Mengusut Rahasia puisi Aku Gendeng Kamu

Wednesday, 26 June 2013
Usman Arrumy
 
Oleh: Usman Arumy
  Mengusut Rahasia puisi Aku Gendeng Kamu yang ditulis Moehammad Mujab

Setiap puisi mengandung penafsiran tematik, pembaca punya hak untuk mengusut rahasia yang sembunyi di balik kata. Penafsiran terus bergerak sejalan dengan tingkat penghayatan masing-masing. Itu bisa terjadi hanya terhadap pembaca yang menjadikan puisi sebagai bagian dari hidupnya. Puisi pun, sebenarnya dapat ditulis oleh seorang yang identitasnya bukan penyair, sebab puisi tidak hanya dimiliki penyair, ia dapat ditemu di mana saja, bahkan pada rambu lalu-lintas, misalnya, pada seseorang yang membaca kalimat ''Selamat datang di kota wali Demak'', ia bisa saja menetapkan sebagai puisi dengan alasan di dalam kota itu terdapat seseorang yang dicintai. Jadi cinta menjadi tolak-ukur untuk menentukan kalimat tersebut dimetaforakan sebagai puisi dalam pengertian diluar jalur asli.

Kelihatan remeh, memang. Tapi itu yang terjadi. Keadaan yang musykil dihindari bahwa kalimat yang secara empiris bukan puisi bisa secara gampang diubah hanya dengan sekali cinta. Aku menemukan dan membaca puisi yang menurutku layak untuk diusut maknanya. Judulnya Aku Gendeng Kamu, judul yang mengandung paham cinta. Gendeng, secara bahasa ia diserap dari Jawa, jika diindonesiakan akan berarti Gila.


Puisi tersebut ditulis oleh Gus Mujab, seumpama tanpa nama pena pun, ada kemungkinan besar bisa kukenali, secara gradual aku sudah mafhum dengan cara penyampaiannya, dan puisi ini menurutku, sudah bisa menjadi identitas bagi sekian banyak tulisannya.

***
Ngantukmu juga ngantukku
karena kamu adalah mataku
ketiduranmu di dekapanku
kesadaranmu di pelukanku
kejujuranmu di kepercayaanku
karena, kekasihmu ialah aku

Paragraf pertama dari keseluruhan puisi ini menjadikanku meraba, bahwa kalimat tersebut berhaluan pada referensi sistem cintanya Manshur Al-Hallaj dengan metoda Hulul-nya atau, Siti Jenar dengan teori Manunggaling Kawulo Gusti-nya. ''Ngantukmu juga ngantukku'' adalah kalimat untuk menyampaikan cinta secara samar, dua manusia yang menghendaki saling paut, saling terikat. Tak ada yang lebih penurut ketimbang ia yang sedang mengalami keadaan cinta. Jika kamu ngantuk, aku juga ngantuk. Itu cintanya sudah tak bisa diukur dengan akal, bahwa pada keumuman begitu cinta ia tak bisa menghindar dari sublimitas orang yang dicintai, bahwa melalui cinta dua benda bermanifestasi menjadi tunggal.

Setiap sesuatu memang tidak selalu membutuhkan alasan, alasan adalah penjelasan bagi deskripsi yang masih remang. Maka dari itu, Gus Mujab menjawab bait pertama dengan ''Karena kamu adalah mataku'', Kamu berarti objek utuh dari jenis afektif. Bagaimana bisa sepasang mata menjadi tubuh dalam pengertian yang utuh? Maka untuk menolak keganjilan itu, aku kembali merajuk pada hukum Licencia Poetica--hukum yang mengizinkan seorang penyair menulis dengan cara yang berbeda, bukan keluar dari hukum itu sendiri.

Bait selanjutnya pun nyaris tak ada bedanya dengan bait sebelumnya, ketiduranmu di dekapanku/
kesadaranmu di pelukanku. Tapi ada kesenjangan dengan bait yang pertama, kalau bait pertama mutlak menunggalkan dua, bait selanjutnya justru hendak memisahkannya kembali. Ketiduranmu di dekapanku, kesadaranmu di pelukanku, aku kira itu ada jarak, dekapan butuh ruang, pelukan perlu tempat; Dada. Gus Mujab nampaknya lupa atau memang sengaja berniat demikan. Akan lebih tepat jika masih bertahan pada sikap tunggal sebagaimana bait pertama, misal diganti dengan Ketiduranmu di lelapku, kesadaranmu di bangunku.

Mungkin kalimat yang kumisalkan tersebut lebih mengandung makna tunggal tinimbang diksi yang dipilih Gus Mujab itu. Kesadaran pada bait kesadaranmu di pelukanku punya dua pemahaman. Kalau yang dimaksud Kesadaran itu terjaga yang berarti tidak tidur, maka aku sepakat. Tapi jika Kesadaran itu bermaksud kewarasan, keinsafan setelah melalui tahap salah, itu akan keluar dari struktur metafora yang dirangkai dari awal. Maka dengan itu aku bertanya manakah yang dipilih, dimaksud pada diksi yang sama dengan makna yang berbeda itu?

Sifat jujur selalu memberikan efek percaya pada lain orang, menanamkan kepercayaan dengan cara jujur, kejujuran pun, tidak selalu kepada lainnya, kepada diri sendiri pun ada tuntutan untuk berlaku jujur. Itu sebabnya mungkin ada istilah ''Yang jujur, Mujur''. maka pada bait penutup dalam paragraf pertama Gus Mujab bertekad untuk memakai istilah itu; kejujuranmu di kepercayaanku/ karena, kekasihmu ialah aku. Kata Kekasih dalam kalimat tersebut menjadi alasan mengapa ia percaya, maka bisa menjadi kesimpulan sementara bahwa Kekasih adalah kejujuran itu sendiri, kekasih urung menjadi kekasih jika kejujuran tidak menjadi bagian dari asimilasi hidupnya.

