kami aplikasikan untuk pendulangan suara, hasilnya belum bisa dikatakan berhasil. Dari 15 ribu suara yang kami tarjetkan, hanya mendapat sekitar 10,03% saja. 

Kebanyakan masyarakat masih tak mau memilih jika tak dikasih uang. Terlepas dari haram dan tidak, nampaknya jurus sisa-sisa orde baru (money politic) itu masih sangat ampuh. 

Elbert Hubbard pernah berkata, "Uang tidak pernah membodohi siapa pun, melainkan hanya menunjukkan siapakah kita?" 
Read more ...
Posted by Unknown at 20:37 No comments:
Labels: Esai, Kolom, Opini

Jejak Nabi Ibrahim a.s. dan Datuk Ibrahim Tan Malaka Mencari Tuhan

Monday, 3 March 2014
“Al-’alamu haditsun, wakullu haditsin lahu muhditsun (Alam Raya adalah barang baru, setiap barang yang baru, pasti ada penciptanya).”
Inilah manthiq (logika) dasar yang saya pelajari di madrasah dulu, sebagai dalil akan adanya Tuhan. Adapun kemudian Tuhan itu dinamakan “Allah”, itu bukan empan ilmu logika, melainkan berasal tauqifiyyah (ilmu yang diajarkan) Rasulullah, yang bersumber dari wahyu.
Namun untuk mengenal (makrifat) Sang Pencipta alam raya yang bernama Allah, tidaklah semudah belajar ilmu manthiq dan ilmu aqidah (teologi). Seseorang membutuhkan perjalanan spiritual yang sangat panjang untuk sampai di titik tersebut! Paling tidak, inilah yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim as dan Datuk Ibrahim Tan Malaka.
                                                                                                    ***
Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim as) melihat sebuah bintang, lalu dia berkata; ini Tuhanku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata; saya tidak suka kepada yang sirna (tenggelam). Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata; inilah Tuhanku.
Read more ...
Posted by Unknown at 10:11 No comments:
Labels: Artikel, Esai, Kolom, Opini

Gaung Gunung Kelud Mengalahkan Romantisnya Hari Valentine

Thursday, 13 February 2014

merdeka(dot)com
Seperti kita ketahui bersama, Frebuari identik dengan Valentine, hari yang dipuja-puji semua pemuja cinta. Dari semua lapisan masyarakat, baik tua muda, sedengan, wanita pria, kaum gay lesby, baik dari yang beragama -Protestan, Katolik, Islam Hindu, Budha, Zen, Zoroisme dst- maupun yang tidak bergama, semuanya memujanya, karena semua orang siapapun mereka pasti memiliki cinta dalam hatinya.

Seorang yang otoriter saja, misalnya pak Harto, atau misalnya juga seorang diktator, seperti Hitler, seorang pemimpin kejam dan sadis, yang terkenal sebagai bapak genosid, Jengis Khan, saya yakin mereka memiliki cinta. Minimal, paling tidak kecintaan mereka kepada dirinya sendiri, atau sedikit lebih cinta kepada keluarga, cinta kepada ideologi buah pikirannya, cinta kepada ras bangsanya. Mereka menggenggam cinta itu erat-erat tak akan mau melepaskan meski kematian memaksa dan mengancam. Tak akan mau mereka melepaskan. Sehingga tidak ayal jika hari Valentine itu dipuja-puji disana-sani, di semua negara di seluruh dunia, lebih-lebih kaum muda-mudi, kaum GBHN (generasi binal hedo narsis) pecinta sesaat
Read more ...
Posted by Unknown at 20:43 No comments:
Labels: Esai, Opini

