Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Keografi Puisi Kartini: Empati, Simpati, Cinta, Persaudaraan dan Persahabatan

Monday, 20 April 2015
وَ الَّذينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَ الْإيمانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ وَ لا يَجِدُونَ في‏ صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَ يُؤْثِرُونَ عَلى‏ أَنْفُسِهِمْ وَ لَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ وَ مَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

يَاأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّاوَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَاتَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءًفَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ



Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

***

Sebuah moment…
Sebuah momentum seperti malam ini yang terjadi
Di negeriku salju berguguran dalam lamunan
Apakah karena dingin yang tak tertahankan?
“ Entahlah…….. entahlah……. “

                Beberapa gelandangan dengan pakaian lusuh
                Menggigil kedinginan di depan tok oserba ada
                Mereka saling berdesakan, mencari hangat
                Dari diri sendiri

Orang-orang tak peduli, begitu juga aku
Saraf empatiku membeku, dan tak acuh
Kepada betapa dingin yang mereka rasakan

                Lalu……
                Ketika sebuah ban bekas terbakar
                Api menyalurkan panas pada alam sekitar
                Tubuh merekapun menjadi hangat

Aku terdecak,
Tersadar oleh pelajaran yang berharga
Yang tiba-tiba diajarkan alam semesta
Ternyata, benda tak berharga itu
Lebih bermanfa’at ketimbang aku’
; ia lebih tahu makna “Persaudaraan”
Yang sedia terbakar untuk kehangatan orang lain
; ia lebih tahu makna “Persaudaraan”
Yang sedia muksa untuk kelangsungan hidup lainnya

                Tak seperti kata “Persaudaraan”
                Yang telah kehilangan energy, aku berusah membakarnya
                Agar tidak lagi dingin dan beku

Tanpa berpikir panjang
Aku lepas sal dan mantel, dan
Aku lemparkan pada nyala api yang semakin meredup
Agar pengorbanan ban bekas tak sia-sia

Dan semoga saja :
 “Api persaudaraan tetap berkobar menyala-nyala penuh semangat “

Tanpa peduli dingin
Aku pergi bertelanjang dada
Menuju tempat yang lebih mulia
“ Empati, Cinta, dan Persaudaraan “

  ***                                                                                                             

Ibu kita Kartini
Putri yang suci
Putri yang merdeka
Cita-citanya


Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia


***

KEPADA KAWAN-KAWAN KAMI

Apakah gerangan yang menyebabkan manusia,
Sebelumnya tak saling mengenal, sejenak
Saling memandang, lalu berkehendak
Tak akan terpisah selama-lamanya?

                Apakah gerangan yang menharukan hati,
                Waktu mnedengar bunyi suara,
                Tidak pernah didengar sebelumnya,
                Lama bak rekuiem berdesing ditelinga kami?

Apakah gerangan yang membuat jiwa,
Dalam gembira ria melambung tinggi,
Membuat hati hebat berdetak?
Bila sepasang mata, manis
Menatap mata kami
Dan kami terima jabat tangan hangat

                Tahukah kau, samudera biru
                Yang mengombak dari pantai ke pantai ?
                Tahukah kau berkata kepadaku
                Apa dasar keajaiban itu, wahai ?

Katakan kepadaku, angin bersayap cepat,
Dari tempat-tempat jauh kau datang
Apakah gerangan yang tak dipanggil datang
Selama-lamanya mengikat hati kuat-kuat?

                Wahai ! katakan, Surya emas bercahaya-cahya,
                Sumber cahaya dan panas Alam semesta nan Kuasa
                Apa gerangan keajaiban besar itu namanya,
                Yang membuat hati dengan nikmatnya,
                Melembutkan, melupakan duka
                Yang menhampiri kita didunia?

Sinar matahari menembus dedaunan,
Jatuh pada pasang naik gelombang
Menjadi serba berkilauan disekitar, serba terang
Dibawah sinar cahya matahari keemasan
Permainan permai dari cahaya dan warna
Disaksikan mata nan gembira ria
Dan dari dada yang terharu dalam
Membumbung Puji Syukur yang Salam !

                Bukan satu keajaiban, melainkan Tiga !
                Berkilauan diatas indung mutiara yang cair
                Dengan huruf berlian tertulis oleh cahya
                “ Cinta, Persahabatan, Simpati “

Cinta, Persahabatan, Simpati
Riak ombak menggumam menirukan,
Bayu dipepohonan menirukan
Kepada anak manusia yang bertanya,

                Manis, terbelai telinga yang mendengarkan
                Oleh nyanyian gelombang dan angin nan ajaib
                “ Diseluruh Nusantara, bahkan diseluruh Dunia…
                Jiwa yang sama akan berjumpa !”

Jiwa yang sama tak memandang warna
Tak memandang pangkat dan tingkat
Tetapi tangan berjabat
Dalam apapun jua !

                Dan bila jiwa telah berjumpa,
                Tak dilepaskan lagi ikatan
                Yang mengikatnya. Dan dalam hal apa jua
                Meski waktu dan jarak, tetap setia

Suka duka ditanggung bersama
Demikian sepanjang hidup
Duahi ! bahagia nian bertemu dengan jiwa nan sama
Telah tersua harta terkudus

***

 
Ibu kita Kartini
Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya
Karena cintanya


Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia



*Disadur dari Al-Qur'an, Puisi Mohammad Mujab, Puisi R.A.Kartini,
Lagu Ibu Kita Kartini WR.Supratman.
Read more ...