***

Sebagaimana kau adalah pencarianku
aku adalah pencarianmu
karena yang kau cari adalah aku
begitu pun yang kucari adalah kamu

Paragraf kedua pada puisi ini nampaknya mulai mengalami aklasia dalam menyampaikan, jelas kalimat tersebut tidak membentuk deiksis makna penunggalan dari dua. Sebab pencarian bergantung pada jarak; kontradiksi secara redaksional dengan bait pertama dari paragraf pertama bukan? Ya, tentu. Tunggal tak butuh ruang, sementara jarak tak hanya ruang, apalagi dikaitkan dengan pencarian, maka ia menjelma lebih dari ruang. Jika hendak konsisten terhadap makna tunggal, mestinya Gus Mujab perlu mempertimbangkan lebih masak pada kalimat tersebut, misal diganti dengan; Pencarianku mengandung pengembaraanmu, jejakku menyimpan langkahmu.

Mungkin tak baik jika aku lebih jauh ikut campur dalam persoalan pemilihan diksi, sebab puisi, bagaimanapun juga, ia tergantung selera penulis, tiap penulis punya sikap untuk menentukan mana yang lebih patut untuk disertakan pada serangkaian puisi. Itu mutlak milik penulis. Akan beda keadaannya jika penulis meminta saran, merujuk ke seorang tertentu dalam rangka mempertimbangkan.

Lebih ke bawah aku kian tidak menemu makna tunggal yang semula kuterka sebagai esensi dari puisi ini; Aku adalah aku
kamu adalah kamu
kita hampir sama

Kata Hampir berarti cuma keadaan ''mendekati''. Tidak menemu. Nyaris: Ketunggalan pudar pada kalimat itu. Jika Gus Mujab meninjau ulang secara seksama, akan lebih eksak menggunakan ''Aku adalah kamu/ kamu adalah aku'' sebagai varian dari kelanjutan sikap tunggal.

Ternyata, aku salah. Pada paragraf ke tiga ini Gus Mujab lebih mengedepankan otak-atik huruf sebagai hipotesis teori pemakaian kata. Antara aku dan kamu/ hanya beda peletakan saja/ hanya beda satu huruf/ tapi aku bisa sama denganmu/ : dalam Kau. Ada sesuatu yang ganjil, mengapa Gus Mujab memakai huruf besar pada kata ''Kau''? Atau jangan-jangan obyek dari puisi ini dalah Tuhan? Musykil. Sebab jika benar yang dikehendaki adalah Tuhan, maka puisi ini akan mempunyai kelainan. Tuhan pun, bagaimanapun tafsirannya, akan menolak keadaan ''Ngantuk''.

Sesungguhnya dari awal bait pertama aku mengira kalau puisi ini bertendensi dengan tema Tunggal. Tapi kian jauh ternyata mengalami dekadensi makna Tunggal. Dari sini aku merasa gagal untuk menafsir sesuai penghayatan awalku.

Sukasuka aku, sukasuka kamu
kamu sukasuka, aku sukasuka
aku suka kamu, kamu suka aku
aku dan kamu

Alangkah redup akalku ketika menyimak kalimat tersebut, nampaknya Gus Mujab habis membaca puisinya Sutarji Calzoum Bachri, sebenarnya jika boleh jujur, aku akan menggugat Gus Mujab untuk merevisi total puisi ini, sebagaimana bait pertama; ngantukmu juga ngantukku/ karena kamu adalah mataku, Itu sudah cukup membuatku terkesima bahwa makna tunggal disitu mutlak berwujud. Tapi, seperti yang sudah kusampaikan di atas bahwa puisi, apapun jenis dan bentuknya, sepenuhnya bergantung pada selera dan keadaan ketika ia menulis. Jadi, tekadku untuk menggugat terbentur dengan pengertian tesebut.

Dengan segala hormat, aku respek pada puisi ini secara kemenyeluruhan, kritikku di atas bukan berarti menggagalkannya jadi puisi, sebab apapun motifnya itu hanya soal pendapat yang tidak cukup punya kapasitas untuk mereduksi lahir-batinnya sebuah puisi. Aku menamai ini puisi Gendeng yang ditulis dalam keadaan bingung--ketika hati dirundung cemas, cemas membuka peluang untuk masuk ke dalam keadaan tidak labil. Ketidak-labilan Gus Mujab dalam menulis puisi menjadi akalnya jadi krusial. Nyatanya, pada paragraf terakhir justru melemparkan pernyataan ''Halah mbuh, pokoknya aku gendeng kamu''.

Pada akhirnya, puisi Aku Gendeng Kamu ini kupilih menjadi opsi pertama untuk kuusut rahasianya, sebab dari sekian puisinya, aku menemukan potensi memadai dalam setiap katanya. Meski penafsiran senantiasa bergerak ke arah yang tak pernah selesai, tapi dari sini setidaknya ada upaya untuk sedikit membuka jalan menuju terang. Bahwa konflik intern dalam puisi justru terletak pada tingkat penghayatan pembaca, sebab penyair cuma berperan menulis puisi yang sebenarnya mengosongkan tema, dan pembacalah yang akhirnya mengisi tema tersebut dengan beragam penafsiran. Salam!

26 Juny 2013. Nasr City

No comments: