Pagi yang harum.
Untuk kesekian kalinya mentari muncul demi menyapa flora fauna. Dan aku
tersenyum menyambut. Ke dalam kamarku, angina berhembus melewati
celah-celah jendela, wangi, membawa aroma tubuh siapa saja. Harum nafas
gadis dan perawan di desaku nampaknya turut serta.
Diantara beribu aroma itu, aku mengenal bau harum yang sempat tercium diantaranya. Bau seperti semangat remaja. Lavender? Bukan. Tapi saya mengenali bau harum itu. Seperti wewangian kembang cengkeh dan kembang kawasan tropis lainnya. Ada unsur mawar basah yang dihembusnya, ada harum kayu gaharu yang dibawanya dari nagari papua. Aku tak mampu menjelaskan; betapa harumnya wangi yang kukenali?
Seperti aku tak bisa mengenali tubuh pemilik aroma wangi itu. Aku bagai angin sendiri yang tak mengetahui asal-usulnya, kala aku tanya,”dari manakah kau berasal?”. Tapi anehnya, angin dapat mengenali pemilik setiap bau yang dibawanya. “Kalau yang ini, bau harum tubuh gadis saparua. Aku menemukannya di negeri Nolloth, saat ia mandi untuk mempersiapkan malam pertamanya!” jelas angin tentang salah satu sumber wangi yang tak lain adalah gadis indo-portugis, Amboina. “bukan pula perempuan sunda!” sambungku memastikan; bahwa pemilik harum itu juga bukan dari daerah priangan. “lalu siapa?” tanyanya kembali. “Kalau aku tahu, pasti sudah aku katakan padamu.”
Angin menari bersama asap tembakau kretek. Mereka berdansa di dalam ruang kamarku yang telah dipenuhi cahaya mentari. Ditimpahi paduan suara burung-burung manyar melantunkan nada-nada mayor. Sudah tidak seperti tadi malam, kala burung Belo’ menyenandungkan elegi.
Angin dan asap putih adalah pasangan dansa yang serasi, menciptakan keografi cinta dan rindu, serupa peri-peri surga yang menari menyambut kedatangan penghuninya. Dan angin dan asap _tanpa kusadari_ menjelma rupa gadis yang pernah aku kenali. Mereka, angina dan asap, seperti jin-jin yang muncul dari bola ramal wanita-wanita gipsi, atau dari kaca bejana dukun-dukun jawa. “cerdas nian kau, Bayu. Kau dapat merekam semua kejadian yang pernah kau alami,” sanjungku ketika faham atas isaratnya.
Angina lalu berhenti, memberi tabik padaku, melepaskan gumpal asap. Angina tersenyum dan asap mengembang menghambur memenuhi ruangan. “Jadi bagaimana, Anak muda? Kini kau sudah tahu siapa pemiliknya bukan?” Tanya sang bayu masih berdiri tegap menunggu jawabku. “Terimakasih angina, kau sudah berkenan membawa bau harum ini padaku, dan kau juga sudi mengingatkan aku siapa pemiliknya.” Aku tertunduk malu, mengakuinya.
“Baiklah, anak muda, kini tunai sudah tugasku menyegarkan fikiranmu pagi ini. Namun sebelum aku pergi, bolehkah aku bertanya?”. “Apa itu?” sautku. “Tidak kah kau ingin mengunjungi pemilik bau harum ini? Setidaknya untuk sekadar menyapanya, mungkin?”.
Aku tertunduk, merasa malu untuk jujur menjawabnya. “Aku disini saja, Yu. Lagian setiap saat kau bisa dating dan membawakan wangi tubuhnya kan? Dan itu sudah cukup untuk ku. Untuk sekian kalinya kuucapkan, ‘Terimakasih’, Yu, kau telah berkenan membawakan harum tubuhnya. Yu, jika kau bertemu dengannya, maukah kau menyampaikan ‘salamku’ padanya?”. Bayu mengangguk, meng-iya-kan. Ia pamit, lalu pergi meninggalkan wangi dalam ruangan. Dan aku kembali sendiri.
Adalah warna-warni wangi pagi hari;.kunjungan sesaat menyenangkan; kunjungan yang mengharumkan seluruh ruangan; menyuilap sinar ultra-violet yang ditimpakan mentari pagi ini laiaknya guguran bunga lavender.
Tiba-Tiba dari balik selambu, dari balik sela-sela baju yang menggantung, dan dari setiap tempat rahasia di kamarku, tempat mereka biasa bersembunyi, sepasukan nyamuk menyerang dari segala arah, suaranya bergemuruh seperti tentara langit menyerbu kota pahlawan; dan bebaris pasukan semut dari pojok ruangan (tempat aku menyisihkan sisa makanan) berjalan menghampiriku. Semuanya berhenti di depanku, mengadu, laiaknya para buruh sedang berdemo. Suaranya riuh meneriakan aspirasi; menolak, menentang dan menyalahkan aku. “Ada apa..ada apa ini?” tanyaku coba menenangkan.
Antara sejenak kekacauan itu bisa dijinakkan. Semut merah kemudian maju mewakili rakyatnya, dan si nyamuk berbaju zebra mewakili teman-temannya, keduanya menghadap padaku. “baiklah, kalian bisa menjelaskannya sekarang?!”. Si nyamuk zebra yang tertusuk pantatnya kemudian angkat-jawab, “Jadi begini Kangmas, kami semua merasa keberatan, dan kami tidak setuju kalau Kangmas tak mengunjunginya!” lapornya. “mengunjungi siapa?” tanyaku. “Ah, Kangmas jangan pura-pura tidak tahu; barusan apa yang Kangmas bicarakan sama Bayu?” ujarnya mengingatkan.
Aku tidak berkutik. Betapa terkejutnya aku, pembicaraan yang aku kira rahasia itu ternyata disadap oleh makhluk-makhluk kecil menyebalkan. Mereka mendengar percakapanku dengan si bayu; tentang gadis yang tidak seluruhnya jawa; tidak juga sunda; pun tidak pula arab atau tionghoa; perempuan multi cultural dengan ragam budaya yang menempanya; wanita perawakan eurosia, dengan harum minyak wangi bumiputera. Atau jangan-jangan, nyamuk dan semut-semut itu telah sudah menghisap parfum manis dari tubuh perempuajn itu sebelum menghadap padaku?
“Ah, sudah..sudah..sana pada pergi kalian!” hardikku coba membubarkan barisan pendemo. “Kami akan tetap berdiri di sini, sampai Kangmas mau menjelaskan alasannya, ‘mengapa Kangmas tidak mau mengunjunginya?’” kata semut merah yang berdiri di depan ribuan kaumnya.
Ketika aku melihat betapa kepedulian makhluk-makhluk super mini ini padaku. Seperti ketika mereka (nyamuk) setiap malam bersedia membekam darah kotor dari tubuhku, dan atau seperti mereka (semut) sukarelawan pembersih sisa-sisa makanan, mungkin mereka lah satu-satunya pekerja tanpa upah yang masih ada. Fikirku, tidak ada salahnya aku menjelaskan, “Baiklah kalau itu yang kalian inginkan. Tapi janji; setelah aku jawab, kalian bersedia pulang?!”. “Siap komandan..!” jawab mereka serentak.
“Alasanku sederhana. Kalian tahu ini apa?” ujarku sambil menunjukan benda yang terselip diantara jari tangan kiri.
“Rokok..!”
“Kalau yang ini apa?”
“Kopi..!” jawab mereka tak kalah seru dari sebelumnya.
Dan aku terus ulang-mengulangnya sebagai sugesti, sampai mereka benar-benar hafal, lanyah dalam menjawab, mana yang kopi dan mana yang rokok?
“Kalau kalian sudah tahu, maka bagiku ‘rokok dan kopi’ ibarat sejoli, sepasang kekasih setia, sepasang yang selalu bersama, seperti ujaran untuk kaum mu, Mut, ‘dimana ada gula pasti ada semut’. Kalian sulit memisahkan keduanya.
“ketika setiap pagi aku duduk di sini, mereka berdua selalu setia menemaniku. karena kesetian diantara mereka, dan kesetiaan mereka berdua kepadaku, aku urung mengunjunginya,
“karena dalam sebuah kunjungan menyimpan pertemuan dan perpisahan, dan aku tidak suka perpisahan. Apalagi jika perpisahan itu terjadi antara kopi dan rokok. Lagian si bayu juga bisa membawakan wangi tubuhnya padaku 'kan? Dan itu bisa terjadi kapan saja.
“Ya, mungkin begitulah alasanku. Sudah kan? Sudah lah saatnya kalian pulang!” ujarku di akhir penjelasan kepada mereka.
Semuk dan Nyamuk kembali gaduh, kurang dapat menerima dengan penjelasanku. Dengan hati yang agak kecewa mereka melenggang terbang dan merangkak berbaris kembali ke sarangnya masing-masing. Sambil menggerutu, “Awas nanti malam, kami serbu lagi kau..!”
