Alex Komang dan Pernikahan Quraisyi

Monday, 16 February 2015
"Al-jinsu anis" Sejenis itu terasa nyaman. Begitulah adagium Arab menggambarkan, betapa manusia itu tidak bisa nyaman tanpa sejenisnya. 

Suatu ketika Adam a.s. merasa gelisah hidup di surga. Kanan-kiri hanya melihat malaikat dan bidadari. Padahal semua telah tercukupi. Dia meminta kepada Tuhan agar diciptakan teman yang sejenis. Maka diciptakanlah Hawa. Sejak saat itu ia merasa bahagia. Ia tak peduli, jika pada akhirnya harus diusir dari surga.

Pada perkembangan sejarah umat manusia, Para ulama fikih, utamanya madzhab Syafi'i menekankan perlunya kufu (sederajat) antara pria dan wanita yang akan melangsungkan pernikahan. Bukan soal kasta, yang mengklasifikasi masyarakat, dan pembelaan ulama terhadap kaum bangsawan dan feodalisme. Melainkan kepedulian mereka terhadap keberlangsungan hubungan umat dalam pernikahan dan kehormanisan di tengah-tengah rumah tangganya. Maka para ulama fikih mengkodefikasi hukum "kufuah" dalam bab Nikah yang menunjang terciptanya tujuan itu.

Syariat Islam sendiri dalam al-Qur'an cukup jelas membahas tentang pernikahan. Bahkan semua bentuk pernikahan disinggung di dalamnya; pernikahan inter-regional, inter-nasional, inter-religio, dlsb tidak ada yang kelewatan, hampir semuanya dibahas --baik secara eksplisit (kinayah) melalui cerita-cerita para nabi dan umat terdahulu, dan implisit (sharih) dalam bentuk teks-teks "khitab".

Namun meski demikian, al-Qur'an menekankan, adanya "keharmonisan" dalam sebuah hubungan pernikahan. Salah satunya dengan cara memilih pasangan yang tepat; "dan tidaklah seorang hamba sahaya yang mukmin itu lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun mempesona." Dalam ayat lain juga diperintahkan agar menikah dengan perempuan yang baik, "fankihuu ma thaaba lakum,". Inilah beberapa alasan yang menurut saya menjadi landasan soal kufuah.

Suatu ketika saya berbincang-bincang dengan Alex Komang tentang masalah keluarga. Pada waktu itu kami hampir mengalami nasib yang sama. Hanya saja kami berbeda posisi. Dia sebagai suami dan seorang, dan saya sebagai seorang anak.

Dalam perbincangan itu diia mencoba memandang arif bijaksana dalam menyikapi problem rumah-tangga. Tidak semuanya "problem" terjadi karena adanya kesalahan yang dilakukan dari pihak istri maupun lelaki. Baginya "pernikahan itu kenyamanan", dimana sakinah mawadah warahmah adalah syarat rukunnya. Jika satu saja tidak tercipta dalam rumah tangga, ini bisa menjadi suatu problem.

Seperti telah saya singgung di atas, al-jinsu anis, kufuah, adalah penunjung utama. Syarat inilah yang tidak ada dalam pernikahan beliau. Hingga akhirnya menjadi hilang-nya salahsatu rukun yang menyangga rumah tangga Alex Komang. Masalahnya cuma sepele, pernikahan inter-nasional, perbedaan kewarganegaraan dengan budaya hidup yang berbeda. "Karena saya sudah tidak mampu membahagiakannya" kata sanepo Alex Komang mengindikasikan alasan di atas.

Bukan soal fisik, ekonomi, pekerjaan dan faktor-faktor lainnya, melainkan hanya si istri tidak betah tinggal di Indonesia dan Alex Komang dengan idealisnya tidak bisa meninggalkan tanah-air yang dicintai. "Maka kami memutuskan berpisah. Sedih memang. Tapi itu sebuah resiko yang harus kita terima untuk kebaikan masing-masing." Ujarnya dengan menepis perasaan.

Saya hanya bisa diam. Merasakan kesedihan yang sama. Melihat kenangan pilu pada dinding kamar tempat anaknya yang dipenuhi poster-poster tanpa penghuni. Di mana sekarang keceriaan itu? "Anak saya memilih hidup bersama ibunya di Malaysia" jawab beliau.

Mungkin Alex Komang meyakini, bahwa Pernikahan Quraisyi (campuran); inter-cultural, inter-national, penyilangan gen, akan melahirkan tokoh-tokoh besar. Itulah salah satu harta yang paling berharga yang bisa diwariskan Alex Komang kepada anak-anaknya.

*disarikan dari sisa memori, 6 Ramadlan 2010
Read more ...

Ya Hmmm...

Saturday, 7 February 2015


Ya Hmmm..
Yang Maha Permai
Semailah dalam jiwa
Setiap anak manusia
Cinta damai

Ya Hmmm..
Yang Maha Lembut
Berlembut-lembutlah
Kepada sahaya
Lembut melembut
Dalam kelembutan
Paduka

Oh, ah..
Yang Maha Hmmmm
Adem, ayem lan tentrem
dalem ing ngarsa Panjenengan,
Ya Hmmmm..


*Kudus, 2014









Read more ...

