 |
| tempodotcom |
Pada tahun 1965 seorang anggota lekra yang sedang bertugas di Kolombo
dipersona-non-gatra-kan oleh pemerintah setempat. Menyusul kemudian
tragedy 1 oktober 1965 yang mempersulit hidupnya. Empat tahun kemudian
ia tertangkap dan di‘buru’kan bersama kader-kader PKI lainnya.
Dalam buku memoar yang ia tulis terdapat dialog yang menarik. Dialog ketika seorang tonwal menggiring para tapol menuju baraknya:
“Parlente! Saya tahu, orang dari Jawa semua pinter-pinter.. masa kamu sekolah es-er!
"Itu Pak tua, dulu sekolah apa?” tanya si tonwal kemudian kepada tapol lainnya.
“Pondok (pesantren) Pak.”
“Bagaimana kamu islam jadi Komunis?!”
Pak tua hanya diam. Percakapan berhenti. Sebab tahu, percuma jika menjawab. Ia bergegas berjalan menyusul teman-temannya yang masih muda.
Memang
mengherankan ada seorang santri lulusan pesantren yang kemudian menjadi kader
PKI. Ini sangat berseberangan, setidaknya dengan Film G 30,s PKI yang
sering kita saksikan di layar televisi. Bagi anak-anak era 90-an pasti
masih lekat film tersebut dalam ingatannya.
Dalam film
yang diputar setiap 30 september untuk memeringati peristiwa berdarah
tersebut, ada scane adegan yang bertentangan dengan jawaban pak tua.
Satu adegan dimana para masa PKI menyerbu warga yang sedang berjamaah di
suatu Mushalla. Terlihat dengan bengisnya anggota PKI membantai membabi
buta, seluruh yang berada di langgar mati, tak terkecuali seorang kyai
yang menjadi imamnya.
Adegan tersebut menggambarkan
tragedi brentrokan fisik yang terjadi antara santri pro-replubik dan
abangan pro-komunis. Sejarah perang saudara yang mengenaskan. Sejak
bentrokan kudeta madiun, sampai gerakan gestapu (setelah aksi landreform) jumlah
korban diperkirakan mencapai 250.000 jiwa, kebanyakan dari golongan
komunis
Terlepas dari benar dan salah, perang saudara tersebut adalah peristiwa terburuk dalam sejarah kemerdekaan bangsa kita. Perang Saudara juga tak mewariskan apa-apa selain kerugian bagi diri sendiri, dan keuntungan bagi fihak lain.
Paska perang saudara dan lengsernya Bung Karno, Presiden Richard Nixon berkata "Indonesia adalah hadiah terbaik asia tenggara untuk Amerika".
Jelas sudah. Secara tidak langsung darah saudara-saudara kita, telah kita donorkan cuma-cuma untuk kelangsungan hidup negara lain. --Negara-Negara yang hampir mati karena kehabisan darah di Perang Dunia II.
Pada
akhir jabatan Soeharto (sekitar tahun 1995-1996), Gus Maksum (selaku
pelaku sejarah) mendatangi istana Negara, meminta untuk menghentikan
pembohongan publik. Beliau meminta kepada presiden Soeharto untuk meluruskan sejarah. Tidak lama setelah itu, Soeharto lengser dari kursi kepresidenan, dan Film G 30s PKI tidak pernah lagi ditayangkan.
“Di daerah kami, tentara menangkapi
anggota komunis dan kemudian membawa mereka ke lokasi tertentu,
biasanya tempat yang dekat dengan sungai. Komandan banser akan mengirim
anak buahnya ke sana untuk membunuh mereka. Dan itulah yang boleh
dilakukan oleh Banser.” - Pengakuan dari pelaku
sejarah lainnya. Dikutip dari buku Ijtihad Politik Ulama, Lkis.
Dalam pembantaian kader dan
simpatisan komunis, kebanyakan tidak ada perlawanan dari korban. Mereka
sadar betul akan ideologi yang mereka yakini, mereka menghadapinya
dengan keyakinan sepenuhnya, bahwa yang mereka pilih adalah benar;
social dan keadilan yang merata. Bukan pasrah dan terpaksa, melainkan
lilah, dan senang hati. Karena mereka sadar, pembunuhan tersebut adalah
fitnah.
“Biarlah orang-orang menganggap saya komunis,
namun di mata Tuhan saya tetap pemeluk islam” kata Tan Malaka, sebagai
pembelaan atas tuduhan atheis terhadap dirinya.
Perlu diketahui; komunis di Indonesia adalah ideology politik, bukan (murni) theology dan keyakinan agama (atheis).
Asalkan dalam keadaan Islam, aku tidak perduli lagi bagaimana cara matiku. Demikian saya kutip satu bait dari syair arab klasik untuk
menggambarkan keadaan mereka (korban-korban) pada saat terjadi
pembantaian. Semoga
al-Qatil wal Maqtul fil Jannah (pelaku dan korban
masuk surga), mengingat keduanya merupakan korban politik adu domba.
Kudus, 6 Mei 2012