“Al-’alamu haditsun, wakullu haditsin lahu muhditsun (Alam Raya adalah barang baru, setiap barang yang baru, pasti ada penciptanya).”
Inilah manthiq (logika) dasar yang saya pelajari di madrasah dulu, sebagai dalil akan adanya Tuhan. Adapun kemudian Tuhan itu dinamakan “Allah”, itu bukan empan ilmu logika, melainkan berasal tauqifiyyah (ilmu yang diajarkan) Rasulullah, yang bersumber dari wahyu.
Namun untuk mengenal (makrifat) Sang Pencipta alam raya yang bernama Allah, tidaklah semudah belajar ilmu manthiq dan ilmu aqidah (teologi). Seseorang membutuhkan perjalanan spiritual yang sangat panjang untuk sampai di titik tersebut! Paling tidak, inilah yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim as dan Datuk Ibrahim Tan Malaka.
***
Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim as) melihat sebuah bintang, lalu dia berkata; ini Tuhanku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata; saya tidak suka kepada yang sirna (tenggelam). Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata; inilah Tuhanku.
Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata; sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia matahari terbit, dia berkata; inilah Tuhanku. Ini yang lebih besar. Maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata; hai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am 76-78).
Pada permulaan pencarian Tuhannya, Nabi Ibrahim hampir seperti masyarakat Mesir pada umumnya, yang berkeyakinan bahwa matahari adalah Tuhan. Karena Matahari lah yang paling besar di antara apa yang mereka anggap Tuhan sebelumnya, yaitu bulan dan bintang.
Namun ketika Matahari itu terbenam, maka ia (Ibrahim) menyadari bahwa Matahari bukanlah Tuhan yang sesungguhnya, karena dia (matahari) tidak mampu mempertahankan kekuasaannya dan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari kegelapan (afilin).
Demikian sekilas cerita yang disampaikan dalam al-Qur’an tentang kesangsian Nabi Ibrahim terhadap Tuhan Matahari yang oleh orang-orang Mesir pada waktu itu mereka sebut Dewa Rah. Dan apa dilakukan (terjadi) pada Nabi Ibrahim ribuan tahun lalu, itu terjadi pada orang yang bernama sama, yaitu Datuk Ibrahim, atau yang lebih dikenal dengan Tan Malaka dalam Madilog-nya.
Dalam bukunya, Datuk Ibrahim Tan Malaka menulis;
Demikianlah firman Maha Dewa Rah:
Ptah : maka timbullah bumi dan langit.
Ptah : maka timbullah bintang dan udara.
Ptah : maka timbullah sungai Nil dan daratan.
Ptah : maka timbullah tanah-subur dan gurun.
Dewa Rah tak perlu menunggu-nunggu, seperti pak tani menunggu-nunggu padinya sesudah benihnya ditanam. Kalau dia mesti menunggu, maka ini berarti, bahwa dia pasti takluk pada Sang Waktu. Jika begitu maka Maha Dewa Rah bukanlah terkuasa. Ringkasnya, Maha Dewa Rah itu terkuasa, tidak takluk kepada Zat dan waktu. Jika begitu, maka Maha Dewa Rah bukanlah terkuasa. Ringkasnya, Maha Dewa rah itu terkuasa, tidak takluk kepada Zat dan waktu
Datuk Ibrahim Tan Malaka yang banyak dipengaruhi “teori evolution” Darwin, juga Karl Marx, Kant, Lenin dan filsuf kiri lain, meyakini, dalil alam lah yang lebih Maha kuasa ketimbang Dewa Rah. Alasannya, kekuasan alam raya lebih bisa dibuktikan ketimbang tahayul kaum mistik, tentang maha kuasanya Dewa Rah yang sekali sabda jadilah apa yang dikehendaki.
Oleh karenanya, kemudian Datuk Ibrahim Tan Malaka mengemukakan argumen sederhana -yang ia sebut sebagai undang desa- untuk membantah logika mistika yang secara tidak langsung, sama saja membunuh kemahakuasaan Tuhan (baca: Dewa Rah.)
Pertama-Pertama Datuk Ibrahim Tan Malaka terlebih dahulu membagi kekuasaan Sang Maha Kuasa Dewa Rah menjadi tiga andaian:
1.Jari jempol; Dewa Rah Lebih kuat dari alam.
2.Jari telunjuk; Dewa Rah sama kuatnya dengan alam dan undangnya
3.Jari kelingking; Dewa Rah kurang kuasa dari alam dan undangnya.
