Pagi yang harum.
Untuk kesekian kalinya mentari muncul demi menyapa flora fauna. Dan aku
tersenyum menyambut. Ke dalam kamarku, angina berhembus melewati
celah-celah jendela, wangi, membawa aroma tubuh siapa saja. Harum nafas
gadis dan perawan di desaku nampaknya turut serta.
Diantara beribu aroma itu, aku mengenal bau harum yang sempat tercium diantaranya. Bau seperti semangat remaja. Lavender? Bukan. Tapi saya mengenali bau harum itu. Seperti wewangian kembang cengkeh dan kembang kawasan tropis lainnya. Ada unsur mawar basah yang dihembusnya, ada harum kayu gaharu yang dibawanya dari nagari papua. Aku tak mampu menjelaskan; betapa harumnya wangi yang kukenali?
Seperti aku tak bisa mengenali tubuh pemilik aroma wangi itu. Aku bagai angin sendiri yang tak mengetahui asal-usulnya, kala aku tanya,”dari manakah kau berasal?”. Tapi anehnya, angin dapat mengenali pemilik setiap bau yang dibawanya. “Kalau yang ini, bau harum tubuh gadis saparua. Aku menemukannya di negeri Nolloth, saat ia mandi untuk mempersiapkan malam pertamanya!” jelas angin tentang salah satu sumber wangi yang tak lain adalah gadis indo-portugis, Amboina. “bukan pula perempuan sunda!” sambungku memastikan; bahwa pemilik harum itu juga bukan dari daerah priangan. “lalu siapa?” tanyanya kembali. “Kalau aku tahu, pasti sudah aku katakan padamu.”
Diantara beribu aroma itu, aku mengenal bau harum yang sempat tercium diantaranya. Bau seperti semangat remaja. Lavender? Bukan. Tapi saya mengenali bau harum itu. Seperti wewangian kembang cengkeh dan kembang kawasan tropis lainnya. Ada unsur mawar basah yang dihembusnya, ada harum kayu gaharu yang dibawanya dari nagari papua. Aku tak mampu menjelaskan; betapa harumnya wangi yang kukenali?
Seperti aku tak bisa mengenali tubuh pemilik aroma wangi itu. Aku bagai angin sendiri yang tak mengetahui asal-usulnya, kala aku tanya,”dari manakah kau berasal?”. Tapi anehnya, angin dapat mengenali pemilik setiap bau yang dibawanya. “Kalau yang ini, bau harum tubuh gadis saparua. Aku menemukannya di negeri Nolloth, saat ia mandi untuk mempersiapkan malam pertamanya!” jelas angin tentang salah satu sumber wangi yang tak lain adalah gadis indo-portugis, Amboina. “bukan pula perempuan sunda!” sambungku memastikan; bahwa pemilik harum itu juga bukan dari daerah priangan. “lalu siapa?” tanyanya kembali. “Kalau aku tahu, pasti sudah aku katakan padamu.”
