![]() |
| herman-salim.blogspot |
: Mohammad Mujab
Tulisan saya "haram hukum money politic karena melanggar uu negara" dan "money politic bukan suap" (lihat di: samansamin.wordpress.com) paling banyak dibaca dalam seminggu ini, namun dampaknya masih nihil.
Ketika teori "without money politik" kami aplikasikan untuk pendulangan suara, hasilnya belum bisa dikatakan berhasil. Dari 15 ribu suara yang kami tarjetkan, hanya mendapat sekitar 10,03% saja.
Kebanyakan masyarakat masih tak mau memilih jika tak dikasih uang. Terlepas dari haram dan tidak, nampaknya jurus sisa-sisa orde baru (money politic) itu masih sangat ampuh.
Elbert Hubbard pernah berkata, "Uang tidak pernah membodohi siapa pun, melainkan hanya menunjukkan siapakah kita?"
Dari ungkapan diatas, saya jadi menyadari, seandainya nanti -dan sudah bisa dipastikan- terjadi "korupsi" dan penyimpangan dlsb oleh penyelenggara negara, sebaiknya jangan nyinyir, dan hanya menyalahkan mereka. Salahkan diri kita. Karena semua kesalahan-kesalahan yang terjadi itu berasala dari diri kita sendiri
Allah SWT berfirman; “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11.
Sayangnya, kesempatan untuk mengubah nasib kita sebagai warga negara Indonesia baru saja berlalu. Pemilu sudah usai, dan kita masih saja berkutat dalam kubangan yang sama: masyarakat dan bangsa yang memarginalkan diri sendiri.
Kendati demikian buruk dampak dari money politic, menurut saya mereka yang menerima pemberian uang dan masih mau memilih, sedikit lebih baik ketimbang mereka yang mau menerima pemberian uang dari para caleg, tapi tidak mau memilihnya (golput).
Saya menyangka, orang-orang seperti golongan yang terakhir inilah yang menyebabkan Indonesia berhasil dijajah oleh Belanda 400 abad silam.
Akhir kata, mari belajar menjadi lebih baik, mari benahi kesalahan kita kemarin dan kesalahan masa lalu, untuk menyambut pemilu 5 tahun y.a.d sebagai pemilih yang bersih dan cerdas.
____________

No comments:
Post a Comment