Showing posts with label Catatan Pendek. Show all posts
Showing posts with label Catatan Pendek. Show all posts

JAWATERA

Sunday, 26 January 2014
Sudah lama sekali bangsa Sumatera ingin menagih kepemimpinan atas Nusantara dari bangsa Jawa, semenjak Mahapatih Gajah Mada mengibarkan panji kepemimpinan Majapahit.
gamers12ipa8(dot)blogspot(dot)com
Di era state-nation, menjelang kemerdekaan bangsa ini dari penjajah asing, ada Tan Malaka yang begitu getol ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini dari tangan kolonial Belanda.
Dalam perjuangannya tersebut bisa kita tangkap ada misi tersembunyi dibaliknya, yaitu merebut kepemimpinan dari bangsa Jawa. Menurutnya, bangsa Minangkabau jauh lebih unggul soal budaya.
Orang Belanda berkata, "Maluku (is) het verleden, Java (is) het heden, Sumatera (is) de teokomst -- Kebesaran Indonesia dahulu terletak di Maluku, sekarang di Jawa, nanti di Sumatera."
Kata yang megandung makna metafora ini, oleh Tan Malaka ditafsirkan sebagai berikut; Sumatera yang pelopor, Jawa yang sekarang dan hari depannya Indonesia, boleh jadi sekali kembali ke Sumatera.
Dalam sejarah paska-kemerdekaan bangsa kita juga terjadi hal yang sama --pembelotan anggota TNI dan pemberontakan PRRI di Sumatera, hingga DI/TII dengan motif yang sama: Merebut kepemimpinan dari bangsa Jawa.
Akibat dari itu, PSI dan Masyumi dibekukan oleh Presiden Soekarno, karena keterlibatan beberapa tokoh utama dua partai tersebut dalam tragedi pemberontakan yang kita kenal dengan istilah "Permesta".
Namun yang perlu digaris bawahi di sini adalah "cara apa yang hendak dipakai untuk memperebutkan kepemimpinan tersebut"; Apakah dengan cara konstitusi atau non-kontitusi?
Kalau perebutan tsb memakai cara-cara yang sah secara konstitusi dan moderat saya yakin semua orang Jawa akan legawa, tapi kalau cara yang dipakai adalah non-konstitusi dancenderung fundamentalis, mengadakan propaganda belah bambu dan pemberontakan, saya ragu kalau orang Sumatera sendiri akan mendukung tindakan gegabah itu! (*)
 __________


dimuat di situs Komunitas Pelajar Indonesia (kompi.org)
Read more ...

Doa R.M.Sosrokarto

Wednesday, 2 October 2013


R.M.Sosrokartono


Gusti enkang Moho Agung, Gusti enkang Moho Kuwoso!

Mugi - Mugi kaparingan kabeh enkang dados maksut lan kajatipun umat kabeh.

Mugi-Mugi mentolo welas lan ngapuraning Gusti dumateng umat sedoyo.

Gusti, Gusti, mugi kersoho dawahaken samudraning berkah dateng para umat, nyirnakaken sagunging susah lan sakit, paring wewahing sayang lan senengipun kawulo.
Welas, welas Gustining Jagad. Waras, waras kersaning Allah. 
(Amin)
Read more ...

KORBAN POLITIK ADU DOMBA

Sunday, 29 September 2013
tempodotcom

Pada tahun 1965 seorang anggota lekra yang sedang bertugas di Kolombo dipersona-non-gatra-kan oleh  pemerintah setempat. Menyusul kemudian tragedy 1 oktober 1965 yang mempersulit hidupnya. Empat tahun kemudian ia tertangkap dan di‘buru’kan bersama kader-kader PKI lainnya.

Dalam buku memoar yang ia tulis terdapat dialog yang menarik. Dialog ketika seorang tonwal menggiring para tapol menuju baraknya:

“Parlente! Saya tahu, orang dari Jawa semua pinter-pinter.. masa kamu sekolah es-er!
"Itu Pak tua, dulu sekolah apa?” tanya si tonwal kemudian kepada tapol lainnya.
“Pondok (pesantren) Pak.”
“Bagaimana kamu islam jadi Komunis?!”

Pak tua hanya diam. Percakapan berhenti. Sebab tahu, percuma jika menjawab. Ia bergegas berjalan menyusul teman-temannya yang masih muda.

Memang mengherankan ada seorang santri lulusan pesantren yang kemudian menjadi kader PKI. Ini sangat berseberangan, setidaknya dengan Film G 30,s PKI yang sering kita saksikan di layar televisi. Bagi anak-anak era 90-an pasti masih lekat film tersebut dalam ingatannya.

