Saran
untuk diri saya sendiri, dan untuk saudara sebangsa setanah-air:
Alangkah
lebih baik, jika dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan datangm kita memilih
Calon Presiden (Capres) berdasarkan "istikharah”, meminta petunjuk pada Tuhan
Yang Maha Kuasa, jangan semata-mata berdasarkan pada logika atau informasi dari
media artikel yang tak bertanggung-jawab.
Seperti
satu tahun terakhir ini, banyak artikel berseliweran di dunia maya yang
diragukan keshahihan perawinya. Menurut saya, artikel semacam itu ditulis atas
tujuan propaganda. Makar. Membuat opini miring. Saling menjatuhkan. Misalnya,
Jokowi Abangan, Antek Kafir, Prabowo Penjahat HAM.
Jika
jika mendasarkan pada opini demikian, kita akan selalu berada dalam
kebimbangan, karena kedua tokoh tersebut (berdasar opini seperti itu) tidak
layak memimpin bangsa ini. lalu, bagaimana?
Ada
pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Rasulullah SAW., yang pernah ‘’termakan’’
opini yang menyesatkan. Beliau murung sekali ketika mendengar isu bahwa istri Baginda
Rasul, Aisyah, dikabarkan telah berselingkuh dengan seorang sahabat ketika
dalam perjalanan pulang dari medan perang.
Sebagai
seorang pemimpin agama sekaligus negara, kabar tersebut tentu menjadi kabar
yang sangat memukul dan berpotensi menghancurkan reputasi dan nama baik beliau.
Untungnya, tidak lama kemudian, Allah SWT mengutus malaikat Jibril AS., untuk
menyampaikan wahyu.
Allah
berfirman: “... Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah
dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi
kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat
balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil
bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang
besar…" (QS. An-Nur : 11-21).
Hadits
al-ifki yang menimpa Rasulullah di atas, dalam dunia perpolitikan sekarang ini
justru dibenarkan; hampir semua partai politik memiliki badan tersendiri yang
mengatur soal itu, badan agitasi dan propaganda, yang bertugas menarik masa.
Dalam melakukan tugasnya, badan ini tak segan-segan membuat hadits al-ifki,
opini miring, dengan cara black campaign,
bahkan mengorbankan dua-tiga orang demi mendapatkan dukungan ribuan orang
lainnya.
Mengapa
saya berani katakan demikian? Pertama, saya pernah menjadi anggota partai
politik. Kedua: saya pernah menjadi obyek black-campaign.
Saya tidak mempersalahkan black-campaign yang merusak reputasi saya, toh saya
bukan siapa-siapa, tapi dampak buruk dari itu sangatlah merugikan teman-teman
dan saudara-saudara saya. Mereka termakan opini, dan sampai berburuk sangka.
Namun
akan jadi malapetaka yang besar, jika apa yang pernah menimpa saya itu
ditujukan kepada publik figur seperti Jokowi atau Prabowo. Saya tidak bisa
membayangkan, berapa puluh ribu orang, atau bahkan puluhan juta rakyat
Indonesia yang akan jadi korbannya. Akibatnya, bisa saja adagium (unen-unen) Jawa yang mengatakan,
"ora melu ubet, melu kebulet" akan menjadi realita.
Berdasar
ini, saya berharap semoga teman-teman dan saudara sebangsa setanah-air tidak
lagi terpancing dengan hadits al-ifki, berita bohong, apalagi kalau itu sampai
menjadi acuan kita -dan mempengaruhi pilihan- dalam menentukan pemimpin yang
akan datang.
Bukankah
Allah SWT dalam al-Qur'an telah berfirman, "... Boleh jadi kamu membenci
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai
sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216).
Maka,
lepaskan egoisme masing-masing, demi kebaikan bangsa ini di masa depan. Dengan
hati khusuk penuh pengharapan, mari bersama-sama berdoa, meminta petunjuk
kepada Tuhan; Ya Allah, demi pengetahun-Mu dan Kekuasaan-Mu, Pilihkanlah
Presiden yang baik menurut-Mu untuk kami, bangsa Indonesia..!

No comments:
Post a Comment