JAWATERA

Sunday, 26 January 2014
Sudah lama sekali bangsa Sumatera ingin menagih kepemimpinan atas Nusantara dari bangsa Jawa, semenjak Mahapatih Gajah Mada mengibarkan panji kepemimpinan Majapahit.
gamers12ipa8(dot)blogspot(dot)com
Di era state-nation, menjelang kemerdekaan bangsa ini dari penjajah asing, ada Tan Malaka yang begitu getol ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini dari tangan kolonial Belanda.
Dalam perjuangannya tersebut bisa kita tangkap ada misi tersembunyi dibaliknya, yaitu merebut kepemimpinan dari bangsa Jawa. Menurutnya, bangsa Minangkabau jauh lebih unggul soal budaya.
Orang Belanda berkata, "Maluku (is) het verleden, Java (is) het heden, Sumatera (is) de teokomst -- Kebesaran Indonesia dahulu terletak di Maluku, sekarang di Jawa, nanti di Sumatera."
Kata yang megandung makna metafora ini, oleh Tan Malaka ditafsirkan sebagai berikut; Sumatera yang pelopor, Jawa yang sekarang dan hari depannya Indonesia, boleh jadi sekali kembali ke Sumatera.
Dalam sejarah paska-kemerdekaan bangsa kita juga terjadi hal yang sama --pembelotan anggota TNI dan pemberontakan PRRI di Sumatera, hingga DI/TII dengan motif yang sama: Merebut kepemimpinan dari bangsa Jawa.
Akibat dari itu, PSI dan Masyumi dibekukan oleh Presiden Soekarno, karena keterlibatan beberapa tokoh utama dua partai tersebut dalam tragedi pemberontakan yang kita kenal dengan istilah "Permesta".
Namun yang perlu digaris bawahi di sini adalah "cara apa yang hendak dipakai untuk memperebutkan kepemimpinan tersebut"; Apakah dengan cara konstitusi atau non-kontitusi?
Kalau perebutan tsb memakai cara-cara yang sah secara konstitusi dan moderat saya yakin semua orang Jawa akan legawa, tapi kalau cara yang dipakai adalah non-konstitusi dancenderung fundamentalis, mengadakan propaganda belah bambu dan pemberontakan, saya ragu kalau orang Sumatera sendiri akan mendukung tindakan gegabah itu! (*)
 __________


dimuat di situs Komunitas Pelajar Indonesia (kompi.org)
Read more ...
Posted by Unknown at 04:52 No comments:
Labels: Catatan Pendek, Esai

KORBAN POLITIK ADU DOMBA

Sunday, 29 September 2013
tempodotcom

Pada tahun 1965 seorang anggota lekra yang sedang bertugas di Kolombo dipersona-non-gatra-kan oleh  pemerintah setempat. Menyusul kemudian tragedy 1 oktober 1965 yang mempersulit hidupnya. Empat tahun kemudian ia tertangkap dan di‘buru’kan bersama kader-kader PKI lainnya.

Dalam buku memoar yang ia tulis terdapat dialog yang menarik. Dialog ketika seorang tonwal menggiring para tapol menuju baraknya:

“Parlente! Saya tahu, orang dari Jawa semua pinter-pinter.. masa kamu sekolah es-er!
"Itu Pak tua, dulu sekolah apa?” tanya si tonwal kemudian kepada tapol lainnya.
“Pondok (pesantren) Pak.”
“Bagaimana kamu islam jadi Komunis?!”

Pak tua hanya diam. Percakapan berhenti. Sebab tahu, percuma jika menjawab. Ia bergegas berjalan menyusul teman-temannya yang masih muda.

Memang mengherankan ada seorang santri lulusan pesantren yang kemudian menjadi kader PKI. Ini sangat berseberangan, setidaknya dengan Film G 30,s PKI yang sering kita saksikan di layar televisi. Bagi anak-anak era 90-an pasti masih lekat film tersebut dalam ingatannya.

Dalam film yang diputar setiap 30 september untuk memeringati peristiwa berdarah tersebut, ada scane adegan yang bertentangan dengan jawaban pak tua. Satu adegan dimana para masa PKI menyerbu warga yang sedang berjamaah di suatu Mushalla. Terlihat dengan bengisnya anggota PKI membantai membabi buta, seluruh yang berada di langgar mati, tak terkecuali seorang kyai yang menjadi imamnya.

Adegan tersebut menggambarkan tragedi brentrokan fisik yang terjadi antara santri pro-replubik dan abangan pro-komunis. Sejarah perang saudara yang mengenaskan. Sejak bentrokan kudeta madiun, sampai gerakan gestapu (setelah aksi landreform) jumlah korban diperkirakan mencapai 250.000 jiwa, kebanyakan dari golongan komunis

Terlepas dari benar dan salah, perang saudara tersebut adalah peristiwa terburuk dalam sejarah kemerdekaan bangsa kita. Perang Saudara juga tak mewariskan apa-apa selain kerugian bagi diri sendiri, dan keuntungan bagi fihak lain.

