![]() |
| www.tate.org.uk |
Konon katanya; di negeri mataram kuno terdapat suatu daerah yang dihuni
kawanan burung. Daerah tersebut Semacam hutan kota. Semacam hutan lindung yang
berada di pinggir desa Asmaratunggal. Daerahnya sangat aman dari macam ancaman
pemangsa sehingga banyak jenis-jenis burung yang bias kita temui di sana.
Pada suatu ketika, ada Burung Onta
dan Burung Pipit sedang menjalin asmara. Kehidupan mereka di hutan
Asmaratunggal cukup damai, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota. Tapi tak
berlangsung lama kebersamaan mereka itu. Sebab si Pipit adalah kawanan Burung
yang selalu berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya. Mengejar musim dan
iklim untuk bertahan hidup. Akhiirnya si Papit meminta ijin untuk berkelana.
Pada suatu hari, tatkala pipit akan pergi, ia meminta ijin pada burung onta dan
berkata, “Wahai kakak, Burung Onta sayangku! Doakan gadis kecilmu inin. Sebab
esok hari ia sudah harus pergi. Untuk belajar terbang. Belajar mencari penghidupan.
tatkala nanti hutan-hutan sudah ditebang habis, tinggal gunung-gunung telanjang
dan dataran lapang. Tatkala tak ada lagi pohon-pohon berbuah manis dan padang
sabana yang banyak menyediakan makanan seperti di sini.”.
Si Onta yang mengetahui konsekuensinya
jika mencintai pipit, akhirnya mengijini. Sebenarnya hatinya was-was, tak
tega melihat burung sekecil pipit harus menghadapi kemungkinan buruk dalam
pengembaraannya. Dengan nada yang agak mengambang si Onta berkata, “Jika itu
perintah orang tuamu sebaiknya kau berangkat. Sebab tiada yang lebih utama
dalam hidup ini melebihi menurut perintah. Kau lebih utama dari seorang perwira
yag mendapat mandat seorang raja. Raja memerintah hanya dengan kekuasannya,
sedangkan orang tuamu memerintah dengan kasih sayangnya. Adikku, jika
memang harus pergi? Pergilah. itu juga untuk kebaikanmu.”.