***
Diantara beribu aroma itu, aku mengenal bau harum yang sempat tercium diantaranya. Bau seperti semangat remaja. Lavender? Bukan. Tapi saya mengenali bau harum itu. Seperti wewangian kembang cengkeh dan kembang kawasan tropis lainnya. Ada unsur mawar basah yang dihembusnya, ada harum kayu gaharu yang dibawanya dari nagari papua. Aku tak mampu menjelaskan; betapa harumnya wangi yang kukenali?
Seperti aku tak bisa mengenali tubuh pemilik aroma wangi itu. Aku bagai angin sendiri yang tak mengetahui asal-usulnya, kala aku tanya,”dari manakah kau berasal?”. Tapi anehnya, angin dapat mengenali pemilik setiap bau yang dibawanya. “Kalau yang ini, bau harum tubuh gadis saparua. Aku menemukannya di negeri Nolloth, saat ia mandi untuk mempersiapkan malam pertamanya!” jelas angin tentang salah satu sumber wangi yang tak lain adalah gadis indo-portugis, Amboina. “bukan pula perempuan sunda!” sambungku memastikan; bahwa pemilik harum itu juga bukan dari daerah priangan. “lalu siapa?” tanyanya kembali. “Kalau aku tahu, pasti sudah aku katakan padamu.”
Angin menari bersama asap tembakau kretek. Mereka berdansa di dalam ruang kamarku yang telah dipenuhi cahaya mentari. Ditimpahi paduan suara burung-burung manyar melantunkan nada-nada mayor. Sudah tidak seperti tadi malam, kala burung Belo’ menyenandungkan elegi.
Angin dan asap putih adalah pasangan dansa yang serasi, menciptakan keografi cinta dan rindu, serupa peri-peri surga yang menari menyambut kedatangan penghuninya. Dan angin dan asap _tanpa kusadari_ menjelma rupa gadis yang pernah aku kenali. Mereka, angina dan asap, seperti jin-jin yang muncul dari bola ramal wanita-wanita gipsi, atau dari kaca bejana dukun-dukun jawa. “cerdas nian kau, Bayu. Kau dapat merekam semua kejadian yang pernah kau alami,” sanjungku ketika faham atas isaratnya.
Angina lalu berhenti, memberi tabik padaku, melepaskan gumpal asap. Angina tersenyum dan asap mengembang menghambur memenuhi ruangan. “Jadi bagaimana, Anak muda? Kini kau sudah tahu siapa pemiliknya bukan?” Tanya sang bayu masih berdiri tegap menunggu jawabku. “Terimakasih angina, kau sudah berkenan membawa bau harum ini padaku, dan kau juga sudi mengingatkan aku siapa pemiliknya.” Aku tertunduk malu, mengakuinya.
“Baiklah, anak muda, kini tunai sudah tugasku menyegarkan fikiranmu pagi ini. Namun sebelum aku pergi, bolehkah aku bertanya?”. “Apa itu?” sautku. “Tidak kah kau ingin mengunjungi pemilik bau harum ini? Setidaknya untuk sekadar menyapanya, mungkin?”.
Aku tertunduk, merasa malu untuk jujur menjawabnya. “Aku disini saja, Yu. Lagian setiap saat kau bisa dating dan membawakan wangi tubuhnya kan? Dan itu sudah cukup untuk ku. Untuk sekian kalinya kuucapkan, ‘Terimakasih’, Yu, kau telah berkenan membawakan harum tubuhnya. Yu, jika kau bertemu dengannya, maukah kau menyampaikan ‘salamku’ padanya?”. Bayu mengangguk, meng-iya-kan. Ia pamit, lalu pergi meninggalkan wangi dalam ruangan. Dan aku kembali sendiri.
Adalah warna-warni wangi pagi hari;.kunjungan sesaat menyenangkan; kunjungan yang mengharumkan seluruh ruangan; menyuilap sinar ultra-violet yang ditimpakan mentari pagi ini laiaknya guguran bunga lavender.
Tiba-Tiba dari balik selambu, dari balik sela-sela baju yang menggantung, dan dari setiap tempat rahasia di kamarku, tempat mereka biasa bersembunyi, sepasukan nyamuk menyerang dari segala arah, suaranya bergemuruh seperti tentara langit menyerbu kota pahlawan; dan bebaris pasukan semut dari pojok ruangan (tempat aku menyisihkan sisa makanan) berjalan menghampiriku. Semuanya berhenti di depanku, mengadu, laiaknya para buruh sedang berdemo. Suaranya riuh meneriakan aspirasi; menolak, menentang dan menyalahkan aku. “Ada apa..ada apa ini?” tanyaku coba menenangkan.