Paska perang saudara dan lengsernya Bung Karno, Presiden Richard Nixon berkata "Indonesia adalah hadiah terbaik asia tenggara untuk Amerika".

Jelas sudah. Secara tidak langsung darah saudara-saudara kita, telah kita donorkan cuma-cuma untuk kelangsungan hidup negara lain. --Negara-Negara yang hampir mati karena kehabisan darah di Perang Dunia II.

Pada akhir jabatan Soeharto (sekitar tahun 1995-1996), Gus Maksum (selaku pelaku sejarah) mendatangi istana Negara, meminta untuk menghentikan pembohongan publik. Beliau meminta kepada presiden Soeharto untuk meluruskan sejarah. Tidak lama setelah itu, Soeharto lengser dari kursi kepresidenan, dan Film G 30s PKI tidak pernah lagi ditayangkan.

“Di daerah kami, tentara menangkapi anggota komunis dan kemudian membawa mereka ke lokasi tertentu, biasanya tempat yang dekat dengan sungai. Komandan banser akan mengirim anak buahnya ke sana untuk membunuh mereka. Dan itulah yang boleh dilakukan oleh Banser.” - Pengakuan dari pelaku sejarah lainnya. Dikutip dari buku Ijtihad Politik Ulama, Lkis.

Dalam pembantaian kader dan simpatisan komunis, kebanyakan tidak ada perlawanan dari korban. Mereka sadar betul akan ideologi yang mereka yakini, mereka menghadapinya dengan keyakinan sepenuhnya, bahwa yang mereka pilih adalah benar; social dan keadilan yang merata. Bukan pasrah dan terpaksa, melainkan lilah, dan senang hati. Karena mereka sadar, pembunuhan tersebut adalah fitnah.

“Biarlah orang-orang menganggap saya komunis, namun di mata Tuhan saya tetap pemeluk islam” kata Tan Malaka, sebagai pembelaan atas tuduhan atheis terhadap dirinya.

Perlu diketahui; komunis di  Indonesia adalah ideology politik, bukan (murni) theology dan keyakinan agama (atheis).

Asalkan dalam keadaan Islam, aku tidak perduli lagi bagaimana cara matiku. Demikian saya kutip satu bait dari syair arab klasik untuk menggambarkan keadaan mereka (korban-korban) pada saat terjadi pembantaian. Semoga al-Qatil wal Maqtul fil Jannah (pelaku dan korban masuk surga), mengingat keduanya merupakan korban politik adu domba.


Kudus, 6 Mei 2012
Read more ...
Posted by Unknown at 12:14 1 comment:
Labels: Catatan Pendek, Esai

The Great Day

Sunday, 7 July 2013



Tanggal 6 bulan Juli tentunya bukan tanggal dan bulan populer. Mungkin tidak ada sejarah besar yang terjadi pada tanggal dan bulan tsb, kecuali sedikit yang masih tersisa dari peradaban Mesir kuno; di saat Dewa Tammuz memberkati panen raya di perkebunan-perkebunan tepi sungai Nil. Apalagi soal angka '6' itu, meski populer, tapi ia seolah menjadi sirikan yang berusaha dijauhi banyak orang. 

Tentang mitos dan astrologi 6 Juli; banyak peristiwa nahas yang sering terjadi dikaitkan dengan tanggal tsb. Maksud saya angka '6', seperti triple six (666), yang apabila ditulis dengan bilangan Yunani mempunyai bunyi "lux ferre" (lucifer) -dewa kegelapan. Yang dalam ilmu astrologi dikenal juga dengan istilah Venus (bintang fajar). Bahkan orang yang tak percaya tentang astrologi pun, seperti Pramoedya Ananta Toer misalnya ( yang dalam pembukaan kuartet pulau buru, ia menolak mentah-mentah tentang konsep weton) pada akhirnya tunduk pada keganasan angka '6'. Entah lupa atau tidak, nyatanya ia mengeluarkan statmen seperti berikut; "..Dalam sejarah modern kita, selamanya Angkatan Muda menjadi motor perubahan ke arah yang lebih maju, kecuali Angkatan 66.." -begitu cibirnya pada tragedi berdarah yang menzaliminya. Ya. Angka 66 itu, seolah mengutuk orang-orang komunis dalam sejarah di Indonesia.