Argumen pertama yang dipakai Datuk Ibrahim Tan Malaka untuk membantah terhadap yang pertama, andaian jari jempol (Dewa Rah lebih kuasa dari Alam dan Undangnya), adalah dengan menggunakan Undang (teori) Ilmu perbintangan, Newton;
Menurut Newton jutaan Bintang dan Bumi beredar menurut Undang yang pasti. Undang itu diakui syah, dipelajari di sekolah, dan dipakai oleh Ahli Bintang buat menghitung hal yang berkenaan dengan bumi dan bintang.
Kata Tan Malaka, kalau undang alam yang dilukiskan oleh Newton itu jatuh, ataupun satu menit saja berhenti, maka kacau balaulah jutaan bumi dan bintang tadi. Tetapi selama Ilmu Pasti lahir dan ahli-ilmu-pasti memperhatikan jalannya Bumi dan Bintang ini, belumlah satu saat juga undang gerakan bintang itu dapat perkosaan. Belum pernah Maha Dewa RAH – yang mestinya masih ada menahan matahari naik, atau mencegah matahari turun Pasti Rah tak akan bisa.
Peralaman(Experimenten/Tajribah) yang dijalankan dalam Laboratorium pada 5 benua di muka bumi ini belum pernah memungkiri Undang yang dikenal, dalam Ilmu Kodrat (Mekanika) Ilmu Alam, Ilmu Pisah dll.
Undang alam itu terus jalan dengan tetap pasti, tak perduli, di waktu mana ataupun tempat mana juga. Dimana saja, bila saja undang itu dilaksanakan, dia berjalan tetap terang. Seperti pepatah Indonesia: “Terang, bersuluh bulan dan matahari, bergelanggang di mata orang banyak.” Pasti pula Maha Dewa Rah tak akan bisa merubah jalannya undang itu, pasti tak bisa! Tegasnya.
Seorang pemikir nakal pernah berkata: yang kuat di alam ini mengalahkan yang lemah. Undang Alam ini sudah termasuk ke dalam common sense. “Ini semut’’,katanya pula, “ini jari saya, lebih kuat dari semut itu’’, katanya terus. “Kalau ada Kodrat, yang bisa mencegah Alam menjalankan Undangnya, tolonglah semut ini’’, katanya yang penghabisan.
Pada saat itu juga ditekankannya jari pada semut yang lemah tadi. Semut tadi pasti mati. Quot erat demonstandum. Demikianlah dibuktikan kebatalannya andaian ke 1 tadi. (baca: dewa Rah lebih kuasa dari undang alam, tapi kenyataannya Ia tida mampu menyelamatkan nyawa si semut dari tekanan jari jempol)
Kedua, andaian jari telunjuk (Dewa Rah sama kuasanya dengan alam). Kalau begitu apa gunanya menyembah Dewa Rah? (toh kita sama derajat dengan Dewa Rah!). Dewa Rah tidak diketahui jalannya. Dia adalah satu kegaiban yang maha besar.
Sedang alam bukanlah semuanya gaib, sudah banyak diketahui undangnya, jalannya. Boleh dilihat akibatnya dan disimpulkan segala buktinya. Ditunjukkan kebenarannya dengan tak pernah mungkir. Boleh dipakai undangnya itu buah keselamatan dan kesenangan hidup. Jadi lebih baik sembah junjung dan puja alam saja, barang yang nyata itu.
Seandainya Maha Dewa RAH tak menyetujui hal ini, maka dia boleh memerangi alam dan kalau perlu berjuang, mengukur kekuatan dengan alam. Karena kekuatan RAH dan Alam itu seperti sudah kita andaikan (dengan jari telunjuk) tadi sama kuatnya, maka kita makhluk yang hina ini boleh menjadi penonton saja. Kita tak perlu takut. Dewa Rah tak akan bisa untuk memerangi kita penonton. Karena DIA sibuk dan tak bisa lepas dari gelutan, sepak-terjang, terlak serta kuntauannya alam yang sama-kuat dengan Dewa Rah itu.
Ketiga, andaian jari kelingking; Seandainya kemungkinan ini (dewa Rah kurang kuasa dari alam) benar, maka kita ingat pada nasibnya Dr. Frankenstein (tokoh fiksi dalam novel “The Modern Prometheus” karya Mary Shelley). Dia, seperti kita tahu, membikin seorang raksasa. Dia menghidupkan kembali dengan jalan Ilmu Listrik satu mayat. Tetapi otaknya mayat itu, ialah otaknya seorang bangsat.
Raksasa yang dihidupkan ini menjadi musuh mati-matian Dr. Frankenstein. Sang dokter terpaksa lari bersembunyi saja, tak sanggup menentang buatannya sendiri. Kasihan pula kita kalau Dewa Rah membikin Alam yang lebih berkuasa dari pembikin, ialah Rah sendiri, sampai terpaksa lari bersembunyi.
