Istikharah Pilpres

Tuesday, 6 May 2014
Mohammad Mujab
Saran untuk diri saya sendiri, dan untuk saudara sebangsa setanah-air: 
Alangkah lebih baik, jika dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan datangm kita memilih Calon Presiden (Capres) berdasarkan "istikharah”, meminta petunjuk pada Tuhan Yang Maha Kuasa, jangan semata-mata berdasarkan pada logika atau informasi dari media artikel yang tak bertanggung-jawab.
Seperti satu tahun terakhir ini, banyak artikel berseliweran di dunia maya yang diragukan keshahihan perawinya. Menurut saya, artikel semacam itu ditulis atas tujuan propaganda. Makar. Membuat opini miring. Saling menjatuhkan. Misalnya, Jokowi Abangan, Antek Kafir, Prabowo Penjahat HAM.
Jika jika mendasarkan pada opini demikian, kita akan selalu berada dalam kebimbangan, karena kedua tokoh tersebut (berdasar opini seperti itu) tidak layak memimpin bangsa ini. lalu, bagaimana?
Ada pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Rasulullah SAW., yang pernah ‘’termakan’’ opini yang menyesatkan. Beliau murung sekali ketika mendengar isu bahwa istri Baginda Rasul, Aisyah, dikabarkan telah berselingkuh dengan seorang sahabat ketika dalam perjalanan pulang dari medan perang.
Sebagai seorang pemimpin agama sekaligus negara, kabar tersebut tentu menjadi kabar yang sangat memukul dan berpotensi menghancurkan reputasi dan nama baik beliau. Untungnya, tidak lama kemudian, Allah SWT mengutus malaikat Jibril AS., untuk menyampaikan wahyu.
Allah berfirman: “... Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar…" (QS. An-Nur : 11-21).
Hadits al-ifki yang menimpa Rasulullah di atas, dalam dunia perpolitikan sekarang ini justru dibenarkan; hampir semua partai politik memiliki badan tersendiri yang mengatur soal itu, badan agitasi dan propaganda, yang bertugas menarik masa. Dalam melakukan tugasnya, badan ini tak segan-segan membuat hadits al-ifki, opini miring, dengan cara black campaign, bahkan mengorbankan dua-tiga orang demi mendapatkan dukungan ribuan orang lainnya.
Mengapa saya berani katakan demikian? Pertama, saya pernah menjadi anggota partai politik. Kedua: saya pernah menjadi obyek black-campaign. Saya tidak mempersalahkan black-campaign yang merusak reputasi saya, toh saya bukan siapa-siapa, tapi dampak buruk dari itu sangatlah merugikan teman-teman dan saudara-saudara saya. Mereka termakan opini, dan sampai berburuk sangka.
Namun akan jadi malapetaka yang besar, jika apa yang pernah menimpa saya itu ditujukan kepada publik figur seperti Jokowi atau Prabowo. Saya tidak bisa membayangkan, berapa puluh ribu orang, atau bahkan puluhan juta rakyat Indonesia yang akan jadi korbannya. Akibatnya, bisa saja adagium (unen-unen) Jawa yang mengatakan, "ora melu ubet, melu kebulet" akan menjadi realita. 
Berdasar ini, saya berharap semoga teman-teman dan saudara sebangsa setanah-air tidak lagi terpancing dengan hadits al-ifki, berita bohong, apalagi kalau itu sampai menjadi acuan kita -dan mempengaruhi pilihan- dalam menentukan pemimpin yang akan datang. 
Bukankah Allah SWT dalam al-Qur'an telah berfirman, "... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah :  216).
Maka, lepaskan egoisme masing-masing, demi kebaikan bangsa ini di masa depan. Dengan hati khusuk penuh pengharapan, mari bersama-sama berdoa, meminta petunjuk kepada Tuhan; Ya Allah, demi pengetahun-Mu dan Kekuasaan-Mu, Pilihkanlah Presiden yang baik menurut-Mu untuk kami, bangsa Indonesia..!

No comments: