Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Minyak Wangi Bumiputera

Monday, 17 June 2013

Pagi yang harum. Untuk kesekian kalinya mentari muncul demi menyapa flora fauna. Dan aku tersenyum menyambut. Ke dalam kamarku, angina berhembus melewati celah-celah jendela, wangi, membawa aroma tubuh siapa saja. Harum nafas gadis dan perawan di desaku nampaknya turut serta.

Diantara beribu aroma itu, aku mengenal bau harum yang sempat tercium diantaranya. Bau seperti semangat remaja. Lavender? Bukan. Tapi  saya mengenali bau harum itu. Seperti wewangian kembang cengkeh dan kembang kawasan tropis lainnya. Ada unsur mawar basah yang dihembusnya, ada harum kayu gaharu yang dibawanya dari nagari papua.  Aku tak mampu menjelaskan; betapa harumnya wangi yang kukenali?

Seperti aku tak bisa mengenali tubuh pemilik aroma wangi itu. Aku bagai angin sendiri yang tak mengetahui asal-usulnya, kala aku tanya,”dari manakah kau berasal?”. Tapi anehnya, angin dapat mengenali pemilik setiap bau yang dibawanya. “Kalau  yang ini, bau harum tubuh gadis saparua. Aku menemukannya di negeri Nolloth, saat ia mandi untuk mempersiapkan malam pertamanya!” jelas angin tentang salah satu sumber wangi yang tak lain adalah gadis indo-portugis, Amboina. “bukan pula perempuan sunda!” sambungku memastikan; bahwa pemilik harum itu juga bukan dari daerah priangan. “lalu  siapa?” tanyanya kembali. “Kalau aku tahu, pasti sudah aku katakan padamu.”

Read more ...

Bibir Seksi

Friday, 14 June 2013

Pejalanan pulang melalui jalur darat selesai menunaikan haji. Pilihan kami ini bukan tanpa alasan, guru kami pernah berpesan; kalau pun harus terbang jangan sampai hal itu membuatmu merasa tinggi.


Ingatlah bahwa di bawah sana banyak kekasih-kekasih Allah yang hidupnya sederhana. Selain itu, perjalanan darat menawarkan kepada kami tentang rihlah sejarah.

Jalur yang kami lewati antara kota suci Mekah dan Tarim melalui kota tua Sana’a, ibu kota Yaman, dan tempat bersejarah lainya seperti daerah Darwan yang terletak di sebelah barat daya Sana’a. Daerah Darwan oleh para pakar sejarah Islam diperkirakan adalah daerah pemukiman Ashabul Jannah yang disebut-sebut Allah dalam dalam kitab suci Nya. Konon, Darwan memiliki kwalitas tanah tersubur yang berada di muka bumi, sehingga tidak sedikit buah-buahan, kurma, anggur, dan berkah bumi lainnya dihasilkan dari daerah tersebut.

Pagi hari kami telah melewati perbatasan. Kala itu, urusan imigrasi di perbatasan rada tersendat, tampaknya ada sedikit masalah dengan paspor kami, sebelum akhirnya uang dapat mempermudah urusan. Dari perbatasan ke Sana’a kami menyewa travel. Biaya yang ditawarkan si sopir cukup mahal, yaitu 15 dinar. Satu dinar pada saat itu senilai sama dengan sekitar 75 ribu rupiah, atau sekitar 30 riyal. Namun setelah jadi tawar-menawar yang cukup ulet, si sopir menurunkan 1 dinar per orang. Aku, Xafi dan Umar, masing-masing membayar  120 riyal.

Read more ...