Dr. Frakenstein bisa mencari tempat bersembunyi. Tetapi kemanakah Dewa Rah akan bersembunyi? Bukankah semua yang ada ialah alam yang takluk pada undangnya alam? Demikianlah menurut kemungkinan yang terakhir ini Maha Dewa Rah mestinya takluk pada Alam. Sebagai bukti, ialah dimana saja dan pada waktu mana saja undangnya alam tak pernah dan tak bisa dapat bantahan.
Demikianlah tiga argumen Datuk Ibrahim Tan Malaka -yang saya kutip- terhadap logika mistika. Argumen terhadap dewa Rah tsb mengindikasikan bahwa Tan Malaka tidak percaya kepada Tuhan. Tapi apakah ia benar-benar “tidak percaya dengan keberadaan Tuhan”?
Sebelum saya lanjutkan lebih jauh lagi, saya ingin mengambil ibrah (percontohan) dari sirah (kisah) Nabi Ibrahim As. beberapa ribu tahun lalu, yang terekam baik dalam al-Qur'an surat Al-Anbiya ayat 63.
Dalam sebuah kesempatan yang tidak diketahui orang, Nabi Ibrahim as. merusak berhala-berhala yang menjadi simbol dewa-dewa masyarakatnya pada waktu itu. Nabi Ibrahim melakukannya dalam keadaan benar-benar sadar, dan menyadari bahwa beliaulah yang nanti bakal jadi tersangka, dan pada saat menjadi terdakwa itulah nantidia bisa menyampaikan argumennya (hujjah).
Pada saat didakwa. "Ibrahim menjawab; sebenarnya patung yang besar yang melakukannya, maka tanyakanlah pada berhala (patung besar) itu, Jika mereka dapat berbicara." (Qs. Al-Anbiya 63).
Lantas saja, semua orang yang hadir pada waktu persidangan itu kelimpungan, bingung, terhentak dengan argumen cerdas yang sangat logik. Tentu saja mereka baru menyadari, bahwa patung besar yang mereka sembah selama ini, tidaklah Maha Kuasa seperti yang diyakini. Untuk berbicara saja berhala itu tak mampu, apalagi memberikan manfaat dan menolak mudarat. Bahkan menjaga diri sendiri saja berhala-berhala itu tak mampu.
Argumen yang disampaikan Nabi Ibrahim itu -menurut pembacaan saya- hampir sama dengan argumen yang disampaikan Ibrahim Datuk Tan Malaka dalam Madilognya. Pada bab Logika Mistika dikatakan bahwa “ketika Yang Maha Kuasa Dewa Rah tidak dapat menyelamatkan hidup semut yang sedang dalam ancaman jari jempol seseorang yang menekannya”.
Lalu bagaimana dengan Datuk Ibrahim Tan Malaka; Apakah dia seorang atheis yang tidak percaya adanya Tuhan?
Menjawab pertanyaan ini, saya membandingkan terlebih dahulu antara apa yang dialami Datuk Ibrahim Tan Malaka dengan apa yang dialami Nabi Ibrahim as dalam masa-masa labil, masa pencarian jati diri, pencarian Tuhan, atau yang dalam bahasa Tan Malaka disebut “pancaroba”.
Dalam masa pancaroba itu Nabi Ibrahim as masih belum mantap benar --bukannya ia tak percaya kepada adanya Tuhan, namun dalam hatinya masih ada sedikit kebimbangan; kalau memang Tuhan itu ada, lalu siapakah Tuhan itu?
Kebimbangan itu bisa kita lihat pada ayat 76-78 yang sudah saya tulis dipermulaan; tentang perenungan Nabi Ibrahim yang mempertanyakan legitimasi ketuhanan bintang, bulan dan matahari sebagai entitas yang dipertuhankan masyarakatnya?
Ternyata, setelah melewati perenungan, Nabi Ibrahim sadar bahwa Tuhan bukan lah semua benda yang mengalami perobahan (afilin) seperti bulan bintang dan matahari, dan patung-patung itu.
Dalam lanjutan ayatnya dikisahkan, ketika menemukan keyakinannya, Nabi Ibrahim pun berkata; "Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan condong kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan," (QS.al-An'am 79). Yaitu seperti orang-orang mesir pada waktu itu yang mempersekutukan Tuhan dengan patung Dewa Rah, bintang dan bulan.
Meski demikian, Nabi Ibrahim belumlah mencapai titik haqqul yaqin (keyakinan sejati), sehingga kemudian di akhir perjalanan spiritualnya Ibrahim as. berdoa lagi agar diperlihatkan kekuasaan-Nya, "...Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana (cara) Engkau menghidupkan orang-orang (yang sudah) mati. Allah berfirman (bertanya); belum imankah kamu (Ibrahim)? Ibrahim menjawab; Ya (saya sudah yakin). Akan tetapi supaya hati saya semakin mantap." (al-Baqarah 260).