Dahulu, ketika saya masih kecil, tanggal 6 samasekali tidak familiar bagi saya, seperti halnya mitos-mitos tentang angka setan tersebut. Tidak seperti tanggal 12 (lahirnya kanjeng nabi) dan tanggal besar Islam lainnya yang selalu diperengati di kampung saya. Tanggal 6 tetaplah tanggal 6. Meski ketika saya telah mulai suka membaca beberapa artikel, saya tetap tak percaya mitos itu. 


Angka 6 bukan angka setan. Bukan pula pentagram zionis Yahudi, dan triple six itu pula bukan lambang perusahaan keluarga Rothchild, seperti yang disangka orang-orang yang percaya adanya konspirasi fremansory; "novus ordo seclorum" -menaruh dunia di bawah tatanan skuler. Konon, itu jargon operanya.

Mengapa saya tidak percaya itu? Jelas sudah bagi saya, Islam, agama yang saya peluk semenjak sebelum lahir, telah merobah paradigma tentang angka. Islam mengajarkan kepada saya untuk selalu thinking positif, Islam juga menghilangkan seluruh kutukan buruk tersebut melalui konsep teologi akidahnya dengan tegas dan mantap; pada butir sila ke-6 rukun Iman, yang jumlah silanya ada 6 (enam) pula itu!

Dan tahu tidak teman-teman? Tanggal 6 bulan Juli yang mulanya tidak familiar dan populer itu, bahkan cenderung dijauhi itu, tiba-tiba beberapa tahun terakhir ini menjadi hari yang istimewa bagi saya. The great day, macam hari kelahiran saya sendiri. Bukan karena tanggal tersebut memiliki sejarah besar, bukan pula karena weton yang baik, tetapi pada tanggal dan bulan itu, tepatnya 23 tahun silam, Allah menumbuh-retaskan variates baru, dari nutfah Lotus dan Anyelir. Ialah bakal tanaman utama di proyek kebun pribadi yang sedang aku rencanakan. Semoga Allah memberkahi dan merahmatinya, sebagaimana telah Ia lakukan pada tanggal 6 bulan Juli dua dasawarsa silam. Senang sekali; Ya Allah, terima kasih.


*Kudus, 6/07/13
Read more ...
Posted by Unknown at 03:30 No comments:
Labels: Esai

Mengusut Rahasia puisi Aku Gendeng Kamu

Wednesday, 26 June 2013
Usman Arrumy
 
Oleh: Usman Arumy
  Mengusut Rahasia puisi Aku Gendeng Kamu yang ditulis Moehammad Mujab

Setiap puisi mengandung penafsiran tematik, pembaca punya hak untuk mengusut rahasia yang sembunyi di balik kata. Penafsiran terus bergerak sejalan dengan tingkat penghayatan masing-masing. Itu bisa terjadi hanya terhadap pembaca yang menjadikan puisi sebagai bagian dari hidupnya. Puisi pun, sebenarnya dapat ditulis oleh seorang yang identitasnya bukan penyair, sebab puisi tidak hanya dimiliki penyair, ia dapat ditemu di mana saja, bahkan pada rambu lalu-lintas, misalnya, pada seseorang yang membaca kalimat ''Selamat datang di kota wali Demak'', ia bisa saja menetapkan sebagai puisi dengan alasan di dalam kota itu terdapat seseorang yang dicintai. Jadi cinta menjadi tolak-ukur untuk menentukan kalimat tersebut dimetaforakan sebagai puisi dalam pengertian diluar jalur asli.

Kelihatan remeh, memang. Tapi itu yang terjadi. Keadaan yang musykil dihindari bahwa kalimat yang secara empiris bukan puisi bisa secara gampang diubah hanya dengan sekali cinta. Aku menemukan dan membaca puisi yang menurutku layak untuk diusut maknanya. Judulnya Aku Gendeng Kamu, judul yang mengandung paham cinta. Gendeng, secara bahasa ia diserap dari Jawa, jika diindonesiakan akan berarti Gila.


Puisi tersebut ditulis oleh Gus Mujab, seumpama tanpa nama pena pun, ada kemungkinan besar bisa kukenali, secara gradual aku sudah mafhum dengan cara penyampaiannya, dan puisi ini menurutku, sudah bisa menjadi identitas bagi sekian banyak tulisannya.