Ya Hmmm...

Saturday, 7 February 2015


Ya Hmmm..
Yang Maha Permai
Semailah dalam jiwa
Setiap anak manusia
Cinta damai

Ya Hmmm..
Yang Maha Lembut
Berlembut-lembutlah
Kepada sahaya
Lembut melembut
Dalam kelembutan
Paduka

Oh, ah..
Yang Maha Hmmmm
Adem, ayem lan tentrem
dalem ing ngarsa Panjenengan,
Ya Hmmmm..


*Kudus, 2014









Read more ...

Surat Kepada Banjir III

Tuesday, 21 January 2014
smartnews(dot)com









 Aduhai,
Apa lagi yang bisa aku sampaikan?
Aku lelah, Basah dan kuyub
Menggigil kedinginan
Namun secercah harapan
masih tersisa kepadamu

Kepadamu wahai hujan
kepadamu wahai banjir
Semoga engkau bukan bencana
seperti yang dikira banyak orang
semoga engkau bukan Adzab
malapetaka dari Tuhan
Semoga bukan engkau

Wahai engkau hujan
Wahai engkau banjir
Semoga engkaulah air suci
yang diutus Tuhan dari langit
yang bersumber dari surga;
bengawan salsabil dan sungai nabi
untuk membasuh kotaku: Kudus
Bersih nan suci kembali


Jekulo Kudus 21/01/14

Read more ...

Surat Kepada Banjir II

Wednesday, 15 January 2014
kompasiana(dot)com







Kepada langit biru;
Berhentilah terharu
Cukup sudah kamu menangis
Kepada bumi Manado,
bumi Jakarta, seluruh Nusantara;
Telanlah banjir
Surutkan air bah!
Kepada bumiputera;
Engkaulah putera bumi,
Jangan durhakai lagi Ibu pertiwi
Jagalah bumimu!
Kepada hutan:
Jangan tebang pohonmu,
Kepada sungai:
Jangan buang sampahmu!
Kepada musibah;
Cukup sudah kutukanmu.
Kepadamu, Wahai banjir bandang;
Cukup sudah!
Read more ...

Tembang Semarak

Saturday, 21 September 2013

Esok-Esok ing kuto Semarak, katon wadon ayu teng belalak  
Lirkadyo embun katerawang petak, ajer peraupaning ugo sumanak

He,  Nduk Cah Ayu! Jo mung seneng macak. 
Mbok yo sertani laku ing tumindak. 
Mulo wong wadun ora mung masak, ora mung macak, ora mung manak

Becik ing wadon Nagarining tegak, raharja ing Bangsa selamet ing balak.
Wohing among(a)sih arane Anak, mergo saking Sibu tumuhing watak


Pada suatu pagi di bulan Oktober 2011.
teruntuk kota tercinta, Kudus.
Read more ...

aku benci

Monday, 1 July 2013

facebook.com

aku benci

aku benci pada waktu yang membuatku menunggunya
aku benci pada jarak yang membuatku jauh darinya
aku benci pada bayu yang tak membawa balasan salamku untuknya
aku benci pada film romance yang makin mengingatkan aku padanya
aku benci pada malam yang mengantarkan aku untuk bermimpi tentangnya

aku benci...
aku benci...

benciku padamu saat kau asyik dengan duniamu
benciku padamu saat lama tak kudengar tawamu
benciku padamu saat rindu tak lagi menggelayuti hatimu
benciku padamu saat otakmu berhenti berpikir tentangku
benciku padamu saat airmataku mengalir karnamu
benciku padamu saat hatiku resah tak jelas arah

aku benci...
aku benci...
dan aku benci..

benci kepada perasaan benciku sendiri yang memanggang hati
benci kepada cinta yang masih menyisakan benci dalam diri manusia

Ya
Aku benci itu!


*Jakarta-Kudus, 27-28 Juni 2013
Read more ...

Gadis Pencuri Pepaya

Monday, 17 June 2013
Siang semrawut, debu-debu menggeliat kepanasan, mencari seteguk air kendi
tak dapat, sebab semua tlah dikalengkan serupa brendi: semua jadi instan

Dahulu,
tanahair bermurah hati, banyak kendi, berjejer diatas pagar,
nunggu pejalankaki ketelak, benarbenar segar,
minuman gratis tanpa bayar

Namun sekarang
adakah kesegaran tersedia pada jambuair,
yang gemrandul menggoda di pinggir jalan
Masih adakah mangga tetangga,
yang jadi obyek kenakalan masaremaja?
tak ada, tak ada bukan !
bahkan kenakalan sekarang sudah dikemas sedemikian rupa
Read more ...

Cerita Anak Adam

Sunday, 9 June 2013
engkaulah anak manusia

bagiku, memahamimu bagai tengah malam 
mencari anak semut hitam, menghindar darimu 
sesulit menghindar dari sergapan angin topan  
dan kemudian terjepit di antara keduanya
sesak, seolah hidung tak bisa menyentuh oksigen

engkaulah anak manusia..

tak akan selamanya terhimpit padat. 
pusaran beliung pasti suatu saat berhenti
dan menjatuhkan pada salah-satu dari kedua sisi
Read more ...