Kiranya pembahasan tentang Nabi Ibrahim saya rasa sudah cukup, kita anggap selesai di sini. Nah, baru saatnya saya masuk ke soal Datuk Ibrahim Tan Malaka. Apakah ia percaya kepada Tuhan? Apakah ia percaya terhadap adanya Tuhan?
Kepercayaan (iman) sejatinya adalah privasi yang hanya diketahui pemiliknya sendiri, sehingga dalam hal ini, Datuk Ibrahim Tan Malaka sendiri lah yang tahu ia percaya Tuhan atau tidak.
Hanya, pada ranah intelektual, saya memiliki hak untuk membaca, menafsirkan, mengidentifikasi, bahkan memastikan aliran pemikiran dan keyakinan seseorang berdasar karya ilmiah yang ditulis. Sebab, dari buah pikirannya seseorang bisa diketahui corak ideologi dan teologisnya.
Sebagai bahan analisa, saya mencoba mencuplik beberapa frasa secara melompat-lompat dari bab Soal Islam dalam Madilog-nya Datuk Ibrahim Tan Malaka, dan saya bagi menjadi tiga bagian teori standar ilmu logika; premis minor, premis mayor dan konklusi;
Pada lompatan pertama (premis minor) saya kutip tulisan Datuk Ibrahim Tan Malaka berikut ini; ... Demikianlah pada Muhammad SAW, 'Ketunggalan Tuhan' itu ke-esa-an Tuhan itu sampai ke puncak, tak ada kesangsian seperti yang melekat pada agama nasrani pada masa Muhammad SAW. Tentangan terhadap agama (pen: Yahudi dan) Nasrani itu dikeraskan dan dijelaskan pada satu juz yang pendek, tetapi dianggap terpenting sekali oleh muslimin; bahwa Tuhan Tunggal tak memperanakan (pen: Nabi Uzair dan Nabi Isa AS.) dan tidak diperanakkan ... (Qul Hu Allahu Ahad..dst)
Allah, menurut Logika, tentulah tiada bisa "Maha Kuasa" Kalau tidak segenap manusia, segenap jam dan detik dapat menentukan nasib manusia. Segenap detik Dia bisa perhatikan matahari berjalana, bintang dan bumi beredar.
Setiap detik pun tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia dimatikan. Sebaliknya, manusia janganlah Takut menghadapi marabahaya apapun juga. Kalau yang Maha Kuasa itu belum lagi memanggil. Di dunia Islam hal ini dinamai takdir Tuhan. Di dunia barat hal ini dikenal dengan pro-destination.
Di Lompatan kedua (premis mayor) saya kutip tulisan Datuk Ibrahim Tan Malaka berikut ini; ... Sarinya tulisan itu, kalau diperhubungkan dengan keesaan Tuhan ialah jika seperseribu detik saja yang maha kuasa itu membatalkan bumi kita ini, menarik matahari, dan meletus serta hancur luluhkan kita kejurusan matahari yang panas terik itu.
Kalau sekiranya seperseribu satu detik saja, yang Maha Kuasa itu bisa membatalkan Undang Tolak-Tariknya sekalian bintang matahari dan bumi di alam raya ini. Seperti semua kereta diperhentikan dalam satu kota pada saat, maka kita manusia, hewan dan benda yang sekarang lekat pada bumi ini akan tarikan bumi akan terpelanting ke awang-awang terus menerus terbangnya.
Pada lompatan terakhir (konklusi), saya kutipkan berikut ini: ... Jadi menurut Madilog yang Maha Kuasa itulah lebih kuasa dari Undang Alam. Selama Alam dan Alam Raya Itu ada selama itulah pula Undangnya Alam Raya Itu berlaku. Menurut Undang Alam Raya itu, bendanya itulah mengandung Qodrat. Dan menurut undang itulah caranya benda itu bergerak berpadu berpisah menolak menarik dan sebagainya.
Dari kutipan di atas, kiranya pembaca bisa menyimpulkan apakah Datuk Ibrahim Tan Malaka itu seorang monotheis yang Percaya Tuhan sebagaimana Nabi Ibrahim AS dalam pengembaraan spiritualnya, atau sebaliknya, Datuk Ibrahim Tan Malaka adalah seorang atheis yang tak percaya Tuhan? Wallahu a'lam.
_______________
Mohammad Mujab,
Dimuat di situs Komunitas Pelajar Indonesia, kompi.org

No comments:
Post a Comment