***
Ngantukmu juga ngantukku
karena kamu adalah mataku
ketiduranmu di dekapanku
kesadaranmu di pelukanku
kejujuranmu di kepercayaanku
karena, kekasihmu ialah aku

Paragraf pertama dari keseluruhan puisi ini menjadikanku meraba, bahwa kalimat tersebut berhaluan pada referensi sistem cintanya Manshur Al-Hallaj dengan metoda Hulul-nya atau, Siti Jenar dengan teori Manunggaling Kawulo Gusti-nya. ''Ngantukmu juga ngantukku'' adalah kalimat untuk menyampaikan cinta secara samar, dua manusia yang menghendaki saling paut, saling terikat. Tak ada yang lebih penurut ketimbang ia yang sedang mengalami keadaan cinta. Jika kamu ngantuk, aku juga ngantuk. Itu cintanya sudah tak bisa diukur dengan akal, bahwa pada keumuman begitu cinta ia tak bisa menghindar dari sublimitas orang yang dicintai, bahwa melalui cinta dua benda bermanifestasi menjadi tunggal.

Setiap sesuatu memang tidak selalu membutuhkan alasan, alasan adalah penjelasan bagi deskripsi yang masih remang. Maka dari itu, Gus Mujab menjawab bait pertama dengan ''Karena kamu adalah mataku'', Kamu berarti objek utuh dari jenis afektif. Bagaimana bisa sepasang mata menjadi tubuh dalam pengertian yang utuh? Maka untuk menolak keganjilan itu, aku kembali merajuk pada hukum Licencia Poetica--hukum yang mengizinkan seorang penyair menulis dengan cara yang berbeda, bukan keluar dari hukum itu sendiri.

Bait selanjutnya pun nyaris tak ada bedanya dengan bait sebelumnya, ketiduranmu di dekapanku/
kesadaranmu di pelukanku. Tapi ada kesenjangan dengan bait yang pertama, kalau bait pertama mutlak menunggalkan dua, bait selanjutnya justru hendak memisahkannya kembali. Ketiduranmu di dekapanku, kesadaranmu di pelukanku, aku kira itu ada jarak, dekapan butuh ruang, pelukan perlu tempat; Dada. Gus Mujab nampaknya lupa atau memang sengaja berniat demikan. Akan lebih tepat jika masih bertahan pada sikap tunggal sebagaimana bait pertama, misal diganti dengan Ketiduranmu di lelapku, kesadaranmu di bangunku.

Mungkin kalimat yang kumisalkan tersebut lebih mengandung makna tunggal tinimbang diksi yang dipilih Gus Mujab itu. Kesadaran pada bait kesadaranmu di pelukanku punya dua pemahaman. Kalau yang dimaksud Kesadaran itu terjaga yang berarti tidak tidur, maka aku sepakat. Tapi jika Kesadaran itu bermaksud kewarasan, keinsafan setelah melalui tahap salah, itu akan keluar dari struktur metafora yang dirangkai dari awal. Maka dengan itu aku bertanya manakah yang dipilih, dimaksud pada diksi yang sama dengan makna yang berbeda itu?

Sifat jujur selalu memberikan efek percaya pada lain orang, menanamkan kepercayaan dengan cara jujur, kejujuran pun, tidak selalu kepada lainnya, kepada diri sendiri pun ada tuntutan untuk berlaku jujur. Itu sebabnya mungkin ada istilah ''Yang jujur, Mujur''. maka pada bait penutup dalam paragraf pertama Gus Mujab bertekad untuk memakai istilah itu; kejujuranmu di kepercayaanku/ karena, kekasihmu ialah aku. Kata Kekasih dalam kalimat tersebut menjadi alasan mengapa ia percaya, maka bisa menjadi kesimpulan sementara bahwa Kekasih adalah kejujuran itu sendiri, kekasih urung menjadi kekasih jika kejujuran tidak menjadi bagian dari asimilasi hidupnya.

***

Sebagaimana kau adalah pencarianku
aku adalah pencarianmu
karena yang kau cari adalah aku
begitu pun yang kucari adalah kamu

Paragraf kedua pada puisi ini nampaknya mulai mengalami aklasia dalam menyampaikan, jelas kalimat tersebut tidak membentuk deiksis makna penunggalan dari dua. Sebab pencarian bergantung pada jarak; kontradiksi secara redaksional dengan bait pertama dari paragraf pertama bukan? Ya, tentu. Tunggal tak butuh ruang, sementara jarak tak hanya ruang, apalagi dikaitkan dengan pencarian, maka ia menjelma lebih dari ruang. Jika hendak konsisten terhadap makna tunggal, mestinya Gus Mujab perlu mempertimbangkan lebih masak pada kalimat tersebut, misal diganti dengan; Pencarianku mengandung pengembaraanmu, jejakku menyimpan langkahmu.