Dalam film yang diputar setiap 30 september untuk memeringati peristiwa berdarah tersebut, ada scane adegan yang bertentangan dengan jawaban pak tua. Satu adegan dimana para masa PKI menyerbu warga yang sedang berjamaah di suatu Mushalla. Terlihat dengan bengisnya anggota PKI membantai membabi buta, seluruh yang berada di langgar mati, tak terkecuali seorang kyai yang menjadi imamnya.

Adegan tersebut menggambarkan tragedi brentrokan fisik yang terjadi antara santri pro-replubik dan abangan pro-komunis. Sejarah perang saudara yang mengenaskan. Sejak bentrokan kudeta madiun, sampai gerakan gestapu (setelah aksi landreform) jumlah korban diperkirakan mencapai 250.000 jiwa, kebanyakan dari golongan komunis

Terlepas dari benar dan salah, perang saudara tersebut adalah peristiwa terburuk dalam sejarah kemerdekaan bangsa kita. Perang Saudara juga tak mewariskan apa-apa selain kerugian bagi diri sendiri, dan keuntungan bagi fihak lain.

Paska perang saudara dan lengsernya Bung Karno, Presiden Richard Nixon berkata "Indonesia adalah hadiah terbaik asia tenggara untuk Amerika".

Jelas sudah. Secara tidak langsung darah saudara-saudara kita, telah kita donorkan cuma-cuma untuk kelangsungan hidup negara lain. --Negara-Negara yang hampir mati karena kehabisan darah di Perang Dunia II.

Pada akhir jabatan Soeharto (sekitar tahun 1995-1996), Gus Maksum (selaku pelaku sejarah) mendatangi istana Negara, meminta untuk menghentikan pembohongan publik. Beliau meminta kepada presiden Soeharto untuk meluruskan sejarah. Tidak lama setelah itu, Soeharto lengser dari kursi kepresidenan, dan Film G 30s PKI tidak pernah lagi ditayangkan.

“Di daerah kami, tentara menangkapi anggota komunis dan kemudian membawa mereka ke lokasi tertentu, biasanya tempat yang dekat dengan sungai. Komandan banser akan mengirim anak buahnya ke sana untuk membunuh mereka. Dan itulah yang boleh dilakukan oleh Banser.” - Pengakuan dari pelaku sejarah lainnya. Dikutip dari buku Ijtihad Politik Ulama, Lkis.

Dalam pembantaian kader dan simpatisan komunis, kebanyakan tidak ada perlawanan dari korban. Mereka sadar betul akan ideologi yang mereka yakini, mereka menghadapinya dengan keyakinan sepenuhnya, bahwa yang mereka pilih adalah benar; social dan keadilan yang merata. Bukan pasrah dan terpaksa, melainkan lilah, dan senang hati. Karena mereka sadar, pembunuhan tersebut adalah fitnah.

“Biarlah orang-orang menganggap saya komunis, namun di mata Tuhan saya tetap pemeluk islam” kata Tan Malaka, sebagai pembelaan atas tuduhan atheis terhadap dirinya.

Perlu diketahui; komunis di  Indonesia adalah ideology politik, bukan (murni) theology dan keyakinan agama (atheis).

Asalkan dalam keadaan Islam, aku tidak perduli lagi bagaimana cara matiku. Demikian saya kutip satu bait dari syair arab klasik untuk menggambarkan keadaan mereka (korban-korban) pada saat terjadi pembantaian. Semoga al-Qatil wal Maqtul fil Jannah (pelaku dan korban masuk surga), mengingat keduanya merupakan korban politik adu domba.


Kudus, 6 Mei 2012
Read more ...

Terima Kasih, Kekasih.

Saturday, 8 June 2013
Terima kasih untukmu kekasih - kuucap dengan lisan yang meresap dari sanubari - atas waktu dan kesempatan yang kau luangkan untukku. Masih ingatkah kau, saat seratan pertamaku datang dengan segala kebimbangan dan keputus-asaan,  engkau balas dengan tegas penuh semangat, engkau lerai derai dan engkau padamkan kobaran api dalam hati, engkau bisikan tulisan lembut padaku “aku berharap setelah datangnya surat ini engkau bisa lebih tenang.  Ya… itu harapanku!” – kira kira seperti itu yang kau tulis dalam surat singkatmu.

Terimakasih
. Engkau telah menemaniku melewati badai, walupun kedatanganmu sendiri sempat mengguncang jiwaku. Aku sadar, terkadang music melo membawa perasaan menjadi sedih, dan music banjo akan mudah membuat sesorang melompat menari kegirangan. Aku sadar,  jika kebahagiaan dan kesedihan acapkali senantiasa beriringan berkunjung dalam kehidupan kita. Namun sayangnya, kita tidak mampu menahan ekspresi saat keduanya datang; mengeluh saat musibah dan berlebihan saat bahagia.
Read more ...