Sore yang hujan,
di atas kursi mungil aku duduk ditemani
segelas kopi
Hujan mereda merendam basah sebidang tanah
Hujan mereda merendam basah sebidang tanah
tempatku bermain semasa kecil
Aku masih tetap duduk,
yang dicipta untuk mengenang masa lalu
Meski hujan merebut tanah tempatku bermain,
Meski hujan merebut tanah tempatku bermain,
namun di sana masih ada jejak kakiku
berlari mengejar layang-layang
Meski gemuruh tak pernah berhenti menakuti,
Meski gemuruh tak pernah berhenti menakuti,
aku pun tak takut untuk terus bermimpi
Ketika bola berhasil aku dapat,
serangan datang bertubitubi merintangi,
namun aku berusaha mempertahankan;
mengkocek kanan-kiri melewati lawan
Impian itu berusaha aku giring
mendekati tiyang gawang,
tak pernah aku lepas, meski
alam turut serta menumpahkan hujan
Aku tak peduli,
Aku tak peduli,
aku terus bermain
menggiring bola ke ujung senja
Sebagai seorang selalu,
yang dicipta untuk mengenang masa lalu,
aku menolak lupa masa kecil dulu
Jika di masa itu alam tak bisa
menghentikan langkah kita,
mengapa sekarang kita mudah putus asa "mengapa?"
No comments:
Post a Comment