Sebuah sajak untuk Ibu Pertiwi;
Pecah di sudut mata
menghujani pipi
menghapus pancaroba
tak pernah kering
dan mata sembab di mana-mana
oleh rindu,
oleh cinta.,
oleh apa saja
air mata,
mata air yang tak pernah kering.
mengalir sepanjang masa
baik suka, di riang bahagia
baik duka, di nestapa derita
tetapi sesungguhnya,
air-mata ini, adalah tangis rakyat jelata
yang sedih meratapi nasib tanah-airnya
hujan di Nusantara
bagai tangis Bumiputera
menangisi Ibu Pertiwi sepanjang hari
yang tak henti-hentinya diperkosa
dan dikorupsi
* * *
Mohammad Mujab
St.Sewonegoro, Jekulo, Kudus 2/3/2012
No comments:
Post a Comment