Sudah
lama sekali bangsa Sumatera ingin menagih kepemimpinan atas Nusantara dari
bangsa Jawa, semenjak Mahapatih Gajah Mada mengibarkan panji kepemimpinan
Majapahit.
![]() |
| gamers12ipa8(dot)blogspot(dot)com |
Di
era state-nation, menjelang kemerdekaan bangsa ini dari penjajah asing, ada Tan
Malaka yang begitu getol ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini dari tangan
kolonial Belanda.
Dalam
perjuangannya tersebut bisa kita tangkap ada misi tersembunyi dibaliknya, yaitu
merebut kepemimpinan dari bangsa Jawa. Menurutnya, bangsa Minangkabau jauh
lebih unggul soal budaya.
Orang
Belanda berkata, "Maluku (is) het verleden, Java (is) het heden, Sumatera
(is) de teokomst -- Kebesaran Indonesia dahulu terletak di Maluku, sekarang di
Jawa, nanti di Sumatera."
Kata
yang megandung makna metafora ini, oleh Tan Malaka ditafsirkan sebagai berikut;
Sumatera yang pelopor, Jawa yang sekarang dan hari depannya Indonesia, boleh
jadi sekali kembali ke Sumatera.
Dalam
sejarah paska-kemerdekaan bangsa kita juga terjadi hal yang sama --pembelotan
anggota TNI dan pemberontakan PRRI di Sumatera, hingga DI/TII dengan motif yang
sama: Merebut kepemimpinan dari bangsa Jawa.
Akibat
dari itu, PSI dan Masyumi dibekukan oleh Presiden Soekarno, karena keterlibatan
beberapa tokoh utama dua partai tersebut dalam tragedi pemberontakan yang kita
kenal dengan istilah "Permesta".
Namun
yang perlu digaris bawahi di sini adalah "cara apa yang hendak dipakai
untuk memperebutkan kepemimpinan tersebut"; Apakah dengan cara konstitusi
atau non-kontitusi?
Kalau
perebutan tsb memakai cara-cara yang sah secara konstitusi dan moderat saya
yakin semua orang Jawa akan legawa, tapi kalau cara yang dipakai adalah
non-konstitusi dancenderung fundamentalis, mengadakan propaganda belah bambu
dan pemberontakan, saya ragu kalau orang Sumatera sendiri akan mendukung
tindakan gegabah itu! (*)__________
dimuat di situs Komunitas Pelajar Indonesia (kompi.org)

No comments:
Post a Comment