Mungkin tak baik jika aku lebih jauh ikut campur dalam persoalan pemilihan diksi, sebab puisi, bagaimanapun juga, ia tergantung selera penulis, tiap penulis punya sikap untuk menentukan mana yang lebih patut untuk disertakan pada serangkaian puisi. Itu mutlak milik penulis. Akan beda keadaannya jika penulis meminta saran, merujuk ke seorang tertentu dalam rangka mempertimbangkan.

Lebih ke bawah aku kian tidak menemu makna tunggal yang semula kuterka sebagai esensi dari puisi ini; Aku adalah aku
kamu adalah kamu
kita hampir sama

Kata Hampir berarti cuma keadaan ''mendekati''. Tidak menemu. Nyaris: Ketunggalan pudar pada kalimat itu. Jika Gus Mujab meninjau ulang secara seksama, akan lebih eksak menggunakan ''Aku adalah kamu/ kamu adalah aku'' sebagai varian dari kelanjutan sikap tunggal.

Ternyata, aku salah. Pada paragraf ke tiga ini Gus Mujab lebih mengedepankan otak-atik huruf sebagai hipotesis teori pemakaian kata. Antara aku dan kamu/ hanya beda peletakan saja/ hanya beda satu huruf/ tapi aku bisa sama denganmu/ : dalam Kau. Ada sesuatu yang ganjil, mengapa Gus Mujab memakai huruf besar pada kata ''Kau''? Atau jangan-jangan obyek dari puisi ini dalah Tuhan? Musykil. Sebab jika benar yang dikehendaki adalah Tuhan, maka puisi ini akan mempunyai kelainan. Tuhan pun, bagaimanapun tafsirannya, akan menolak keadaan ''Ngantuk''.

Sesungguhnya dari awal bait pertama aku mengira kalau puisi ini bertendensi dengan tema Tunggal. Tapi kian jauh ternyata mengalami dekadensi makna Tunggal. Dari sini aku merasa gagal untuk menafsir sesuai penghayatan awalku.

Sukasuka aku, sukasuka kamu
kamu sukasuka, aku sukasuka
aku suka kamu, kamu suka aku
aku dan kamu

Alangkah redup akalku ketika menyimak kalimat tersebut, nampaknya Gus Mujab habis membaca puisinya Sutarji Calzoum Bachri, sebenarnya jika boleh jujur, aku akan menggugat Gus Mujab untuk merevisi total puisi ini, sebagaimana bait pertama; ngantukmu juga ngantukku/ karena kamu adalah mataku, Itu sudah cukup membuatku terkesima bahwa makna tunggal disitu mutlak berwujud. Tapi, seperti yang sudah kusampaikan di atas bahwa puisi, apapun jenis dan bentuknya, sepenuhnya bergantung pada selera dan keadaan ketika ia menulis. Jadi, tekadku untuk menggugat terbentur dengan pengertian tesebut.

Dengan segala hormat, aku respek pada puisi ini secara kemenyeluruhan, kritikku di atas bukan berarti menggagalkannya jadi puisi, sebab apapun motifnya itu hanya soal pendapat yang tidak cukup punya kapasitas untuk mereduksi lahir-batinnya sebuah puisi. Aku menamai ini puisi Gendeng yang ditulis dalam keadaan bingung--ketika hati dirundung cemas, cemas membuka peluang untuk masuk ke dalam keadaan tidak labil. Ketidak-labilan Gus Mujab dalam menulis puisi menjadi akalnya jadi krusial. Nyatanya, pada paragraf terakhir justru melemparkan pernyataan ''Halah mbuh, pokoknya aku gendeng kamu''.

Pada akhirnya, puisi Aku Gendeng Kamu ini kupilih menjadi opsi pertama untuk kuusut rahasianya, sebab dari sekian puisinya, aku menemukan potensi memadai dalam setiap katanya. Meski penafsiran senantiasa bergerak ke arah yang tak pernah selesai, tapi dari sini setidaknya ada upaya untuk sedikit membuka jalan menuju terang. Bahwa konflik intern dalam puisi justru terletak pada tingkat penghayatan pembaca, sebab penyair cuma berperan menulis puisi yang sebenarnya mengosongkan tema, dan pembacalah yang akhirnya mengisi tema tersebut dengan beragam penafsiran. Salam!