Antara sejenak kekacauan itu bisa dijinakkan. Semut merah kemudian maju mewakili rakyatnya, dan si nyamuk berbaju zebra mewakili teman-temannya, keduanya menghadap padaku. “baiklah, kalian bisa menjelaskannya sekarang?!”. Si nyamuk zebra yang tertusuk pantatnya kemudian angkat-jawab, “Jadi begini Kangmas, kami semua merasa keberatan, dan kami tidak setuju kalau Kangmas tak mengunjunginya!” lapornya. “mengunjungi siapa?” tanyaku. “Ah, Kangmas jangan pura-pura tidak tahu; barusan apa yang Kangmas bicarakan sama Bayu?” ujarnya mengingatkan.
Aku tidak berkutik. Betapa terkejutnya aku, pembicaraan yang aku kira rahasia itu ternyata disadap oleh makhluk-makhluk kecil menyebalkan. Mereka mendengar percakapanku dengan si bayu; tentang gadis yang tidak seluruhnya jawa; tidak juga sunda; pun tidak pula arab atau tionghoa; perempuan multi cultural dengan ragam budaya yang menempanya; wanita perawakan eurosia, dengan harum minyak wangi bumiputera. Atau jangan-jangan, nyamuk dan semut-semut itu telah sudah menghisap parfum manis dari tubuh perempuajn itu sebelum menghadap padaku?
“Ah, sudah..sudah..sana pada pergi kalian!” hardikku coba membubarkan barisan pendemo. “Kami akan tetap berdiri di sini, sampai Kangmas mau menjelaskan alasannya, ‘mengapa Kangmas tidak mau mengunjunginya?’” kata semut merah yang berdiri di depan ribuan kaumnya.
Ketika aku melihat betapa kepedulian makhluk-makhluk super mini ini padaku. Seperti ketika mereka (nyamuk) setiap malam bersedia membekam darah kotor dari tubuhku, dan atau seperti mereka (semut) sukarelawan pembersih sisa-sisa makanan, mungkin mereka lah satu-satunya pekerja tanpa upah yang masih ada. Fikirku, tidak ada salahnya aku menjelaskan, “Baiklah kalau itu yang kalian inginkan. Tapi janji; setelah aku jawab, kalian bersedia pulang?!”. “Siap komandan..!” jawab mereka serentak.
“Alasanku sederhana. Kalian tahu ini apa?” ujarku sambil menunjukan benda yang terselip diantara jari tangan kiri.
“Rokok..!”
“Kalau yang ini apa?”
“Kopi..!” jawab mereka tak kalah seru dari sebelumnya.
Dan aku terus ulang-mengulangnya sebagai sugesti, sampai mereka benar-benar hafal, lanyah dalam menjawab, mana yang kopi dan mana yang rokok?
“Kalau kalian sudah tahu, maka bagiku ‘rokok dan kopi’ ibarat sejoli, sepasang kekasih setia, sepasang yang selalu bersama, seperti ujaran untuk kaum mu, Mut, ‘dimana ada gula pasti ada semut’. Kalian sulit memisahkan keduanya.
“ketika setiap pagi aku duduk di sini, mereka berdua selalu setia menemaniku. karena kesetian diantara mereka, dan kesetiaan mereka berdua kepadaku, aku urung mengunjunginya,
“karena dalam sebuah kunjungan menyimpan pertemuan dan perpisahan, dan aku tidak suka perpisahan. Apalagi jika perpisahan itu terjadi antara kopi dan rokok. Lagian si bayu juga bisa membawakan wangi tubuhnya padaku 'kan? Dan itu bisa terjadi kapan saja.
“Ya, mungkin begitulah alasanku. Sudah kan? Sudah lah saatnya kalian pulang!” ujarku di akhir penjelasan kepada mereka.
Semuk dan Nyamuk kembali gaduh, kurang dapat menerima dengan penjelasanku. Dengan hati yang agak kecewa mereka melenggang terbang dan merangkak berbaris kembali ke sarangnya masing-masing. Sambil menggerutu, “Awas nanti malam, kami serbu lagi kau..!”
***
- Jekulo, 5 Syawal 1433 H / 23 August 2012 M
No comments:
Post a Comment