Istikharah Pilpres

Tuesday, 6 May 2014
Mohammad Mujab
Saran untuk diri saya sendiri, dan untuk saudara sebangsa setanah-air: 
Alangkah lebih baik, jika dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan datangm kita memilih Calon Presiden (Capres) berdasarkan "istikharah”, meminta petunjuk pada Tuhan Yang Maha Kuasa, jangan semata-mata berdasarkan pada logika atau informasi dari media artikel yang tak bertanggung-jawab.
Seperti satu tahun terakhir ini, banyak artikel berseliweran di dunia maya yang diragukan keshahihan perawinya. Menurut saya, artikel semacam itu ditulis atas tujuan propaganda. Makar. Membuat opini miring. Saling menjatuhkan. Misalnya, Jokowi Abangan, Antek Kafir, Prabowo Penjahat HAM.
Jika jika mendasarkan pada opini demikian, kita akan selalu berada dalam kebimbangan, karena kedua tokoh tersebut (berdasar opini seperti itu) tidak layak memimpin bangsa ini. lalu, bagaimana?
Ada pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Rasulullah SAW., yang pernah ‘’termakan’’ opini yang menyesatkan. Beliau murung sekali ketika mendengar isu bahwa istri Baginda Rasul, Aisyah, dikabarkan telah berselingkuh dengan seorang sahabat ketika dalam perjalanan pulang dari medan perang.
Sebagai seorang pemimpin agama sekaligus negara, kabar tersebut tentu menjadi kabar yang sangat memukul dan berpotensi menghancurkan reputasi dan nama baik beliau. Untungnya, tidak lama kemudian, Allah SWT mengutus malaikat Jibril AS., untuk menyampaikan wahyu.
Allah berfirman: “... Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar…" (QS. An-Nur : 11-21).
Hadits al-ifki yang menimpa Rasulullah di atas, dalam dunia perpolitikan sekarang ini justru dibenarkan; hampir semua partai politik memiliki badan tersendiri yang mengatur soal itu, badan agitasi dan propaganda, yang bertugas menarik masa. Dalam melakukan tugasnya, badan ini tak segan-segan membuat hadits al-ifki, opini miring, dengan cara black campaign, bahkan mengorbankan dua-tiga orang demi mendapatkan dukungan ribuan orang lainnya.
Mengapa saya berani katakan demikian? Pertama, saya pernah menjadi anggota partai politik. Kedua: saya pernah menjadi obyek black-campaign. Saya tidak mempersalahkan black-campaign yang merusak reputasi saya, toh saya bukan siapa-siapa, tapi dampak buruk dari itu sangatlah merugikan teman-teman dan saudara-saudara saya. Mereka termakan opini, dan sampai berburuk sangka.
Namun akan jadi malapetaka yang besar, jika apa yang pernah menimpa saya itu ditujukan kepada publik figur seperti Jokowi atau Prabowo. Saya tidak bisa membayangkan, berapa puluh ribu orang, atau bahkan puluhan juta rakyat Indonesia yang akan jadi korbannya. Akibatnya, bisa saja adagium (unen-unen) Jawa yang mengatakan, "ora melu ubet, melu kebulet" akan menjadi realita. 
Berdasar ini, saya berharap semoga teman-teman dan saudara sebangsa setanah-air tidak lagi terpancing dengan hadits al-ifki, berita bohong, apalagi kalau itu sampai menjadi acuan kita -dan mempengaruhi pilihan- dalam menentukan pemimpin yang akan datang. 
Bukankah Allah SWT dalam al-Qur'an telah berfirman, "... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah :  216).
Maka, lepaskan egoisme masing-masing, demi kebaikan bangsa ini di masa depan. Dengan hati khusuk penuh pengharapan, mari bersama-sama berdoa, meminta petunjuk kepada Tuhan; Ya Allah, demi pengetahun-Mu dan Kekuasaan-Mu, Pilihkanlah Presiden yang baik menurut-Mu untuk kami, bangsa Indonesia..!

Read more ...

Evaluasi "Teori Without Money Politic" Paska Pemilu (2014)

Saturday, 19 April 2014
herman-salim.blogspot


: Mohammad Mujab

Tulisan saya "haram hukum money politic karena melanggar uu negara" dan "money politic bukan suap" (lihat di: samansamin.wordpress.com) paling banyak dibaca dalam seminggu ini, namun dampaknya masih nihil. 

Ketika teori "without money politik" kami aplikasikan untuk pendulangan suara, hasilnya belum bisa dikatakan berhasil. Dari 15 ribu suara yang kami tarjetkan, hanya mendapat sekitar 10,03% saja. 

Kebanyakan masyarakat masih tak mau memilih jika tak dikasih uang. Terlepas dari haram dan tidak, nampaknya jurus sisa-sisa orde baru (money politic) itu masih sangat ampuh. 

Elbert Hubbard pernah berkata, "Uang tidak pernah membodohi siapa pun, melainkan hanya menunjukkan siapakah kita?" 
Read more ...

Jejak Nabi Ibrahim a.s. dan Datuk Ibrahim Tan Malaka Mencari Tuhan

Monday, 3 March 2014
“Al-’alamu haditsun, wakullu haditsin lahu muhditsun (Alam Raya adalah barang baru, setiap barang yang baru, pasti ada penciptanya).”
Inilah manthiq (logika) dasar yang saya pelajari di madrasah dulu, sebagai dalil akan adanya Tuhan. Adapun kemudian Tuhan itu dinamakan “Allah”, itu bukan empan ilmu logika, melainkan berasal tauqifiyyah (ilmu yang diajarkan) Rasulullah, yang bersumber dari wahyu.
Namun untuk mengenal (makrifat) Sang Pencipta alam raya yang bernama Allah, tidaklah semudah belajar ilmu manthiq dan ilmu aqidah (teologi). Seseorang membutuhkan perjalanan spiritual yang sangat panjang untuk sampai di titik tersebut! Paling tidak, inilah yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim as dan Datuk Ibrahim Tan Malaka.
                                                                                                    ***
Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim as) melihat sebuah bintang, lalu dia berkata; ini Tuhanku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata; saya tidak suka kepada yang sirna (tenggelam). Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata; inilah Tuhanku.
Read more ...