26 Juny 2013. Nasr City
Read more ...
Posted by Unknown at 10:44 No comments:
Labels: Esai, Kritik Sastra

Terima Kasih, Kekasih.

Saturday, 8 June 2013
Terima kasih untukmu kekasih - kuucap dengan lisan yang meresap dari sanubari - atas waktu dan kesempatan yang kau luangkan untukku. Masih ingatkah kau, saat seratan pertamaku datang dengan segala kebimbangan dan keputus-asaan,  engkau balas dengan tegas penuh semangat, engkau lerai derai dan engkau padamkan kobaran api dalam hati, engkau bisikan tulisan lembut padaku “aku berharap setelah datangnya surat ini engkau bisa lebih tenang.  Ya… itu harapanku!” – kira kira seperti itu yang kau tulis dalam surat singkatmu.

Terimakasih
. Engkau telah menemaniku melewati badai, walupun kedatanganmu sendiri sempat mengguncang jiwaku. Aku sadar, terkadang music melo membawa perasaan menjadi sedih, dan music banjo akan mudah membuat sesorang melompat menari kegirangan. Aku sadar,  jika kebahagiaan dan kesedihan acapkali senantiasa beriringan berkunjung dalam kehidupan kita. Namun sayangnya, kita tidak mampu menahan ekspresi saat keduanya datang; mengeluh saat musibah dan berlebihan saat bahagia.
Read more ...
Posted by Unknown at 23:52 No comments:
Labels: Catatan Pendek, Esai
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Total Pageviews

Sparkline

Popular Posts

  • Sotya Murca Ing Embanan
    www.tate.org.uk  Konon katanya; di negeri mataram kuno terdapat suatu daerah yang dihuni kawanan burung. Daerah tersebut Semacam h...
  • Cerita Anak Adam
    engkaulah anak manusia bagiku, memahamimu bagai tengah malam  mencari anak semut hitam, menghindar darimu  sesulit menghindar dari s...
  • Tentang Tuhan (Mohammad Mujab Quote's)
    Tentang Tuhan 1 Tentang Tuhan 2
  • aku benci
    facebook.com aku benci aku benci pada waktu yang membuatku menunggunya aku benci pada jarak yang membuatku jauh darinya aku benci ...
  • Bedah Novel Taman Iram di STAIN Kudus
    Bersama Dr. Saechan, Bedah Novel Taman Iram di STAIN Kudus 22 Maret 2012)
  • Keografi Puisi Kartini: Empati, Simpati, Cinta, Persaudaraan dan Persahabatan
    وَ الَّذينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَ الْإيمانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ وَ لا يَجِدُونَ في‏ صُدُورِهِمْ حاجَ...
  • The Great Day
    Tanggal 6 bulan Juli tentunya bukan tanggal dan bulan populer. Mungkin tidak ada sejarah besar yang terjadi pada tanggal dan bulan t...
  • GELIAT ANAK MUDA
    Suatu malam tiba, Seorang bocah berlari tanpa kaki, Berteriak-kan kata, "Aku hidup tanpa Ayah!!" "Aku terlahir tanpa Ib...
  • Terima Kasih, Kekasih.
    Terima kasih untukmu kekasih - kuucap dengan lisan yang meresap dari sanubar i - a tas waktu dan kesempatan y an g kau luangkan untukku...
  • Mengusut Rahasia puisi Aku Gendeng Kamu
    Usman Arrumy   Oleh: Usman Arumy   Mengusut Rahasia puisi Aku Gendeng Kamu yang ditulis Moehammad Mujab Setiap puisi mengandun...

Translate

Labels

  • (cerpen)
  • (lirik lagu)
  • (puisi)
  • (tokoh sastra)
  • Artikel
  • Catatan Pendek
  • Cerpen
  • Esai
  • Fabel
  • Foto
  • Kolom
  • Kritik Sastra
  • Lukisan
  • Mbah Yasin
  • Opini
  • Portofolio
  • Puisi
  • Riwayat

Buku Tamu

Powered by Blogger.
Ported to Blogger by Prayag Verma